Tan Sin Ko, Panglima Perang Lasem Berjimat Kepala Singa

Written by
Hiomerah – Ia menjadi panglima laskar gabungan Tionghoa dan Jawa melawan VOC saat Geger Pacinan 1740-1743. Memiliki jimat patung kepala singa dari emas, meski akhirnya ia tewas dan dipenggal kepalanya.

Tan Sin Ko adalah salah satu pahlawan Perang Lasem. Bersama Raden Panji Margono, Adipati Oei Ing Kiat, Tan Kei Wei, dan Kyai Ali Badawi, ia memimpin prajurit gabungan Tionghoa dan Jawa melawan pasukan VOC.

Pada 1742, Tan Sin Ko yang lebih dikenal dengan sebutan Singseh, tewas dipenggal kepalanya oleh Belanda. Beratus-ratus tahun kemudian makamnya ditemukan tak terawat di tengah-tengah areal persawahan wilayah Dusun Dondong, Desa Dorokandang, Kecamatan Lasem, Rembang, Jawa Tengah.

Penemuan makamnya bermula ketika Paguyuban Warga Lasem (Pawala) Jakarta tengah membuat Monumen Perang Lasem di TMII, 7 tahun lalu. Ketika itu mereka mendapat saran dari Daradjadi (penulis buku ‘Perang Sepanjang 1740-1743 Tionghoa-Jawa Lawan VOC’), untuk mencari makam Tan Sin Ko.

Mengawali pencarian mereka mengumpulkan informasi-informasi seputar bong-bong kuno di Lasem. Berdasar informasi dari Forum Komunikasi Masyarakat Sejarah (Fokmas) Lasem, makam Tan Sin Ko akhirnya ditemukan.

Keberadaannya tak terawat, ditumbuhi semak belukar, dan hanya menyisakan tumpukan batu bata tua. Menurut warga sekitar, beberapa bagian makam yang terbuat dari batu granit telah dijarah orang.

Posisi makam cukup aneh, arah hadapnya membelakangi laut, menghadap ke sebuah bukit. Arah hadap yang tak lazim dalam tatacara pemakaman Tionghoa.

Sebenarnya masyarakat sekitar telah lama mengetahui keberadaan makam yang lokasinya cukup jauh dari pemukiman tersebut. Mereka menyebutnya sebagai makam Singseh dan mengeramatkannya.

“Orang-orang ya menyebutnya sebagai makam Singseh gitu saja. Orang-orang tua dulu cuma bilang kalau yang dimakamkan disitu orang hebat. Sebelum dibersihkan seperti sekarang, banyak yang datang kesini minta nomor,” kata Jarwati, warga Dusun Dondong, sambil tersenyum.

Saat ini yang datang ke makam bukan orang-orang yang berburu nomor judi. Berganti warga Tionghoa yang ingin mendoakan sang pahlawan. Dua hari setelah ditemukan oleh Pawala dan Fokmas, sebuah upacara sederhana bahkan digelar di depan makam.

Hadir dalam upacara penghormatan itu beberapa kerabat Kraton Mangkunegaran, Surakarta. Bersama warga Tionghoa dari Pawala, mereka berdoa di depan makam dan mengumandangkan lagu Indonesia Raya.

Patung Tan Sin Ko di TMII, menggambarkan saat dirinya bahu membahu dengan pejuang Tionghoa dan Jawa melawan Belanda.

Makam kemudian dibersihkan, dibangun, dan diberi bongpay baru. Sebuah papan nama dari batu marmer hitam didirikan di dekatnya. Bertulis “Makam Tan Sin Ko alias Sing Seh. Gugur di Lasem, Oktober 1742. Panglima Laskar Tionghoa/Jawa Melawan VOC Saat Geger Pacinan 1740-1743” dalam aksara latin dan Tionghoa.

Di persimpangan salah satu jalan di Desa Dorokandang juga dididirikan papan penunjuk arah. Satu petunjuk ke Makam Singseh, dan 1 lagi menuju Makam Raden Panji Margono.

Mendampingi Sambernyowo

Bila beberapa kerabat Mangkunegaran hadir saat upacara di Makam Tan Sin Ko, itu karena sejarah yang menghubungkan. Perang Tionghoa-Jawa melawan VOC pada 1740-1743, mencatat adanya hubungan antara leluhur mereka, Raden Mas Said (Mangkunegoro I), dengan Tan Sin Ko.

Setelah para pejuang Tionghoa – Jawa mengangkat Raden Mas Garendi sebagai Susuhunan di Kartasura, raja bergelar Amangkurat V ini menunjuk Suryokusumo (Raden Mas Said/Pangeran Sambernyowo) menjadi panglima perang.  Singseh mendampinginya saat Suryokusumo memimpin sekitar 1200 prajurit Tionghoa-Jawa menyerbu pasukan VOC di Welahan, 24 Agustus 1742.

Mengutip ‘Perang Sepanjang 1740-1743 Tionghoa-Jawa Lawan VOC’, Palagan Welahan adalah pengalaman pertama Raden Mas Said memimpin pasukan berjumlah besar. Singseh sendiri sejak pemberontakan Tionghoa-Jawa terjadi, telah beberapa kali memimpin pertempuran.

Petunjuk arah ke Makam Tan Sin Ko dan Raden Panji Margono. Keduanya adalah pahlawan Perang Lasem melawan Belanda.

Singseh pernah memimpin gerombolan besar lascar Tionghoa kira-kira 2 bulan setelah peristiwa pembunuhan terhadap Kopral Claas Luteen di Majawa, Pati, 1 Februari 1741. Pada 23 Mei, Singseh menyerbu Juwana, membuat residen setempat melarikan diri. Sembilan pegawai Kompeni ditangkap dan digiring ke Welahan dalam suatu pawai kemenangan.

Pada 10 Juni, pasukan Singseh mendarat di Kaliwungu, Semarang, menggunakan 70 kapal kecil. Mereka dihadapi pasukan campuran Eropa dan pribumi pimpinan Letnan Josephus Maximiliaan Constans.

Meriam-meriam Kompeni membuat pasukan pemberontak tercerai-berai. Pasukan Kompeni sendiri mundur dengan membawa 7 korban tewas, termasuk penerjemah Van Woensel.

Pada 1 Agustus 1741, kelompok pertama laskar Tionghoa pimpinan Singseh tiba di Kartasura untuk membantu prajurit Mataram mengepung benteng. Setelah merebut Kartasura, mereka kembali ke Semarang, menduduki benteng Kompeni di kota ini.

Singseh bersama Bupati Martapura dari Grobogan menyiagakan pasukannya di Terboyo. Memasuki bulan Nopember, Martapura dan Singseh sibuk membangun barikade-barikade pertahanan di sekitar Terboyo dan Kaligawe.

Relief di Kelenteng Tjoe Hwie Kiong Rembang, menggambarkan Perang Tionghoa Jawa melawan Belanda yang salah satunya dipimpin oleh Singseh.

Pertempuran hebat berlangsung 7 Nopember. Pasukan Singseh menghadapi serangan artileri Kompeni, hingga kuwalahan, mundur, dan banyak yang gugur. Pada awal Februari 1742, pasukan Martapura, Singseh, dan Bupati Mangunoneng, menyerbu Kudus dan Pati. Kedua tempat itu jatuh ke tangan mereka, yang segera disusul serbuan balasan dari pihak Sunan Pakubuwono II.

Perubahan sikap Pakubuwono II yang ganti memusuhi mereka itu lah yang membuat para pemimpin pemberontak mengangkat Raden Mas Garendi menjadi raja Kartasura. Ia adalah putera Pangeran Teposono yang terbunuh, Upacara penobatan dilakukan pada 6 April 1742.

Kepala Dipenggal

Setelah mengantar raja yang juga dikenal dengan sebutan Sunan Kuning itu kembali ke Kartasura, Singseh beserta pasukannya kembali ke Demak. Selanjutnya pergi ke Jepara dan Lasem yang masih bergolak.

Ketika Demak jatuh ke tangan Kompeni pada 9 Agustus 1742, Singseh tetap melakukan gerilya di sekitar daerah tersebut. Pada 24 Agustus, 4000 pasukan yang dipimpin oleh Raden Mas Said dan Singseh siaga di Welahan.

Pada pertempuran di Tanjung, pasukan Kompeni di bawah komando Kapten Gerit Mom berhasil memukul laskar Singseh ke arah Grobogan. Usai pertempuran, Singseh berusaha menghadang gerak pasukan Gerrit Mom yang akan menduduki Rembang.

Usahanya gagal. Karena kalah persenjataan, laskar Tionghoa bisa dicerai-beraikan. Sebagian mereka, bersama para prajurit Jawa mundur ke arah Grobongan. Sebagian lain, termasuk Singseh, mundur ke Lasem, dengan niat menuju Pulau Bawean.

Makam Tan Sin Ko yang terletak di Desa Dorokandang, Lasem, baru ditemukan ratusan tahun kemudian.

Ia berserta 7 anak buahnya berusaha naik perahu di Pantai Lasem, namun 1 regu serdadu VOC memergoki. Komandan patroli Kompeni ini bernama Slamat, bekas budak seorang anggota Dewan Hindia, Jacob Willem Dubbeldekop.

Singseh terbunuh dalam pertempuran tersebut. Kepalanya dipenggal dan diserahkan kepada Panglima Operasi, Steinmets. Selain menyerahkan penggalan kepala, Slamat juga menyertakan jimat Singseh berupa patung kepala singa dari emas. HK

 

 

 

1 2 3 4 5

Article Tags:
Article Categories:
Jejak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares