Pieter Dwiyanto, Mengoleksi Buku Tionghoa Lama Demi Generasi Muda

Written by
Hiomerah – Ribuan buku lama tentang budaya Tionghoa dikoleksinya. Agar generasi muda memahami budaya warisan nenek moyang, menjadi semangatnya.

Buku-buku berjumlah ribuan itu ditumpuk sekenanya, dan dibiarkan tak tertata. Sebagian besar telah berwarna kuning kecoklatan, tanda sudah puluhan tahun usianya. Ribuan buku tersebut menyesaki ruang tamu sebuah rumah yang berlokasi di kawasan Sidoyoso, Surabaya.

“Lebih kalau dua ribu judul,” kata Pieter Dwiyanto, pemilik buku-buku itu.

Koleksi Pieter kebanyakan buku-buku lama tentang sejarah dan budaya Tionghoa. Mulai adat istiadat, bela diri, pengobatan, hingga hal-hal yang berkaitan dengan spiritual. Keinginan untuk melestarikan budaya nenek moyang menjadi semangat Pieter mengumpulkan buku-buku itu.

Menurut Pieter, saat ini banyak orang Tionghoa yang ciri  ketionghoaannya sekadar terlihat di fisiknya. Tetapi mereka sudah tidak memahami lagi budayanya sendiri. Padahal budaya Tionghoa memuat filosofi hidup yang hebat.

 

Beberapa buku lama berumur puluhan tahun koleksi Pieter. (Foto: hiomerah).

Dia ingin suatu saat saudara-saudara Tionghoa-nya ikut membaca buku-buku koleksinya. Sehingga mereka menjadi paham tentang budaya yang diwariskan nenek moyangnya.

“Agar orang-orang Tionghoa, terutama yang generasi muda, benar-benar paham dengan budaya leluhur,” tegas laki-laki 37 tahun lulusan Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Kristen Petra, Surabaya, ini.

Hobi Pieter mengoleksi buku dimulai sejak masuk kuliah. Waktu itu dia mengumpulkan bermacam buku. Namun sejak 5 tahun lalu dia lebih tertarik untuk mengoleksi buku-buku tentang Tionghoa, khususnya yang terbitan lama.

Pieter mengaku, bukan tanpa kesulitan untuk menekuni hobinya ini. Selain susah mendapatkan buku-buku yang diinginkan, dia juga harus menghadapi tentangan dari sang istri. Namun hal itu justru dianggap sebagai pelecut semangatnya.

“Dulu istri selalu ngributin. Buang-buang uang saja katanya. Tapi lama-lama dia paham juga dengan tujuan saya,” kata suami Hodina Hadi Candra ini.

Berkat ketelatenannya, buku-buku lama berumur puluhan hingga ratusan tahun pun bisa dimiliki oleh Pieter. Di antaranya ‘Dao De Tjhing’ (terbitan 1938), ‘Chineezen Buiten China’ (terbitan 1909), dan ‘Boekoe Ilmoe Obat’ (terbitan 1914) karya Tat Seng Pian.

Meski pernah ditentang istri, Pieter terus mengoleksi buku agar generasi muda Tionghoa paham budaya leluhurnya. (Foto: hiomerah).

Menurut Pieter, buku-buku lama lebih bagus isinya. Lengkap dan detail dalam mengupas budaya Tionghoa. Tapi harganya cukup mahal karena barangnya terbatas. Sebagai contoh, untuk mendapatkan 3 buku ‘Dao De Tjhing’ yang hanya fotocopyannya saja, dia harus merogoh kocek Rp. 450 ribu.

“Buku lama isinya lebih bagus, tapi harganya mahal. Nah, kalau mahal kan jadi kendala juga bagi yang mau belajar,” lanjut pemilik nama Tionghoa Ang Che Jiang ini.

Agar bisa dibaca banyak orang, penggemar fotografi ini pun berencana akan memperbanyak buku-buku koleksi lamanya. Dia ingin mendirikan sebuah perpustakaan, membagikan buku-buku tersebut, atau menjualnya dengan harga murah.

“Lebih baik saya kurban keluar uang terlebih dulu, tapi setelah itu saya bisa mencetaknya lagi dengan murah. Sehingga buku-buku budaya Tionghoa bisa dibaca oleh banyak anak muda,” kata laki-laki yang sehari-hari bekerja membuat berbagai desain untuk perusahaan tersebut.

Teliti Suku Samin

Nama Pieter Dwiyanto pernah muncul di beberapa media massa ketika dia memamerkan karya fotografinya tentang Suku Samin. Karya itu merupakan hasil live in Pieter di tempat tinggal mereka di daerah Pati, Kudus, dan Blora, April – Mei 2006. Sebuah buku berjudul ‘Sedulur Sikep Spirit of Purity’ juga dia hasilkan dari live in tersebut.

Adem Hatie, sebuah buku mengenai ajaran Suhu Tan Tik Sioe, koleksi Pieter. (Foto: hiomerah).

Dia tertarik mengangkat komunitas yang lebih senang disebut Sedulur Sikep itu sebagai tugas akhir kuliahnya. Pieter tertantang untuk lebih mengenal suku yang memiliki ciri selalu berpakaian hitam-hitam itu. Ia ingin membuktikan apakah benar cerita-cerita negatif yang didengarnya mengenai Suku Samin..

“Bahkan waktu saya mau masuk ke desa mereka, masih ada yang menakut-nakuti bahwa orang Samin suka mencangkul kepala orang yang tidak disenanginya,” kata Pieter.

Satu bulan tinggal dan berinteraksi bersama mereka, merubah pandangan Pieter tentang para penganut Samin Surosentiko itu. Mereka adalah orang-orang yang tidak mengenal kekerasan dalam budayanya, dan sangat menjunjung tinggi kejujuran.

“Apa yang saya temui di sana sangat bertolak belakang dari cerita-cerita negatif yang selama ini berkembang tentang orang-orang Samin,” ungkap Pieter. HK

 

1 2 3 4

Article Tags:
Article Categories:
Sosok

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares