Tan Sam Cay, Menteri Kesultanan Cirebon yang Didewakan

Written by
Hiomerah – Dia pernah menjadi Menteri Keuangan Kesultanan Cirebon, juga arsitek Taman Sunyaragi. Roh sucinya didewakan, bong peristirahatan terakhirnya dikeramatkan.

Bong kuno itu terletak di Jalan Sukalila, sekitar 100 meter di belakang Pasar Pagi, Kota Cirebon. Pintu pagar besi yang telah mengelupas catnya menjadi gerbang untuk memasukinya. Suasananya teduh dan asri oleh beberapa pohon besar, juga tanaman hias yang ditata sedemikian rupa mengapit jalan masuk.

Memandang ke depan dari ujung jalan setapak yang sudah dilapis keramik itu mata akan tertuju pada bong kuno dimaksud. Itulah makam Sam Cay Kong, yang orang langsung dapat mengenalinya lewat papan nama di depan pagar.

Hanya ada dua bong di situ, salah satunya tentu tempat peristirahatan terakhir tokoh Tionghoa paling berpengaruh dalam sejarah Kraton Cirebon itu. Bong Sam Cay Kong terlihat ‘megah”, bercat putih dan merah, serta sebuah hiolo berdiri di ‘pelatarannya’.

Ada gundukan tanah dengan rerumputan lebat di belakang bong yang kanan-kiri serta belakangnya dikelilingi tembok-tembok rumah penduduk tersebut. Di balik gundukan tanah itu, ada beberapa makam yang jika dilihat dari nisannya adalah makam Islam.

“Itu mungkin makam kerabat atau pengawalnya saat Sam Cay Kong menjadi pejabat di Kraton Cirebon,” kata Sahroni.

Beberapa waktu lalu, keberadaan makam di sisi Sungai Sukalila yang membelah Kota Cirebon tersebut sempat memicu protes warga Tionghoa. Aksi berawal dari kebijakan pemerintah setempat terkait pelaksanaan proyek penataan pedagang kaki lima.

Sebuah tenda yang didirikan di depan pagar kompleks makam dianggap oleh warga sebagai bentuk ketidakpedulian pemkot terhadap salah satu cagar budaya kota udang tersebut.

“Ini kan makam tua yang sangat dikeramatkan dan mempunyai nilai sejarah tinggi,” imbuh Sahroni.

Meski dimakamkan secara muslim, makam Tan Sam Cay di Jalan Sukalila, Kota Cirebon, berbentuk bong layaknya makam-makam tradisional Tionghoa.

Makam Sam Cay Kong pernah sangat terkenal di tahun 1960 sampai 1970-an. Kompleks makam itu dulu menjadi salah satu pusat keramaian Kota Cirebon.

Banyak pedagang, juga tukang ramal, memanfaatkan para peziarah yang datang ke makam keramat tersebut. Bahkan sebagian warga menggunakannya untuk memperoleh wangsit, petunjuk kode buntut.

Menteri Keuangan Handal

Sam Cay Kong atau Tan Sam Cay adalah seorang Tionghoa Muslim yang pernah menjabat Menteri Keuangan Kesultanan Cirebon. Setelah meninggal dunia, pemilik nama Islam Muhammad Syafi’i itu didewakan dengan nama Sam Cay Kong.

Sinci dan altarnya terdapat di Kelenteng Talang, serta roh sucinya dipercaya pernah menyelamatkan Kelenteng Dewi Welas Asih dari kebakaran.

Di saat Kesultanan Cirebon berada pada masa transisi di bawah Panembahan Ratu, pengganti sementara Sunan Gunung Jati yang telah wafat, Muhammad Syafi’i menjadi bendahara yang cakap dan terpercaya.

Dia dikenal sebagai administrator unggul dan Menteri Keuangan yang andal. Ia yang memegang dan mengelola arus keuangan Kraton Kasepuhan. Kecakapannya dalam mengatur keuangan membuat Kraton Kasepuhan berkembang dan sehat dari sisi keuangan sehingga syiar Islam berjalan lancar.

Tan Sam Cay pernah mengawal pernikahan Sunan Gunung Jati dengan Tan Hong Tien Nio atau Putri Ong Tien. Saat menjabat sebagai Menteri Keuangan dia dikenal dengan nama Tumenggung Arya Dipa Wiracula.

Menurut Sumanto Al Qurtuby dalam “Arus Cina Islam Jawa”, semasa menjadi pembesar Kesultanan Cirebon, Tan Sam Cay mendapat saingan seorang Tionghoa Muslim lain bernama Muhammad Murjani.

Tan Sam Cay Kong didewakan di kelenteng yang dibangunnya, Kelenteng Talang.

Pemilik nama asli Kung Sun Pak tersebut adalah juru kunci makam keluarga Sultan di Gunung Sembung. Konon Kung Sun Pak masih keturunan Kung Wu Ping, pendiri mercusuar di Bukit Muhara Jati.

Perseteruan  antara dua Tionghoa Muslim itu konon disebabkan oleh tidak taatnya Tan Sam Cay terhadap Agama Islam. Sebab, Tan Sam Cay yang telah beragama Islam masih sering berkunjung ke kelenteng dan membakar hio.

Arsitek Taman Sunyaragi

Ketika Tan Sam Cay meninggal dunia pada 1585, jenazahnya ditolak oleh Kung Sun Pak untuk dimakamkan di kompleks pemakaman pembesar Kesultanan Cirebon di Sembung. Konon, dia meninggal dunia dengan tragis di salah satu goa di kompleks pertapaan Goa Sunyaragi bersama seorang istri simpanan.

Atas permintaan istrinya, Nur Laila binti Abdullah Nazir Loa Sek Cong, jenazahnya kemudian dimakamkan di pekarangan rumahnya di daerah Sukalila. Masyarakat Tionghoa juga mengadakan upacara naik arwah di Kelenteng Talang meskipun Tan Sam Cay dimakamkan secara Islam. Kelenteng yang dalam tradisi lokal dulunya dianggap sebagai masjid tersebut dibangun oleh Tan Sam Cay sendiri.

Meski dinilai kontroversial, nama Tan Sam Cay tetap dihormati sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah Kasultanan Cirebon. Bahkan sebagai penghormatan itu, kompleks makamnya yang terdiri dari satu makam utama dan empat makam kerabat, bangunannya dihiasi dua gaya arsitektur, Islam dan Tiongkok.

Pada 1919 masehi, makam Sam Tjay Kong diberi pagar keliling oleh Mayor Tan Chi Ji, pemimpin masyarakat Tionghoa Kota Cirebon. Pagar itu dilengkapi prasasti bertuliskan huruf kanji Tiongkok, Melayu, dan Jawa.

Claudine Salmon dalam buku “Cagar Budaya Cian di Indonesia” menyinggung secara sekilas tentang sosok Sam Tjay Kong. Disebut bahwa Sam Tjay Kong merupakan arsitek kompleks pertapaan raja yang dikenal dengan nama Goa Sunyaragi.

Tan Sam Cay juga menjadi arsitek Goa Sunyaragi yang kemudian difungsikan sebagai bunker militer.

Mengutip tulisan di bongpay Sam Cay Kong, Claudine menulis bahwa tokoh ini memiliki nama kecil Chen San Cai. Dia berasal dari daerah Chen Lan She yang masih merupakan wilayah Desa Lang Xi, Kabupaten Zhy Zhou, Propinsi Fu Jian, Tiongkok Selatan. Tan Sam Cay mendarat di Cirebon ikut rombongan Putri Ong Tin Nio, anak raja Hong Gi.

Seperti tertulis di atas, Tan Sam Cay juga disebut sebagai arsitek Taman Air Goa Sunyaragi yang konon arsitekturnya menyerupai Istana Terlarang, istana raja-raja di Tiongkok. Taman yang berisi banyak goa di dalamnya ini dulu pernah menjadi tempat bertapa para bangsawan Cirebon sekaligus bunker militer dari serbuan musuh. HK

 

1 2 3

Article Tags:
Article Categories:
Jejak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares