Riwayat dan Cerita Keajaiban Kelenteng Welahan

Written by
HiomerahDi kelenteng ini Kartini pernah mendapat kesembuhan. Sepanjang sejarah perkembangannya, diwarnai banyak cerita keajaiban.

Kelenteng Welahan, demikian orang menyebut tempat peribadatan Tridharma yang beralamat di Jl. Gang Pinggir, Welahan, Jepara, Jawa Tengah, tersebut. Di sini, tokoh emansipasi wanita, RA Kartini, pernah mendapat kesembuhan dari sakit yang dokter kala itu pun tak berhasil mengobatinya.

Berkah pengobatan kelenteng pemujaan Kongco Hian Thian Sang Tee itu memang terkenal sejak lama. Bahkan sekarang di kelenteng tersebut tersimpan dua macam resep pengobatan, resep lama dan resep baru.

Pintu utama Kelenteng Welahan. Di sini orang tidak boleh melakukan kegiatan tanpa seijin biokong.

Resep lama, berumur ratusan tahun asli Tiongkok. Resep baru, bikinan sinse di sana yang dipadukan dengan ritual jiamzi. Ada pula resep Go Gwan Lo, seorang sinse dari Lasem yang pernah menemui keajaiban di kelenteng tersebut ratusan tahun lalu.

Moerthiko dalam “Riwayat Klenteng, Vihara, Lithang, Tempat Ibadat Tridharma Se-Jawa”, menyebut Kelenteng Welahan dibangun kurang lebih 400 tahun lalu. Sepanjang sejarah perkembangannya, kelenteng yang terletak sekitar 20 kilometer dari Kota Jepara tersebut diwarnai banyak cerita keajaiban.

Riwayat kelenteng bermula saat seorang padri atau orang suci datang ke Pulau Jawa. Dia ditemani seorang bernama Tian Sing Boe. Di tengah perjalanan, orang suci tersebut sakit keras dan diberi pertolongan oleh Tian Sing Boe hingga sembuh.

Sebagai tanda terimakasih, ia menghadiahi Sing Boe sebuah patung naga dan kimsin atau arca suci Kongco Hian Thian Siang Tee. Orang suci tersebut juga berpesan agar Sing Boe merawat (hoksai) kedua benda pemberiannya setelah sampai di rumah.

Sing Boe kemudian singgah ke rumah kakaknya, Siang Jie, di Welahan. Ketika akan pergi ke Banten, dia meninggalkan dua benda pemberian orang suci di loteng rumah sang kakak.

Selepas Sing Boe pergi, Siang Jie mendapatkan hal aneh pada dua benda di atas. Patung naga dan kimsin Kongco Hian Thian Siang Tee, mengeluarkan suara-suara gaib.

Kimsin Kongco Welahan saat disemayamkan di Kelenteng Hok Tik Bio, tak jauh dari tempatnya semula.

Siang Jie kemudian menyusul adiknya ke Banten, menanyakan keanehan benda-benda itu. Sing Boe kembali berpesan agar kedua benda tersebut di-hoksai sebaik-baiknya.

Benar saja, setelah sekian lama dirawat dan dibuatkan rumah, kedua benda itu pada waktu-waktu tertentu mengeluarkan ‘sinar keajaiban’. Terutama saat she jit atau hari ulang tahun Kongco Hian Thian Siang Tee.

Suatu saat ada seorang hwiso datang ke Welahan dan mengunjungi rumah Siang Jie. Keanehan terjadi ketika hwiso itu berada di depan patung naga dan kim sin Hian Thian Siang Tee.

Tiba-tiba dia kesurupan dan dapat menulis resep obat serta ramalan-ramalan jitu. Sejak saat itu, berdatanganlah masyarakat sekitar, berharap bermacam berkah dari dua benda tersebut.

Cerita versi lain menyebut tentang sebuah kapal dengan nahkoda Tan Siang Woe yang bergerak dari Tiongkok menuju Pelabuhan Banten. Turut dalam pelayaran tersebut seorang Taosiu atau penganut Tao.

Di tengah perjalanan, Taosiu itu mendadak sakit. Beruntung Tan Siang Woe mau merawat si sakit hingga sembuh.

Kotak obat resep lama, resep asli dari Tiongkok yang telah berumur ratusan tahun.

Sebagai tanda terimakasih, Taosiu memberinya hadiah arca Dewa Hian Thian Siang Tee, buku, kilong atau sejenis payung, cemeti, dan sepasang pedang. Ia berpesan agar benda-benda tersebut di-hoksai dengan baik.

Tapi karena harus ke Banten, Siang Woe kemudian menitipkan barang-barang tersebut pada saudaranya, Tan Siang Jie, yang tinggal di Welahan. Keanehan terjadi ketika Siang Jie lupa melakukan hoksai. Benda-benda itu mengeluarkan suara-suara dan cahaya, seolah menyampaikan protesnya.

Sejak itu, benda-benda tersebut, khususnya kim sin Hian Thian Siang Tee, menjadi benda rebutan keluarga Tan Siang Woe. Hingga akhirnya dilelang, yang dimenangkan seseorang dari Semarang bernama Tan Jong Tam.

Namun keanehan kembali terjadi. Saat pelelangan, Tan Jong Tam kejatuhan bambu hingga buta matanya. Kimsin pun tetap di Welahan dan dipuja di altar utama Kelenteng Hian Thian Siang Tee hingga sekarang.

Buah cerita di atas, Kelenteng Welahan kemudian dikenal mampu memberikan bermacam berkah kepada masyarakat yang memintanya. Seperti yang dialami RA Kartini lebih dari seratus tahun silam dan banyak lainnya.

Lily, seorang warga Lasem, menceritakan sebuah kejadian yang mirip dialami Kartini. Beberapa puluh tahun lalu, seorang anak laki-laki tetangganya menderita sakit yang sangat parah.

Ornamen naga, salah satu penghias di tiang-tiang besar serambi Kelenteng Welahan.

Dokter dan tabib tidak ada lagi yang sanggup mengobatinya. Ketika asa orang-tuanya mulai habis, datang saran dari seorang tetangga agar membawanya ke Kelenteng Welahan.

Anak laki-laki itu kemudian dibawa ke Welahan, dengan badan terkulai dan mata terpejam. Benar saja setelah didoakan dan dimintakan obat, anak ini sembuh, dan terus hidup.

“Anak itu sekarang menjadi teman hidup saya,” ungkap Lily.

Kesaktian dan kegaiban Kelenteng Welahan tidak hanya sekitar kemujarabannya memberi obat. Saat pecah kerusuhan rasial pada 1980-an, kesaktian juga diperlihatkannya.

Waktu itu, massa yang marah merusak apa saja yang berbau Tionghoa. Kelenteng Welahan tak luput jadi sasaran. Di sinilah keanehan terjadi. Ketika massa sudah menyiramkan minyak ke pagar kelenteng dan siap membakarnya, tiba-tiba mereka bubar berlarian.

“Katanya mereka melihat pasukan berkuda seperti tentara Manchu yang mengejar mereka,” kata Chandra, seorang pengurus kelenteng, beberapa waktu lalu.

Kirab Kelenteng Welahan, salah satu ritual yang selalu ditunggu ribuan umat dari berbagai tempat.

Karena kekeramatannya itulah, Kelenteng Welahan sangat disakralkan. Bukan hanya oleh warga Tionghoa dan penganut Tri Dharma, tapi juga warga lokal dan penganut agama lain.

Kesakralan itu pula yang membuat para pengurus dan biokong (penjaga kelenteng) memberlakukan peraturan sangat ketat terhadap pengunjung.

Umat atau pengunjung dilarang melakukan aktivitas tertentu tanpa izin biokong. Terutama yang berkaitan dengan altar pemujaannya. Baik altar Kongco Hian Thian Siang Tee, altar Khonghucu, maupun Kwan Tee Ya. HK

1 2 3 4 5

Article Tags:
Article Categories:
Pecinan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares