Tee Thiam Hauw, Mendalang Mengayomi Hati

Written by
HiomerahBaginya, mendalang menjadi sarana menentramkan dan mengayomi hati orang lain. Sebagai keturunan Tionghoa, dia pernah terharu melihat budaya Tionghoa mendapat kebebasannya kembali.

Meski di tubuhnya mengalir darah Tionghoa, kecintaan pria ini terhadap budaya Jawa tak perlu dipertanyakan lagi. Sudah sekitar setengah abad, Tee Thiam Hauw malang-melintang sebagai dalang wayang kulit.

Selain masyarakat luas, pengakuan juga diberikan oleh Kraton Yogyakarta dengan menganugerahinya gelar Ki Mas Lurah Cermo Radyo Harsono. Pernah pula pada 1995 mendapat kehormatan bertemu Presiden Soeharto bersama beberapa dalang lainnya.

Kecintaan dalang yang dikenal dengan nama Ki Radyo Harsono ini pada wayang kulit sudah teruji lewat ratusan pementasan. Dari yang hanya ditonton puluhan orang sampai ribuan orang. Bahkan seringkali hanya mendapat bayaran berupa ucapan terimakasih dari penanggapnya.

Semua dilakukan dengan rasa suka karena aktivitasnya mendalang memang berangkat dari rasa suka tersebut. Selain itu, mendalang adalah bagian sumbangsihnya untuk menentramkan atau mengayomi hati orang lain. Dengan niat tersebut, maka dia tidak mematok tarif khusus, asal orang lain senang.

“Asal yang nanggap tidak keberatan, dan saya tidak rugi,” kata Radyo Harsono kepada wartawan media ini di tempat tinggalnya, Jalan Lettu Sugiarno, Muntilan, Magelang, Jawa-Tengah, beberapa waktu lalu.

Apalagi bila penanggapnya adalah orang yang punya ujar atau nadzar namun tidak memiliki cukup biaya, soal harga Radyo bersedia menyiasatinya. Baginya, yang penting saling jujur, jangan bohong kalau sebenarnya memiliki biaya cukup.

“Kalau bohong bisa berbahaya, bisa membawa bencana. Karena bagi orang Jawa, wayang itu mengandung doa,” lanjut Radyo.

Tentang mujarabnya doa serta kesakralan pementasan wayang kulit dia pernah mengalaminya sendiri. Waktu itu dia diundang mendalang dalam rangkaian upacara bersih desa di Dukuh Ngino, Seyegan, Sleman.

Pagi hari seusai pementasan, tiba-tiba pohon beringin besar di dekat panggung terbakar. Api yang anehnya berasal dari atas membakar habis pohon sampai menjadi gundukan abu.

“Banyak yang bilang bila pertunjukan wayang diterima dan bisa membahagiakan Mbah Bregas, cikal bakal dusun tersebut,” kenang Radyo.

Pada 1995, Ki Radyo Harsono mendapat kesempatan diundang dan bertemu Presiden Soeharto di Istana Negara.

Pementasan seperti itu jelas membawa kepuasan tersendiri bagi Radyo Harsono. Meski sering pula kesan mendalam dia rasakan dari ratusan pementasan yang pernah dilakukan.

“Namun ukurannya bukan jumlah penonton. Meski hanya ditonton puluhan orang, kalau selama pementasan mereka nggatekke, menyimak jalannya cerita, itu bisa membuat saya terkesan,” ungkapnya.

Pada 1990, selama dua bulan Radyo diundang mendalang di beberapa kota di Amerika Serikat (Los Angeles, Barkley, Washington, New York, dan Boston) sebagai bagian misi kebudayaan Kraton Yogyakarta. Ini juga menjadi pementasan yang mengesankan bagi dirinya, karena warga Amerika sangat apresiatif, meski harus melalui penerjemah untuk menikmatinya.

Darah Canggah

Radyo Harsono lahir di Muntilan, sebuah kota kecamatan di wilayah Kabupaten Magelang, pada 22 Juni 1960. Rumah tempatnya lahir terletak di sebelah timur pasar (Jalan Klangon atau Jalan Lettu Sugiarno sekarang), yang juga digunakan ayahnya berjualan sembako, Toko Mergo Rukun.

Ayah Radyo, Tee Giok Koen, sangat dikenal oleh masyarakat Muntilan dan sekitarnya. Mereka mengenalnya dengan sebutan Bah Gundul. Orang lebih suka menyebut Toko Mergo Rukun dengan Toko Bah Gundul, bahkan ketika Tee Giok Koen telah meninggal dunia.

Radyo Harsono lahir dengan nama Tee Thiam Hauw, sebagai anak ke-2 dari sembilan bersaudara. Ibunya bernama Oei Tjian Nio. Di tubuh Radyo sebenarnya mengalir darah Jawa dari garis ayahnya.

Nenek ‘canggah’ (lima generasi di atasnya) Radyo adalah perempuan asli Bantul, Jogjakarta. Menurut Radyo, justru dari nenek canggahnya itu, darah seni mengalir di tubuhnya.

Darah seni mengalir di tubuh Ki Radyo dari nenek canggahnya.

“Menurut cerita keluarga, saudara nenek canggah saya itu ada yang jadi dalang,” ungkap Radyo.

Ayah maupun kakeknya sendiri hanya sebatas penggemar wayang kulit, seperti kebanyakan orang di masa itu. Kecintaannya pada wayang berawal dari ajakan sang nenek menonton pertunjukan wayang kulit di sekitar rumahnya.

“Saya waktu itu umur kira-kira 6 tahun. Menjelang subuh, saat wayang sudah mau selesai, saya digendong nenek menuju tempat pementasan,” kenangnya.

Seperti anak-anak lain, setelah melihat wayang, Radyo kecil juga minta dibelikan wayang mainan yang memang banyak dijajakan di lokasi pertunjukan. Dengan wayang mainan yang terbuat dari kardus itu, Radyo kecil bermain dalang-dalangan bersama teman sebayanya.

Saat bermain dalang-dalangan itu, dia sering menyebut dirinya sebagai Ki Radyo Harsono. Sebuah nama yang terus dipakainya saat Radyo benar-benar menjadi dalang kelak kemudian hari.

“Radyo itu artinya dunia. Harsono berarti gembira. Sekedar menggambarkan kegembiraan pada  masa anak-anak,” ungkapnya.

Seiring bertambahnya usia, setiap ada pementasan wayang, Radyo mulai diajak menonton sejak sore hari. Tidak sampai malam, bahkan sebelum wayang mulai sudah diajak pulang.

Mendapat gelar Ki Lurah Cermo Radyo Harsono dari Kraton Yogyakarta pada 2010.

“Tidak sampai malam karena ngantuk. Tapi melihat wayang dijajar dan gamelannya saja sudah sangat senang,” kenang Radyo.

Kegemarannya bermain wayang tetap tidak berubah, meski mainan jenis baru banyak bermunculan. Saat kelas 5 SD, kesukaannya terhadap wayang bahkan semakin bertambah. Ia ingin benar-benar bisa memainkannya.

Sebuah keinginan yang untungnya mendapat restu dari orang tua. Seorang sahabat ayahnya kemudian menyarankan Radyo belajar mendalang pada Ki Hardjo Soekarto, dalang tua di Desa Koplak, Muntilan.

Kesempatan pentas pun hadir ketika Radyo duduk di bangku kelas 6 SD. Saat itu, sekolahnya, SDK. St. Yosep, akan meresmikan bangunan yang habis direnovasi. Salah seorang guru yang mengetahui dia belajar mendalang pun memintanya untuk pentas di acara peresmian itu.

“Itulah pentas pertama saya. Waktu itu siang hari, saya pentas sekitar 4 jam. Lakonnya kalau ndak salah ingat, Wahyu Purbo Sejati,” kenang suami Sisca Tri Setyaningsih ini. .

Pentas pertama itu dan pentas-pentas selanjutnya diiringi oleh para pengrawit teman-teman Ki Hardjo Soekarto. Ki Hardjo sendiri menjadi penabuh gendangnya.

Radyo merasakan pertama pentas malam ketika duduk di kelas 3 SMP (Marganingsih). Saat itu di acara Agustusan di Dusun Semali, Pucungrejo, Muntilan, dengan lakon ‘Wahyu Pancasila’.

Meski sangat cinta dengan budaya Jawa, Radyo mengaku tetap menghormati budaya Tionghoa, budaya leluhurnya.

Lulus SMP, Radyo bingung mau melanjutkan sekolah di mana. Hingga dia memutuskan untuk ikut kursus pedalangan di Kraton Yogyakarta.

Namun atas saran KRT Suryo Asmoro, pengageng kursus tersebut, dia kemudian mendaftar di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Konservatori Yogyakarta jurusan pedalangan.

Sebenarnya dia sudah terlambat dari jadwal tahun ajaran baru. Atas bantuan KRT. Suryo Asmoro, yang juga guru di sekolah tersebut, dia berhasil masuk, meskipun tetap harus mengikuti tes tertulis dan ketrampilan.

“Dalang Cina”

Lulus SMKI pada 1981, dia melanjutkan ke Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI, cikal bakal ISI) Yogyakarta. Waktu itu masuk jurusan karawitan karena jurusan pedalangan baru direncanakan akan didirikan. Namun setelah dua semester jurusan pedalangan belum juga dibuka, Radyo memutuskan untuk kembali ke Muntilan.

“Tapi waktu itu masih wira wiri Muntilan – Yogya, karena sering diminta teman untuk membantu pementasan. Lagi pula keadaan Muntilan waktu itu sepi kehidupan seni, tidak seperti saat saya masih kecil,” jelas Radyo.

Pada 1983, atas jasa salah satu guru SMP-nya, muncul tawaran untuk pentas di daerah Sawangan, Magelang. Undangan mendalang ke daerah ini terus berlanjut sampai berkali-kali yang membuat namanya semakin dikenal. Orang mengenalnya dengan sebutan ‘dalang cina’.

Karir Radyo di dunia pedalangan semakin menanjak setelah diminta TVRI Yogyakarta mengisi acara pentas acara wayang satu jam. Dari sini namanya semakin dikenal orang sehingga tanggapan terus mengalir. Sebutan ‘dalang cina’ pun semakin melekat padanya.

Oleh para penggemar dan para pecinta wayang kulit, Radyo Harsono dikenal dengan sebutan ‘dalang cina’.

Bahkan ada beberapa desa yang fanatik ‘memakai’ dirinya untuk mengisi upacara adat Saparan atau Ruwahan. Seperti masyarakat Desa Salakan dan Jogoyasan yang sudah puluhan kali mengundangnya.

Meski kecintaannya pada budaya Jawa, khususnya seni pedalangan, tak diragukan lagi, Radyo mengaku tetap menghormati budaya leluhurnya. Dia begitu terharu ketika melihat budaya Tionghoa kembali bisa dipentaskan setelah puluhan tahun dilarang.

“Sambil menggendong Jessica yang baru berumur 5 tahun, saya melihat pentas barongsay di Kelenteng Muntilan. Terharu sekali, sampai menitikkan air mata,” pungkas ayah dari Seravina, Rico, Monica, Jessica, Roy, dan Theona ini.  HK.

 

1 2 3 4 5 6

Article Tags:
Article Categories:
Sosok

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares