Riwayat Nyi Roro Kindjeng dan Lahirnya Dinasti Aristokrat Keluarga Tjoa

Written by
Hiomerah – Perkawinan putri Bupati Pasuruan dengan pendatang dari Tiongkok ini disebut mendapat berkah ‘kura-kura’. Sebuah perkawinan yang tercatat dalam sejarah menghasilkan keturunan dinasti aristokrat keluarga Tjoa yang mampu bertahan berabad-abad.

Meski berada dalam satu komplek dengan Makam Sunan Ampel, makam itu terlihat jauh menyendiri. Dikelilingi pagar besi warna putih, makam dimaksud hanya ditemani beberapa makam yang nisannya jauh lebih kecil.  Berbeda dengan makam sang sunan yang selalu ramai oleh peziarah, makam ini terlihat sepi tanpa orang menziarahinya.

Pada nisannya yang terbuat dari plesteran semen, tertulis kata-kata dalam bahasa Belanda; “onze geliefde stammoeder Njai Roro Kiendjeng dochter van Kiai Toemenggoeng Onggodjojo Familie Tjoa”. Bahwa yang dimakamkan di tempat itu adalah Nyi Roro Kindjeng, putri Kiai Tumenggung Onggojoyo, anggota keluarga Tjoa.

Tentang riwayat Nyi Roro Kindjeng, Majalah Mata-Hari terbitan 1 Agustus 1934 pernah memuat artikel khusus yang ditulis oleh The Boen Liang.  Sekitar satu dasawarsa kemudian, “Bok-Tok”, sebuah majalah Melayu-Tionghoa terbitan Malang, juga menurunkan artikel yang sama. Dua-duanya dibungkus tulisan besar tentang sepak terjang Famili Tjoa di Surabaya.

Makam Nyi Roro Kindjeng di Komplek Makam Sunan Ampel, Surabaya.

Artikel tersebut dibuka dengan merapatnya sebuah jung atau kapal khas Tiongkok di pelabuhan Surabaya pada 1753 M. Seorang Tionghoa totok berumur sekitar 17 tahun dan berperawakan tegap terlihat menuruni tangga kapal. Dia adalah Tjoa Kwie Soe, nahkoda sekaligus pemilik jung. Dalam usia masih sangat muda itu, Tjoa Kwie Soe meninggalkan tanah tumpah darahnya untuk berdagang beras.

Waktu itu, Surabaya memang menjadi pusat perdagangan beras di Nusantara. Tanah sekitar pun banyak ditanami padi. Kampoeng Baroe, Benteng Miring, Penggirikan, memutar sampai Bibis adalah areal persawahan. Demikian juga daerah Koepang dan Kedoengdoro.

Pasar yang menjadi pusat perdagangan beras harus dekat dengan kantor bupati, agar bisa diawasi. Kontrol ketat harus dilakukan, karena bupati mempunyai kewajiban untuk membayar upeti kepada VOC sebanyak 700 koyang (1 koyang = 40 pikul) setiap bulan.

Ketika Tjoa Kwie Soe mendarat, Surabaya mempunyai dua orang bupati, RA. Tjondro Negoro dan RT. Djojodirono. RA. Tjondro Negoro atau bupati sepuh berkantor di Kasepuhan dekat Pasar Besar (kantor gubernur sekarang). Sedangkan RT. Djojodirono atau bupati anom berkantor di Kanoman, sekitar kantor pos besar sekarang.

Kedua bupati tersebut adalah putra Bupati Pasuruan, Kyai Toemenggoeng Ongkodjojo. Mereka juga cucu Kyai Pangeran Lanang Dangiran yang dikenal dengan sebutan Kyai Brondong, bupati Surabaya pertama.

Dalam usaha dagangnya, Tjoa Kwie Soe membuka toko di Djalanan Kampoeng Tionghoa atau Petjinan Koelon. Karena satu jurusan, jalan ini juga dinamai Chinese Voorstraat. Sedang rumahnya berada di ujung tikungan jalan antara Chinese Voorstaat dan Tepekongstraat.

Keturunan ke-3 Tjoa Kwie Soe dan Nyi Roro Kinjeng, Letnan Tjoa Sien Hie, menjadi Tionghoa babah pertama yang mendapat bintang penghargaan dari Dinasti Manchu.

Berkah Kura-Kura

Tjoa Kwei Soe adalah orang yang supel, gampang bergaul. Dengan kedua bupati pun, dia mempunyai hubungan yang baik. Karena persahabatannya ini, ditambah kerja kerasnya, usaha dagang yang dirintis Tjoa Kwie Soe berkembang sangat pesat.

Tjoa Kwie Soe juga berhubungan dengan keluarga bupati. Salah satunya dengan Nyi Roro Kindjeng, adik perempuan kedua bupati tersebut.

Namun situasi kondusif tidak berlangsung lama. Karena ada dua kepemimpinan, Surabaya menjadi genting. Pertikaian meletus dan pertempuran tejadi hampir setiap hari.

Keadaan seperti itu memaksa Nyi Roro Kindjeng melarikan diri. Ia pergi ke rumah Tjoa Kwie Soe untuk berlindung. Tjoa Kwie Soe menerimanya dan menyembunyikan Nyi Roro Kindjeng di jung-nya agar lebih aman.

Sikap gagah dan sopan yang dimiliki sang pelindung ternyata menumbuhkan perasaan cinta pada Nyi Roro Kindjeng. Demikian pula dengan Tjoa Kwie Soe. Sebagai pendatang sebatang kara, dia ingin membangun sebuah keluarga dengan istri yang pantas, sesuai kedudukan dan asal-usulnya.

Ketika dua hati saling menyatu, perkawinan antar bangsa ini pun digelar. Perkawinan dua bangsa ini menjadi sangat istimewa karena kental dengan nuansa mistis yang berhubungan dengan ‘kura-kura’.

Nyi Roro Kindjeng ternyata masih keturunan Menak Loempat Blambangan yang dikenal dengan Soesoehoenan Reboet Pajoeng. Menak Loempat memiliki kraton yang sangat masyur, Kraton Macan Putih. Sebuah kraton yang memiliki pondasi berbentuk kura-kura.

Rumah megah ini milik salah satu keturunan keluarga Tjoa, Tjoa Tjoan Dji, di daerah Cantian, Surabaya.

Sebenarnya tidak ada yang istimewa dengan bentuk pondasi tersebut. Menjadi luar-biasa ketika salah satu keturunan Menak Loempat, Nyi Roro Kindjeng, menikah dengan salah seorang anggota keluarga Tjoa. Menurut Kitab Soesi, ‘tjoa’ juga berarti kura-kura, yang dalam falsafah Tiongkok adalah lambang kemakmuran dan keberuntungan.

Perkawinan Bangsawan

Selain kental nuansa mistisnya, perkawinan ini juga terasa istimewa karena merupakan perkawinan antar keturunan bangsawan. Nyi Roro Kindjeng adalah keluarga bupati Surabaya dan masih keturunan Soesoehoenan Reboet Pajoeng. Sementara  Tjoa Kwie Soe yang lahir pada 1739 M adalah putra Tjoa Tjhong, seorang berpangkat dan kaya, keturunan Tjioe Boe Ong, salah satu kaisar Tiongkok.

Tak salah bila Tjoa Tjhong disebut sebagai seorang pejabat kaya, karena bila tidak, dia tidak akan mempunyai catatan kelahiran dan kematian. Tjoa Tjhong lahir pada 1702, dan meninggal 1741. Kedatangan Tjoa Kwie Soe ke Surabaya menggunakan kapal sendiri juga menjadi bukti bahwa dia berasal dari keluarga bangsawan kaya.

Ketika keributan dan suasana genting berakhir, masa kemakmuran dan kejayaan hinggap pada sepasang suami istri tersebut. Keuletan Tjoa Kwie Soe bekerja membuat bisnisnya semakin berkembang. Dari pedagang beras kecil, menjadi saudagar besar. Bahkan berhasil membuka penanaman tebu dan pabrik gula di Sidoarjo.

Pernikahan Tjoa Kwie Soe dan Nyi Roro Kindjeng melahirkan seorang putra yang diberi nama Tjoa Phik Kong. Perkawinan kura-kura antar keturunan bangsawan dari dua bangsa berbeda itu kemudian juga berhasil menurunkan sebuah keluarga aristokrat yang mampu bertahan beberapa abad.

Kapitein Tjoa Djien Sieng (1824 – 1909), yang pernah menjadi pemimpin masyarakat Tionghoa di Surabaya.

Sebuah keluarga aristokrat yang dikenal memiliki sifat-sifat terpuji dan keteguhan untuk hidup. Meski kaya-raya, hidup mereka penuh kesederhanaan, tidak sombong dan angkuh. Keturunan Tjoa yang sangat berpengaruh di Surabaya hampir dua abad lamanya, dikenal sebagai keluarga yang suka menolong.

Tjoa Kwie Soe meninggal dunia pada 1793 M, saat Tjoa Phik Kong berumur 25 tahun. Dia dimakamkan di daerah Kebangsren, Surabaya. Berbagai usaha dan harta peninggalannya kemudian dikelola oleh Tjoa Phik Kong yang telah mahir berbisnis.

Kepintaran Tjoa Phik Kong, selain dari ayahnya, juga tak lepas dari pendidikan yang diberikan Nyi Roro Kindjeng. Beberapa tahun setelah suaminya meninggal, Nyi Roro Kindjeng menyusulnya ke alam keabadian. Jenazahnya dimakamkan secara Islam di Ampel. HK

 

1 2 3 4

Article Tags:
Article Categories:
Jejak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares