Prasasti Tionghoa – Jawa di Kraton Yogya (3-Habis); Dua Kali Tertunda Karena Perang

Written by
Hiomerah – Sedianya prasasti akan dipersembahkan saat penobatan Sri Sultan HB IX. Namun situasi perang, membuat tertunda lebih dari sepuluh tahun.  

Menurut Paul Suleman dalam catatannya, semula batu tersebut akan dipersembahkan tepat pada waktu penobatan, 1940. Tetapi karena berbagai kesulitan teknis, batu peringatan baru siap sesudah penobatan.

Kesulitan tersebut antara lain karena batu khusus harus didatangkan dari Tiongkok, sementara waktu itu Tiongkok sedang bertempur melawan Jepang. Dua tahun kemudian, Jepang juga menyerbu dan menduduki Hindia Belanda.

Ketika penjajahan Jepang berakhir, penyerahan tetap tertunga karena pecah revolusi fisik RI melawan Belanda yang baru berakhir akhir 1949.

“Selama masa itu batu peringatan yang sudah siap, untuk sementara disimpan di halaman rumah Ir. Liem Ing Hwie,” tulis Paul.

Sejarah keberadaan Prasasti Tionghoa Jawa di Kraton Yogya ditulis di sebuah batu di dekat prasasti.

Ketika keadaan sudah kembali normal, Ir. Liem sebagai ketua panitia persembahan batu peringatan, menghadap Sri Sultan HB IX. Ia memohon pertimbangan, apakah Sri Sultan masih berkenan menerima persembahan batu tersebut, mengingat sudah terlambat lebih dari sepuluh tahun.

Lagi pula di dalam naskah tulisannya terdapat kata-kata “membantu Baginda Raja dengan setia dan berbakti”. Kata-kata ini tentu dimaksudkan untuk Ratu Wilhelmina, yang tentu sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan sejarah dan kemerdekaan Indonesia.

“Ternyata Sri Sultan menyatakan tetap berkenan menerima  persembahan tersebut. Dan mengenai kata-katanya, beliau menganggapnya sebagai sesuatu yang historis yang berlaku di masa lampau pada waktu batu itu dibuat,” jelas Bernie.

“Ini membuktikan pandangan Sri Sultan yang luas, rasional dan obyektif. Beliau tidak merasa tersinggung dengan kata-kata tersebut, karena beliau lebih dapat menghargai maksud dan tujuan tulus dan luhur masyarakat Tionghoa di Yogyakarta yang ingin menyatakan penghormatan dan terima kasih sehubungan dengan kenaikan tahtanya,” imbuh Bernie mengutip kesan-kesan almarhum suaminya.

Maka dicapai kesepakatan untuk mengadakan upacara resmi penyerahan tepat pada hari ulang tahun keduabelas kenaikan tahta Sultan. Yaitu pada Selasa Legi, 18 Maret 1952, 20 Jumadilakir, tahun Alip 1883.

Upacara diadakan di ruangan Sri Menganti, Kraton Yogyakarta. Dihadiri hanya oleh lima tokoh yang namanya tercantum pada prasasti, karena tiga lainnya sudah meninggal dunia. Mereka yang hadir adalah Oen Tjoen Hok, Lie Ngo An, Lie Gwan Ho, Ir. Liem Ing Hwie, dan Sie Kee Tjie.

Keberadaan prasasti di Kraton Yogya juga menjadi daya tarik untuk para wisatawan.

Dari Kraton Yogyakarta, selain Sri Sultan HB IX, hadir pula BPH Soerjowidjojo, BPH Soerjopoetro, BPH Praboeningrat, BPH Soenjoto, BPH Poejokoesoemo, BPH Moerdaningrat, GPH Hadikoesoemo, BPH Hadinegoro, BPH Mangkoediningrat, BPH Djojokoesoemo, dan GPH Boeminoto.

Dalam akhir catatannya, almarhum Paul W Suleman menulis; “Dari peristiwa ini terlihat betapa baik dan akrab hubungan Sultan Hamengku Buwono IX dengan masyarakat Tionghoa di Yogyakarta sejak saat kenaikan tahtanya. Tiada lapisan masyarakat yang diabaikannya. Semua warga Kesultanan Yogyakarta mengakui kharismanya”.

 “Adanya prasasti harus menjadi pengingat agar hubungan mesra yang sudah terjalin selama ini tidak rusak,” pungkas Bernie, perempuan asli Semarang itu. HK.

 

1 2

Article Tags:
Article Categories:
Jejak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares