Prasasti Tionghoa – Jawa di Kraton Yogya (1); Kado Terimakasih Atas Perlindungan Sultan

Written by
HiomerahAtas perlindungan yang diberikan, masyarakat Tionghoa Yogyakarta memberi sebuah kado kepada Sultan HB IX. Berupa prasasti sebagai monumen pengingat agar hubungan harmonis terus terjaga.

Hubungan antara masyarakat Tionghoa dan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat mempunyai ikatan historis yang sangat kuat. Hubungan baik ini bahkan terdokumentasi dengan jelas dalam sebuah prasasti berbahasa Tionghoa dan Jawa.

Prasasti tersebut sekarang keberadaannya masih bisa dilihat di dalam komplek Kraton Yogyakarta. Diapit dua buah meriam kuno, lokasi prasasti tepat di depan Tepas Hapitopuro atau di belakang Bangsal Trajumas.

Diapit dua buah meriam kuno, lokasi prasasti tepat di depan Tepas Hapitopuro atau di belakang Bangsal Trajumas.

“Prasasti tersebut menjadi bukti nyata hubungan akrab antara Sri Sultan Hamengku Buwono IX dengan masyarakat Tionghoa di Jogjakarta,” kata salah satu tokoh masyarakat Tionghoa Yogyakarta, Bernie M. Liem.

Menurut Bernie, prasasti tersebut adalah sebuah kado dan tanda terimakasih masyarakat Tionghoa di Yogyakarta kepada Sri Sultan HB IX pada saat penobatannya.

Wanita pemilik nama Tionghoa Be Siok Ting ini memang sangat paham tentang keberadaan prasasti tersebut. Ia adalah menantu dari salah seorang pemrakarsa pembuatan prasasti, Ir. Liem Ing Hwie. Rumah Liem Ing Hwie terletak di Jalan Jenderal Sudirman Nomor 18 Kota Yogya dan sekarang ditempati Bernie.

Suaminya almarhum, Paul W. Suleman, juga menyimpan rapi setiap dokumen maupun foto yang berkisah tentang prasasti. Bahkan sebelum meninggal, pria bernama Tionghoa Liem Liang Hoei itu, sempat menulis sebuah catatan tentang keberadaan prasasti.

Warga Tionghoa merasa perlu memberikan tanda terimakasih karena selama bertahun-tahun telah diberi anugrah tempat strategis untuk berdagang. Juga ucapan terima kasih kepada Sultan atas perlindungan yang diberikan hingga masyarakat Tionghoa bisa hidup tenang dan sejahtera di Yogya.

Prasasti dibuat sebagai kado dan tanda terimakasih masyarakat Tionghoa di Yogyakarta kepada Sri Sultan HB IX pada saat penobatannya.

Kemudian beberapa tokoh masyarakat Tionghoa berinisiatif untuk menyatakan penghormatan dan rasa terima kasih itu dalam bentuk prasasti saat penobatan Sri Sultan.

Para tokoh terkemuka itu adalah Lie Ngo An (mantan Kapiten Tionghoa di Yogyakarta), Dr. Siem Kie Ay (dokter umum terkenal di Yogyakarta), serta Tio Poo Kia (pedagang).

Ada juga, Ir. Liem Ing Hwie (ketua berbagai perkumpulan sosial, perdagangan dan pendidikan, kemudian menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung RI), Lie Gwan Ho (pemilik toko mas dan arloji), Tan Koo Liat (pedagang), Oen Tjoen Hok (pemilik restoran-restoran terkenal “Toko Oen” di berbagai kota Pulau Jawa), dan Sie Kee Tjie (pengusaha batik). HK/Bersambung

1 2

Article Tags:
Article Categories:
Jejak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares