Perayaan Kedatangan Cheng Ho, Pernah Diganggu dan Dilarang

Written by
Hiomerah – Sebelum pandemi Covid-19, peringatan kedatangan Laksamana Cheng Ho di Semarang selalu meriah. Namun gangguan dan larangan pernah terjadi.

She jit (ulang tahun) pendaratan  Laksamana Cheng Ho di Pulau Jawa diperingati setiap Lak Gwe Ji Kauw, hari terakhir bulan keenam penanggalan Imlek. Tahun ini merupakan peringatan yang ke-616, bertepatan dengan 7 Agustus 2021.

Namun karena pandemi Covid-19, dalam dua tahun ini peringatan hanya dilakukan dengan ritual sembahyangan sederhana di kelenteng-kelenteng pemujaannya.

Kimsin Sam Po Tay Djien dan dua pengawalnya diarak dalam perayaan kedatangan Laksamana Cheng Ho di Semarang.

Termasuk di Semarang, yang tahun-tahun sebelumnya selalu menjadi pusat peringatan kedatangan tokoh yang oleh pemujanya lebih dikenal dengan nama Sam Poo Tay Djien atau Sam Poo Kong itu.

Tradisi perayaan kedatangan Cheng Ho di Semarang dilakukan dengan ritual jut bio. Kimsin Kongco Sam Poo Tay Djien dikirap dari Kelenteng Tay Kak Sie ke Kelenteng Sam Poo Kong. Warga Semarang menyebut tradisi ini sebagai arak-arakan Sam Poo Besar.

Sangat apik Kelenteng Tay Kak Sie mengemas perayaan ini. Sebuah replika baochuan,  ‘kapal harta’ yang 600 tahun lalu digunakan Cheng Ho berlayar, didirikan di atas sungai yang mengalir di samping Gang Lombok.

Di atas kapal itu, aneka pertunjukan digelar sepanjang acara berlangsung. Ribuan lampion semakin memperindah suasana sekitar kelenteng yang didirikan pada 1746 itu.

Sebelum arak-arakan, pada malam harinya dilakukan ritual sembahyangan untuk arca suci Sam Poo di Kelenteng Tay Kak Sie. Usai subuh, sekitar pukul 05.00 WIB, arak-arakan yang diikuti ribuan umat kelenteng, berangkat. Mengular tak kurang dari satu kilometer.

Berada paling depan adalah barisan pembawa bendera merah putih. Diikuti dua orang berpakaian Tiongkok kuno warna biru muda yang masing-masing membawa bendera segitiga besar.

Aneka pertunjukan seni digelar di atas replika baochuan yang didirikan di depan Kelenteng Tay Kak Sie.

Itulah bendera kebesaran Kelenteng Tay Kak Sie dan Kongco Sam Poo Tay Djien. Bendera mereka kibas-kibaskan ke udara, membuka jalan arak-arakan.

Di belakang bendera kebesaran, nampak puluhan orang berpakaian hitam-hitam dan bercaping merah. Mereka membawa replika pusaka dan tulisan ‘Su Jing’ dan ‘Hui Bi’ berhuruf kanji Tiongkok. Kata-kata yang berarti ‘tenang’ dan ‘minggir’ itu seakan mewartakan pada warga bahwa Laksamana Cheng Ho akan lewat.

Dalam arak-arakan juga terlihat barongsay dan liang-liong pengawal Kongco serta ratusan orang berpakaian serba hitam berwajah coreng-moreng. Inilah para bhe kun atau pasukan pengawal ‘jaran sam po’, kuda tunggangan Kongco Sam Poo Thay Djien.

Barisan berikutnya adalah kio pengawal Laksamana Cheng Ho, Lauw Iem dan Thio Ke, yang disusul kio Kongco Sam Poo Tay Djien.

Suara tambur dan terompet dari tetabuhan tradisional Tiongkok Toa Kuk Tui mengiringi kirab yang menempuh jarak sekitar 5 kilometer tersebut.

Di sepanjang jalan, ribuan warga berjajar, menyambut dan memberi penghormatan kepada Kongco Sam Poo Tay Djien. Ratusan umat juga berebut ingin memanggul atau menyentuh kio, berharap berkah dari Kongco.

Sesampai di Kelenteng Sam Poo Kong, duplikat kimsin Kongco dari Tay Kak Sie disandingkan dengan yang asli. Saat itulah umat Tri Dharma melakukan sembahyang memohon berkah di altar utama.

Bhe kun, pengawal kuda Sam Poo, selalu ada dalam arak-arakan Sam Poo Besar.

Dengan tujuan yang sama, banyak jemaat juga berebut masuk ke gua Sam Poo Kong. Sebagian lain melakukan jiamzi di depan gua.

Kio Kongco dari Tay Kak Sie pun tidak luput dari sasaran mereka yang ‘ngalab’ berkah. Perlengkapan kio seperti kertas doa dan daun beringin menjadi sasaran rebutan.

Meskipun selalu meriah, arak-arakan Sam Poo Besar yang merupakan ritual utama she jit pendaratan Laksamana Cheng Ho di Semarang, bukan berarti tak pernah ada gangguan. Bahkan selama 30 tahun lebih, sejak Orde Baru berkuasa, tradisi yang sudah berlangsung ratusan tahun itu sempat dilarang.

Dalam rentang waktu tersebut, warga Tionghoa Semarang membawa kimsin Kongco Sam Poo Tay Djien dari Tay Kak Sie ke Gedong Batu dengan mobil. Tentu secara diam-diam, demi tetap melaksanakan tradisi.

Gangguan terhadap tradisi ini juga pernah terjadi pada pertengahan abad ke-19. Saat itu, Johannes, seorang tuan tanah Yahudi berhasil menguasai tanah Gedong Batu.

Di bawah kekuasaannya, komplek Kelenteng Sam Poo Kong dikomersilkan. Umat yang hendak berziarah atau bersembahyang, dikenakan bea buka pintu yang cukup tinggi, sehingga banyak umat tak mampu.

Sejak matahari terbit, arak-arakan menelusuri jalan-jalan Kota Semarang menuju Kelenteng Sam Poo Kong di Gedong Batu.

Menyikapi keadaan itu, beberapa pejabat di Kongkoan (Dewan Tionghoa), berinisiatif membayar bea buka pintu sekali dalam setahun.

Mula-mula sebesar f 2.000, lalu turun menjadi f 500. Dengan pembayaran seperti ini, ternyata warga Tionghoa hanya diizinkan beribadah sekali dalam setahun, saat she jit atau ulang tahun Kongco Sam Poo Tay Djien.

Agar tetap bisa melakukan pemujaan dengan bebas, kemudian orang-orang Tionghoa sepakat membuat duplikat kimsin Kongco Sam Poo Tay Djien dan dua pengawalnya di Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok.

Akhirnya mereka dapat melakukan pemujaan sewaktu-waktu kepada Kongco, tanpa harus membayar bea buka pintu.

Kesal dengan keadaan ini, Oei Tji Sien, ‘raja gula’ dari Semarang, yang juga ayah kandung konglomerat Oei Tiong Ham, membeli tanah Simongan dari Johannes pada 1879.

Sebelumnya, Oei Tji Sien memang sempat bernazar, jika usaha dagangnya maju pesat, kelenteng di pinggir Kali Garang itu akan ia bebaskan.

Perayaan ini pernah dilarang waktu Orba berkuasa dan mendapat gangguan pada jaman Belanda.

Sejak saat itu, setiap akhir Lak Gwee, kimsin Sam Poo Tay Djien dan dua pengawalnya di Tay Kak Sie dipertemukan dengan kimsin asli di Kelenteng Sam Poo Kong.

Bersama-sama, umat mengarak kimsin-kimsin duplikat tersebut dari Kelenteng Besar Tay Kak Sie ke Gedong Batu dengan berjalan kaki.  Setelah beberapa saat disemayamkan, kimsin-kimsin tersebut diarak pulang kembali ke Tay Kak Sie. HK

1 2 3 4 5

Article Tags:
Article Categories:
Warna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares