Sukaloka, Kelenteng Tertua di Surabaya yang Pernah Usir Wabah Pes

Written by
Hiomerah – Tempat peribadatan yang dikenal dengan nama Kelenteng Sukaloka ini merupakan kelenteng tertua di Surabaya. Arca suci dewa utamanya pernah membebaskan warga kota ini dari wabah pes.

Kelenteng Hok An Kiong menjadi saksi dan bukti tertua gelombang ke-2 kedatangan orang-orang Tionghoa di Surabaya. Pada gelombang ke-2 ini, yang terjadi sekitar abad ke-18, orang-orang Tionghoa yang datang ke Surabaya terdiri dari berbagai suku dan agama.

Waktu itu, mereka memilih kawasan yang kemudian bernama Topekong Straat, sebagai pemukimannya. Topekong Straat sekarang menjadi Jalan Coklat, yang merupakan cikal bakal kawasan Pecinan Surabaya (Slompretan, Kembang Jepun, Kapasan, dan sekitarnya).

Mengutip buku “Riwayat Klenteng, Vihara, Lithang, Tempat Ibadat Tridharma Se-Jawa” karya Moertiko, Kelenteng Hok An Kiong didirikan sekitar 1830 M oleh Hok Kian Kong Tik Soe. Yaitu sebuah perkumpulan para pendatang Tionghoa dari propinsi Hokkian.

Kelenteng Sukaloka dibangun untuk menjadi tempat para pendatang Tionghoa beribadah.

Lokasi tempat ibadah yang juga dikenal dengan nama Kelenteng Sukaloka ini, dulu adalah sebuah lapangan rumput. Lapangan ini biasa digunakan menetap sementara para anak buah kapal tongkang yang datang dari Tiongkok. Waktu itu memang telah banyak pedagang Tiongkok yang masuk Surabaya.

Di tempat terbuka itu, para awak kapal beristirahat sambil menunggu berlayar kembali. Melihat banyaknya pekerja perahu tongkang ‘berserakan’ di tempat yang kurang  pantas itu, para anggota Hok Kian Kong Tik Soe kemudian berinisiatif membangun sebuah bangsal untuk mereka beristirahat.

Karena para awak kapal dari Tiongkok itu memerlukan tempat beribadah, maka selain bangsal istirahat juga dibangun sebuah kelenteng. Meski didirikan oleh suku Hokkian, pada perkembangan selanjutnya, kelenteng tersebut tidak tertutup untuk suku Tionghoa lain beribadah.

Untuk membangunnya, langsung didatangkan tukang-tukang dari Tiongkok, berikut perlengkapan dan bahan-bahan yang diperlukan. Uniknya, konstruksi bangunannya tanpa menggunakan paku-paku logam satu pun.

Untuk mengaitkan antar bagiannya, digunakan potongan bambu yang diruncingkan. Meski hanya potongan-potongan bambu, bisa kuat dan tahan lama. Terbukti, sampai sekarang Kelenteng Hok An Kiong tetap bertahan dengan kontruksi lamanya meski usianya hampir mencapai 200 tahun.

Sebagai dewa utama tempat peribadatan Tridharma ini adalah Makco Thian Siang Sing Boo. Kimsin (arca suci) dewi ini dikenal mempunyai kekuatan memberi berkah bagi umat yang memujanya. Karena itu dia sangat dikeramatkan, tidak hanya oleh umat Kelenteng Hok An Kiong tapi juga masyarakat sekitar.

Sebuah peristiwa yang terjadi puluhan tahun lalu, menjadi bukti kekeramatannya. Menurut “Riwayat Klenteng, Vihara, Lithang, Tempat Ibadat Tridharma Se-Jawa”, waktu itu Surabaya terserang wabah pes yang sangat ganas. Anehnya, wabah yang disebarkan oleh tikus tersebut, bisa dihalau setelah kimsin Makco diarak dari klenteng ke jalan-jalan di Surabaya.

Kimsin Makco pernah digotong keliling Kota Surabaya untuk mengusir wabah pes.

Bukan hanya kimsin Dewi Laut tersebut yang dipercaya mempunyai kekuatan memberi berkah di Kelenteng Hok An Kiong. Kimsin-kimsin lain, seperti Kongco Kwan Kong, Kongco Kong Tik Cun Ong, Kongco Hok Tik Cing Sin, Jay Sen Ya, dan Dewi Kwan Im pun seperti itu.

Juga dua buah kimsin di ruang belakang yang dikenal dengan sebutan Hwa Kung dan Hwa Mu. Dua kimsin ini sangat dipercaya oleh mereka yang sedang berharap mendapat jodoh dan menginginkan anak. HK

 

1 2

Article Tags:
Article Categories:
Pecinan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares