Setelah Dicari 46 Tahun Museum Sumpah Pemuda Pamerkan Sin Po yang Pertama Muat ‘Indonesia Raya’

Written by
HiomerahMuseum Sumpah Pemuda menggelar pameran bertajuk ‘Di Balik Layar Sumpah Pemuda’ dari Selasa (25/8) lalu hingga Senin (7/9) mendatang. Sin Po, surat kabar bersejarah pada masa perjuangan kemerdekaan, menjadi salah satu benda menarik yang dipamerkan.

Pameran dalam rangka menyemarakkan perayaan HUT ke-75 Republik Indonesia tersebut digelar di Aula Museum Sumpah Pemuda, kawasan Kramat Jaya, Jakarta Pusat. Selain secara langsung, pengunjung bisa menikmati pameran ini secara virtual.

Kepala Museum Sumpah Pemuda, Titik Umi Kurniawati, mengatakan bahwa pameran virtual dilakukan sehubungan pandemi Covid-19. Selain itu juga untuk menjaring lebih banyak pengunjung.

Sampul koran Sin Po edisi 293 terbitan 10 November 1928 yang memuat pertama kali lagu ‘Indonesia’. (Foto: Istimewa)

“Untuk melihat berbagai acara ini, silahkan kunjungi media sosial milik Museum Sumpah Pemuda seperti YouTube, Instagram dan Twitter,” ujar Titik dalam siaran persnya.

Salah satu benda menarik yang dipamerkan merupakan koleksi terbaru Museum Sumpah Pemuda. Yaitu koran Sin Po edisi nomor 293 yang terbit pada 10 November 1928, atau 13 hari setelah pembacaan Sumpah Pemuda. Di dalamnya memuat lagu berjudul ‘Indonesia’, lengkap dengan lirik dan partitur atau not balok.

Sin Po menjadi media massa pertama yang memuat lagu ciptaan WR. Supratman tersebut. Kelak lagu yang dikumandangkan pertama kali pada Sumpah Pemuda itu menjadi lagu kebangsaan negara Indonesia berjudul Indonesia Raya.

Sin Po edisi 293 memuat lagu ‘Indonesia’ lengkap dengan lirik dan partitur. (Foto: Istimewa).

Selain nilai sejarahnya itu, Sin Po edisi 293 menjadi sangat menarik karena kelangkaannya. Setelah Sumpah Pemuda, pemerintah Belanda menganggap lagu ‘Indonesia’ sebagai ancaman politik. Mereka melarang lagu tersebut dinyanyikan kembali. Akibat pelarangan ini, arsip lagu Indonesia menjadi langka. Termasuk koran Sin Po terbitan 10 November 1928.

Museum Sumpah Pemuda sendiri baru mendapatkannya pada 11 Agustus lalu setelah proses pencarian selama 46 tahun. Adalah Bagus Priyana, koordinator komunitas sejarah Kota Toea Magelang, yang menyerahkannya.

“Saya merasa tergugah kesadaran nasionalismenya, ketika museum tersebut justru tidak memiliki sebuah arsip penting tersebut. Intinya, alasan utama saya menyumbangkan koran Sin Po itu adalah demi satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa yakni Indonesia,” kata Bagus kepada wartawan saat menyerahkan koran tersebut.

Bagus Priyana saat menyerahkan Sin Po edisi 293 koleksinya kepada pihak Museum Sumpah Pemuda. (Foto: Istimewa).

Kurator Museum Sumpah Pemuda, Eko Septian, mengatakan bahwa koran Sin Po edisi 293 teramat penting karena mencantumkan lirik dan partitur lagu ‘Indonesia’ secara lengkap. Pihaknya berencana mengusulkan koran ini sebagai benda cagar budaya nasional.

“Seandainya tidak ada partiturnya, tentu teramat sulit untuk mengetahui seperti apa sebenarnya lagu ini,” kata Eko. HK

1 2

Article Tags:
Article Categories:
Kabar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares