Semangat Nguri-Uri Budaya Jawa Keturunan Tionghoa di Cahya Buwana

Written by
Hiomerah – Banyak warga keturunan Tionghoa menjadi penghayat ajaran kejawen di Paguyuban Cahya Buwana. Nguri-nguri budaya di mana saat ini mereka hidup menjadi alasannya.

Nuansa ke-Tionghoa-an Paguyuban Cahya Buwana (PCB) terlihat jelas saat perkumpulan yang berpusat di Padepokan Agung Mandhalagiri Srandil, Cilacap, itu, melakukan ritual rutin. Misalnya saat Sarasehan Agung (Malam Jum’at Kliwon), peringatan Hari Arwah (4 April), atau saat peringatan Tumuruning Wahyu (5 Agustus).

Para anggota PCB keturunan Tionghoa berdatangan dari hampir semua daerah di Pulau Jawa. Di gedung padepokan yang berlokasi di Desa Glempangpasir, Kecamatan Adipala itu, mereka berpadu dengan ribuan anggota lain. Mereka akan datang lebih banyak lagi saat peringatan Tahun Baru Jawa dan ulang tahun paguyuban pada 29 Nopember.

Saat mengikuti dua upacara itu, mereka nampak luwes dengan pakaian adat Jawa. Tak kalah luwes dengan ribuan anggota PCB yang lain. Pakaian adat Jawa mereka kenakan hampir sepanjang rangkaian acara-acara lainnya. Misalnya saat ritual ziarah bersama di Gunung Srandil, upacara penanaman kepala kambing, serta rawuhan Kaki Semar.

Beberapa anggota PCB keturunan Tionghoa nampak luwes mengenakan pakaian adat Jawa saat ritual Suran di Srandil. (Foto: hiomerah).

Warna Tionghoa juga terlihat sehari-hari di Padepokan Agung Mandhalagiri Srandil. Di ruang depan gedung berdiri sebuah altar, tempat arca suci Bathara Ismaya atau Kaki Semar. Bentuknya mirip dengan altar-altar pemujaan yang umum terdapat di kelenteng.

Di depan altar itu ‘putra wayah’ Kaki Semar dari keturunan Tionghoa melakukan sembahyang ala leluhurnya. Untuk keperluan itu, altar dilengkapi dengan lilin-lilin warna merah, serta hiolo tempat abu hioswa.

Salah satu arca suci Bathara Ismaya yang ada di altar sering diikutkan dalam kirab kimsin kelenteng-kelenteng di luar kota. Misalnya saat HUT Kelenteng Hoo Tong Bio Banyuwangi atau saat mengikuti ‘Kirab Ruwat Bumi’ yang diselenggarakan Kelenteng Liong Hok Bio Magelang.

Hampir di semua kirab yang diikuti, rombongan PCB dengan kimsin Semarnya paling menarik perhatian. Saat perkumpulan kejawen yang mempunyai slogan ‘ojo dumeh – eling lan waspada’ ini mengadakan acara, giliran tamu-tamu dari kelenteng datang ke Srandil untuk ikut memeriahkan.

Anak-anak muda keturunanan Tionghoa juga banyak yang bergabung dengan PCB. (Foto: hiomerah).

Nguri-uri atau memelihara kebudayaan Jawa menjadi alasan sebagian besar warga Tionghoa bergabung dengan Paguyuban Cahya Buwana.

“Meski saya keturunan Tionghoa khan tinggal di Jawa. Jadi ya harus menjunjung tinggi kebudayaan asli tempat saya hidup sekarang ini,” tutur Benny Pribadi alias Tan Kim Lay, anggota PCB dari Salatiga.

Laki-laki kelahiran Palembang itu bergabung dengan PCB sejak 2008. Pada awalnya ia rutin mengikuti penyampaian ajaran-ajaran budi pekerti kejawen dalam acara Sarasehan Agung. Namun sebelumnya, ia sudah sering datang ke kediaman pendiri PCB, almarhum KRA. Sarwo Dadi Ngudiono.

“Tiap ada masalah, saya selalu datang ke Pak Sarwo di Weleri. Beliau itu sudah menjadi semacam guru spiritual bagi saya. Hingga kemudian saya memutuskan bergabung ke Cahya Buwana,” lanjut Benny.

Pencerahan spiritual juga dialami Lin Xin Jay ketika bergabung dengan PCB. “Sampai beberapa tahun lalu masa muda saya dipenuhi hal-hal tak berguna, mabuk, dugem, gonta-ganti pacar. Saya mulai berubah dan lebih bersikap positif setelah sering diajak orang tua ikut sarasehan di sini,” ungkapnya.

Almarhum KRA Sarwo Dadi Ngudiono sendiri adalah keturunanTionghoa. Laki-laki kelahiran 2 Februari 1961 ini memiliki nama Tionghoa Kwee Tjeng Lay.

Sebelum mendirikan PCB pada 1994, dia sempat mengikuti pendidikan pastur di Malang. Tapa brata selama bertahun-tahun mengantarkannya bertemu dengan Kaki Semar yang kemudian menuntunnya mendirikan paguyuban bersimbol angka 1610 (HaDaLa) itu.

Tentang banyaknya orang Tionghoa yang menekuni ajaran kejawen, sejarawan dari Universitas Airlangga, Shinta Devi Ika Santhi Rahayu, memiliki pendapat menarik. Menurut Shinta, orang-orang Tionghoa cenderung untuk melakukan apapun yang dianggap benar dan membawa kebaikan.

Altar Bathara Ismaya di Padepokan Cahya Buwana mirip dengan altar-altar dewa di kelenteng. (Foto: hiomerah).

“Dengan sikap ini, siapapun yang dipercaya bisa memberi berkah akan dipuja. Tanpa melihat agama, adat budaya, maupun etnis orang yang dipujanya. Dalam teori sosial, sikap ini biasa disebut ‘eklektik’,” kata penulis buku “Boen Bio Benteng Terakhir Umat Konghucu” ini.

“Sikap tersebut terutama dimiliki oleh para Tionghoa ‘babah’, yaitu etnis Tionghoa yang sudah meninggalkan kebudayaan leluhurnya. Mereka ini justru lebih dekat dengan kebudayaan di mana sekarang mereka hidup,” imbuh Shinta. HK.

 

 

1 2 3

Article Tags:
Article Categories:
Hobi & Komunitas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares