Prasasti Tionghoa – Jawa di Kraton Yogya (2); Ditulis dengan Dua Bahasa

Written by
HiomerahSelain isi, prasasti yang dibuat pada 1940 ini menjadi sangat menarik karena tulisan yang dipahatkan di kedua sisinya terdiri dari dua bahasa. Bahasa Tionghoa dan Jawa.

Bahasa Jawa yang juga dituliskan dengan huruf-huruf Jawa terletak di sisi prasasti sebelah dalam, atau yang menghadap ke Tepas Hapitopuro. Sisi lainnya atau yang menghadap ke tempat penyimpanan gamelan-gamelan pusaka, berbahasa dan bertuliskan Tionghoa (Mandarin).

Tulisan dalam bahasa Jawa berbentuk sebuah ‘kinanthi’ yang terdiri dari lima koplet (bait). Bunyinya: 

  1. Ing Mataram duk rumuhun, telenging Karaton Jawi, mangkya ing Ngayogyakarta, Hadiningrat Kraton Aji, Jeng Sultan Mangkubuwono, Nglanggahi dampar mulyadi. 
  1. Prabaweng Pangwasa Prabu, muncarkan prabeng herbumi, mangku sarawediningrat, Dera nrusken hujwalaning, Kaprabon Jeng Sri Mahraja, Lir lumaraping jemparing. 
  1. Tumujweng leres naripun, Susatya tuwin mahoni, Pamengku nirang buwono, lus manis cipta tresnasih, sih marma mring bangsa Tionghoa, asli saking manca nagri.

    Tulisan berbahasa Jawa terletak di sisi prasasti sebelah dalam, atau yang menghadap ke Tepas Hapitopuro.

  1. Pinrenahken manggenipun, ing papan ingkang pakolih, laras lan upajiwanya, kang limrah samya mong gramin, ing riki nagari harja, tentrem pra dasih geng alit. 
  1. Bangsa Tionghoa matur nuwun, Harsayang tyas tanpa pami, Tan bangkit angucapana, Mangkya kinertyeng sela mrih, Enget saklami laminya, Rat raya masih lestari.

Sedangkan terjemahan tulisan dalam bahasa Tionghoa berbunyi sebagai berikut:

Peringatan Penobatan Sri Sultan ke-IX Yogyakarta.

 “Tanah Jawa kuno, Yogya kerajaan baru. Sultan naik tahta kerajaan, memerintah seluruh negara, mengabdi Yang Maha Esa, membantu Baginda Raja, dengan setia dan berbakti, membikin tenang bangsa Tionghoa, dengan kebajikan serta kerelaan hati.

 Rakyat Tionghoa yang mengembara, datang di sini telah mendapat tempat untuk menuntut penghidupan dalam bidang ekonomi. Kesejahteraan meliputi tanah bahagia ini. Perasaan terima kasih dari rakyat Tionghoa begitu besar, sukar diucapkan.

 Oleh karena itu mereka memahat batu ini, dengan maksud mencatat dan memperingati perasaan terima kasih tadi buat selama-lamanya.”

 Atas nama seluruh penduduk Tionghoa di Yogyakarta:

 Kaptwa Lie Ngo An, Lie Gwan Ho, Dr. Sim Ki Ay, Tan Ko Liat, Ir. Liem Ing Hwie, Oen Tjoen Hok, Tio Poo Kia, Sie Kee Tjie.

Tionghoa Min-kuo tahun 29, bulan 3, hari 18.

Sisi prasasti berbahasa dan bertuliskan huruf Tionghoa menghadap ke tempat penyimpanan gamelan-gamelan pusaka.

Batu peringatan itu disertai sebuah “Candra Sengkala” berbunyi: Jalma Wahana Dirada Hing Wungkulan, atau angka tahun Jawa 1871, yang berarti “Manusia mengendarai gajah di atas benda bundar”.

Angka 1871 adalah tahun Jawa Dal 1871, tahun penobatan Sultan Hamengku Buwono IX, atau tahun Masehi 1940. Tanggal penobatan selengkapnya ialah: Senin Pon, 8 Sapar, Dal 1871, atau 18 Maret 1940.    HK/Bersambung.

 

1 2

Article Tags:
Article Categories:
Jejak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares