Suroan di Kelenteng Cokro, Berharap Kemakmuran dari Dewi Sri

Written by
HiomerahPerayaan 1 Suro menjadi tradisi di Kelenteng Cokro. Puluhan tumpeng disajikan demi berkah kemakmuran dari Dewi Sri.

Suatu siang di Kelenteng Hong San Koo Tee, Surabaya, sebelum pandemi Covid-19 melanda. Puluhan tumpeng nampak tertata rapi, sementara puluhan orang dengan hioswa di tangan khusyuk berdoa.

Hari itu, tempat peribadatan tri dharma yang lebih dikenal dengan sebutan Kelenteng Cokro tersebut sedang menggelar upacara peringatan 1 Suro.

Perayaan sudah diawali malam sebelumnya dengan ritual tirakatan. Dilanjutkan ritual sesaji nasi tumpeng saat siang 1 Suro tiba. Tumpeng-tumpeng itu adalah sumbangan dari umat yang berasal dari berbagai kota, bahkan luar negeri.

Berupa tumpeng komplit, terdiri dari nasi kuning, nasi bolong, ikan bandeng, urap-urap, perkedel. Disajikan lengkap dengan pisang, dawet, bubur merah, jajan pasar, dan kinangan.

Ritual diawali penyucian tumpeng dengan percikan air bunga yang sudah diberi doa oleh seorang suhu. Dilanjutkan upacara sembahyang kepada Thian (Tuhan). Disambung sembahyangan kepada dewa utama kelenteng, Kongco Kong Tik Cun Ong.

Selain untuk kesejahteraan umat, sembahyangan ditujukan agar bangsa Indonesia selalu makmur dan terbebas dari segala macam bencana.

Di depan altar Dewi Sri, ritual 1 Suro Kelenteng Cokro digelar.

“Agar kita selalu diberi berkah kemakmuran, serta keselamatan bagi bangsa Indonesia,” jelas pemimpin ritual, Suhu Johnny Hoo, kala itu.

Setelah itu, ritual beralih ke depan altar Dewi Sri. Di sini, doa-doa dipimpin seorang modin. Alunan doa dari ayat-ayat suci Al-Qur’an melantun dari pemuka agama Islam ini.  Dalam doa juga disebut nama-nama para penyumbang tumpeng.

Selesai upacara, tumpeng-tumpeng tersebut kemudian dikembalikan kepada pemiliknya. Dibawa pulang untuk keselamatan. Sebagian ada juga yang dibagikan ke masyarakat sekitar.

“Nanti akan kami makan sekeluarga, untuk keselamatan dan tolak bala, agar seluruh anggota keluarga dijauhkan dari segala malapetaka,” ungkap Fang Fang, seorang umat kelenteng.

Suroan atau perayaan 1 Suro sudah menjadi tradisi tahunan Kelenteng Cokro. Sejak 1990-an, suroan menjadi warna unik kelenteng yang berlokasi di Jalan Cokroaminoto tersebut.

Di sini, perayaan tahun baru Jawa yang bertepatan dengan tahun baru Hijriyah itu tidak hanya menjadi monopoli orang-orang Jawa .

“Meskipun kami ini keturunan Tionghoa, tapi kan tinggal dan hidup di tanah Jawa. Jadi ya harus menjunjung tinggi budaya Jawa,” jelas Juliani Pudjiastuti, ketua Kelenteng Cokro saat itu.

Lebih unik lagi karena ritual perayaannya dilakukan di depan altar Dewi Sri yang berada di halaman kelenteng. Altar tersebut dilindungi bangunan batu bergaya candi, lengkap dengan sepasang patung dwarapala di pintu masuknya.

Sebuah arca batu yang diyakini sebagai patung Dewi Sri berada di atas altar. Tidak hanya saat ritual 1 Suro, arca suci Dewi Sri ini setiap hari juga disembahyangi oleh umat kelenteng seperti dewa-dewa lainnya.

Arca suci Dewi Sri diletakkan di altar yang dilindungi bangunan bergaya candi lengkap dengan sepasang dwarapala di pintu masuknya.

Arca tersebut ditemukan sekitar 1919, bersamaan dengan pendirian pagar kelenteng. Para pekerja yang sedang menggali tanah yang menemukan.

Dianggap sebagai benda keramat, benda itu kemudian banyak dipuja oleh para jemaah kelenteng. Seorang paranormal juga mengatakan bahwa itu memang patung suci yang harus dihormati. Kemudian hari, orang-orang meyakini patung itu adalah patung Dewi Sri.

Sebuah bangunan lantas didirikan untuk rumahnya. Letaknya seperti terlihat saat ini, di depan bangunan utama kelenteng sisi kiri.

Agar ada waktu khusus bagi para umat untuk menyembahyanginya, pengurus kelenteng kemudian mencari tahu hari lahir sang dewi. Namun usaha ini tak kunjung berhasil sampai suatu ketika ada seorang ‘pintar’ mengatakan Dewi Sri lahir di 1 Suro.

Sejak saat itu peringatan HUT Dewi Sri digelar setiap 1 Suro. Ia juga menjadi simbol utama perayaan 1 Suro Kelenteng Cokro.

Sekarang, Hong San Ko Tee menjadi satu-satunya kelenteng yang menempatkan dewi kesuburan tersebut sebagai dewa pujaannya. Ia bersanding dengan dewa-dewi lain, seperti Kongco Kong Tik Tjoen Ong, Kongco Kwan Kong, dan Makco Kwan Im.

Namun berbeda dengan arca suci atau kimsin lain yang terbuat dari kayu, arca Dewi Sri terbuat dari batu andesit. Ukurannya lumayan besar dengan tinggi sekitar 80 cm.

Bagian rambut arca Dewi Sri dihias dengan aksesoris manik-manik dan lilitan selendang batik hijau di tubuhnya. Namanya ditulis lengkap: Eyang Putri Dewi Sri.

Kelenteng Cokro menjadi satu-satunya kelenteng yang menempatkan Dewi Kesuburan sebagai salah satu dewa yang dipuja.

Ia diapit oleh arca suci Manik Moyo dan Siti Moyo. Ketiganya dilindungi oleh lemari kaca yang berlubang di bagian wajahnya masing-masing. Di meja altarnya juga terdapat arca Tan Tik Sioe San, suhu sakti yang pernah bertapa di Tulungagung. HK

1 2 3

Article Tags:
Article Categories:
Warna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares