Ritual Khee Khia Kelenteng Welahan, Agar Bebas Penyakit Seumur Hidup

Written by
Hiomerah – Sembahyang khee khia menjadi salah satu tradisi Kelenteng Welahan. Agar mereka yang diakukan anak kepada dewa bebas penyakit selama hidup. RA Kartini pernah mengalami.

Senin pagi itu, Irawaty sudah terlihat di Kelenteng Hok Tik Bio, Welahan, Jepara. Bersama Dewi Wijaya, putri tunggalnya, perempuan asal Tegal itu sedang menunggu pelaksanaan sembahyang khee khia.

Irawaty sedang menunggu sembahyang untuk anak-anak yang di-kwee pang-kan ke Kongco Welahan. Dewi Wijaya yang telah berumur 25 tahun, salah satu dari anak-anak itu.

Ritual khee khia di depan Kongco Hian Thian Siang Tee yang sedang disemayamkan di Kelenteng Hok Tik Bio Welahan.

Dalam budaya Tionghoa, kwee pang adalah upacara mengangkat anak. Jika seorang anak sakit-sakitan, biasanya diberikan kepada paman atau bibinya sebagai anak angkat. Tujuannya, agar anak tersebut kembali sehat, dijauhkan dari penyakit, dan selamat dalam kehidupannya nanti.

Seorang anak juga bisa di-kwee pang-kan kepada dewa yang duduk di altar utama sebuah kelenteng. Umumnya, kwee pang dimintakan kepada Makco Kwan Im atau Kongco Hian Thian Sang Tee, seperti di Klenteng Welahan. Tujuannya sama, agar si anak mendapat perlindungan dari gangguan gaib, penyakit, dan halangan lain.

“Intinya untuk keselamatan, selamat dalam perjalanan hidupnya,” kata biokong Kelenteng Hok Tik Bio, Sie Ping Djan,  yang pagi itu memimpin ritual.

Menurut Ping Djan, bukan hanya anak yang sakit-sakitan saja bisa di-kwee pang-kan ke dewa. Anak-anak lain yang dipercaya diikuti nasib buruk, seperti anak tunggal,  atau yang memiliki tanggal lahir sama dengan orang-tuanya, juga bisa.

Ritual pengangkatan anak ini biasanya dimulai dengan sebuah upacara sederhana yang syarat-syaratnya mirip ritual buang sial atau ruwatan.

Anak-anak yang akan di-kwee pang membawa persembahan berupa 7 batang bunga sedap malam, 7 kue mangkok merah, 3 macam buah yang masing-masing berjumlah 7, dupa cendana, lilin, dan kertas sembahyang.

Aneka sesajian di antaranya samseng dan buah-buahan menjadi syarat kelengkapan ritual.

Juga sepasang pakaian bekas layak pakai dan 1 liter atau 1 kilogram beras. Khusus kwee pang kepada Kongco Hian Thian Sang Tee, persembahan tersebut ditambah tee liau.

Persembahan tersebut, oleh dewa, sinbing, atau roh suci, akan dikembalikan dalam bentuk berkah perlindungan. Berkah perlindungan dewa kepada anak-anak itu, akan berlangsung seumur hidup.

“Namun perlindungan tersebut dapat berakhir bila si anak melecehkan dewa bersangkutan,” imbuh Ping Djan.

Setahun sekali mereka dan pengurus kelenteng melakukan sembahyang khee khia sebagai sarana berkomunikasi dan memohon berkah sang dewa. Seperti yang terlihat pada Senin itu, biokong dan beberapa pengurus bersembahyang bersama di Kelenteng Hok Tik Bio.

Sembahyang dilaksanakan di kelenteng ini, karena saat itu semua kimsin dari Kelenteng Hian Thian Sang Tee, termasuk kimsin Kongco Hian Thian Sang Tee sendiri, sedang disemayamkan di sana.

Anak-anak yang di-kwee pang, mereka biasanya selalu ikut bila kelenteng mengadakan kegiatan seperti kirab ini.

Beberapa sesajian, seperti samseng, buah-buahan, kue-kue, ingkung babi dan kambing, menjadi persembahan sembahyang. Di tubuh kedua binatang ini, ditulis beberapa huruf mandarin dengan tinta merah yang menyuratkan harapan keselamatan bagi anak-anak kwee pang.

Selama anak-anak tersebut masih di-kwee pang, mereka biasanya juga selalu ikut bila kelenteng mengadakan kegiatan, terutama yang berkaitan dengan sang dewa.

“Misalnya saat kelenteng melakukan kirab Kongco Hian Thian Siang Tee,” imbuh Ketua Yayasan Pusaka,  pengelola Kelenteng Welahan, Sugandhi, saat itu.

Kirab untuk merayakan HUT Kongco Hian Thian Sang Tee itu diselenggarakan setiap tahun, bertepatan dengan tanggal 3 bulan 3 Imlek.

Berkah atau mukjizat Kelenteng Hian Thian Siang Tee Welahan berkaitan dengan khee khia yang paling terkenal diterima Raden Ajeng Kartini.

Berkah atau mukjizat Kelenteng Hian Thian Siang Tee Welahan berkaitan dengan khee khia pernah diterima Raden Ajeng Kartini.

Dalam surat tertanggal 27 Oktober 1902 yang dikirim kepada Nyonya R.M Abendanon Mandri, Kartini mengaku ketika masih kecil pernah mengalami sakit parah. Pahlawan emansipasi wanita itu, baru sembuh setelah minum abu hioswa, air hu atau fushui, dari Klenteng Hian Thian Sang Tee Welahan.

Dalam kumpulan surat berjudul “Door Duisternis tot Licht” (Habis Gelap Terbitlah Terang) itu, Kartini menyebut dirinya sebagai “Botjah Boedha” karena setelah sembuh, oleh orang tuanya di-kwee pang-kan pada Kongco Hian Thian Siang Tee.

Tujuaannya agar dirinya terus mendapat perlindungan dari Dewa Obat tersebut sampai dewasa. Sejak saat itu, gadis kelahiran Mayong, Jepara, 21 April 1879 itu sering berziarah ke Kelenteng Welahan. HK

1 2 3 4

Article Tags:
Article Categories:
Warna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares