Pengalaman Dua Budaya Didik Nini Thowok

Written by
Hiomerah – Memiliki nama lahir Kwee Tjoen An, Didik Nini Thowok dibesarkan dalam keluarga campuran Tionghoa-Jawa. Sebuah pengalaman yang membuat tari-tari karyanya menjadi lebih universal.

Didik Nini Thowok, salah satu maestro tari yang tidak hanya dikenal di Indonesia, tapi eksistensinya juga diakui di luar negeri. Karya-karyanya yang segar dan lucu, membuat Didik mampu bertahan dalam jagad tari hingga puluhan tahun.

Didik adalah salah satu dari sekian warga keturunan Tionghoa Indonesia yang menggeluti budaya Jawa. Latar belakang ini membuat dirinya memiliki pandangan bahwa tidak ada batas apapun dalam berkesenian.

Justru sifat transparan yang dimiliki, sehingga batas apapun bisa ditembus. Maka, terciptalah sebuah akulturasi budaya yang wajar, tanpa rekayasa. Pengalaman hidup yang didapatnya dalam sebuah keluarga campuran Tionghoa dan Jawa, mengajarkan hal itu.

Didik Nini Thowok : “witing tresno jalaran seko kulino”

“Kakek saya itu Tionghoa, tapi hobine ketoprak sama wayang kulit. Itu kan berarti, kalau namanya seneng, bukan karena rekayasa,” kata Didik suatu siang di kantornya, kawasan Jl. Godean, Kota Yogyakarta.

Pembauran yang terjadi dalam keluarganya, berjalan alami, bukan rekayasa karena sebuah kepentingan politik, seperti pernah terjadi di negeri ini beberapa tahun lalu. Didik menjadi tertarik dengan budaya Jawa karena saking seringnya berhubungan dengan budaya itu.

“Pepatah witing tresno jalaran soko kulino itu ya bener. Saya kan dulunya tidak ngerti. Awalnya cuma diajak kakek nonton wayang, ketoprak, ludruk, nonton wong njoged. Akhirnya terus kepingin belajar,” jelasnya.

Darah Ibu

Didik merasa beruntung memiliki pengalaman tentang dua budaya tersebut. Ia tidak suka membedakan, karena semua itu bisa menjadi kolaborasi yang indah, yang bisa saling mengisi dan saling melengkapi.

Namun saat budaya Tionghoa mendapat keterbukaan seperti saat ini, bukan lantas menumbuhkan keinginan Didik untuk secara khusus memfokuskan pada budaya itu.

Didik lebih menyukai tarian-tariannya bersifat universal. Dia ingin karya-karyanya lebih mendunia, hingga bisa masuk kemana-mana.

“Kalau hanya mengolaborasikan dua budaya kan jadinya terbatas,” kata pimpinan LPK Natya Lakshita itu.

Bersama Suminah, ibunya, dari sini asal darah seni mengalir di tubuhnya.

Didik lahir pada 13 November 1954 di Temanggung, Jawa Tengah, dengan nama Kwee Tjoen Lian. Tapi, karena sakit-sakitan, namanya diganti menjadi Kwee Tjoen An. Ia adalah sulung dari 4 saudara yang perempuan semua.

Ayahnya, Kwee Yoe Tiang, pedagang kulit kambing dan sapi, yang berkulit gelap dan berdialek medok, lebih terkesan sebagai orang Jawa daripada Tionghoa. Kwee Yoe Tiang juga suka melihat wayang kulit dan menjadi pemain barongsai setiap perayaan Imlek atau Cap Go Meh.

Namun menurut Didik, darah seninya mengalir dari Suminah, ibunya. Seorang perempuan Jawa berperawakan mungil, berkulit putih, dan berhidung mancung asal Desa Citayem, Cilacap.

Ditentang Kakek

Suminah yang berasal dari keluarga miskin ini, menghabiskan masa kecilnya sebagai penggembala kambing di desa. Setiap menggembala kambing, Suminah sering melantunkan tembang lenggeran bersama teman-temannya.

“Mungkin kesenangan ibu menembang lenggeran ini mengalir ke darah keturunannya, ke bayi yang kelak dikandungnya, ya saya ini,” cerita Didik.

Memang pernah ada keinginan dari perempuan yang mengandungnya itu untuk menjadi penari lengger. Hanya tidak kesampaian, karena waktu itu banyak orang tua yang tidak suka anaknya jadi lengger. Imej bahwa seorang lengger itu murahan, rela menjual tubuhnya, menjadi alasannya.

“Kakek saya pun begitu. Meski dia seorang penikmat, penggemar ketoprak dan lain-lain, begitu tahu cucunya jadi penari, menentang keras,” kenang Didik.

Sang Kakek, Kwee Liang Iek, menginginkan cucu laki-lakinya menjadi seorang pelukis.

Sang kakek, Kwee Liang Iek, memang ingin cucu laki-lakinya jadi seorang pelukis, tidak jauh dari bakat yang juga dimiliki Didik. Di sekolah, menggambar dan menyanyi adalah pelajaran yang paling disukainya.

Suara Didik cukup bagus, terutama bila menyanyikan tembang-tembang Jawa. Hasil lukisannya pun banyak mendapat pujian dari teman-teman sekolahnya.

Engkong Iek sangat mendukung minat menggambar cucu kesayangannya. Alat-alat menggambar dan melukis, semua disediakan.

Ganti Nama

Namun, setelah mengenal tari,  Didik lebih tertarik dengan seni yang kelak membesarkan namanya ini. Perkenalannya dengan tari pun karena seringnya ia diajak oleh sang kakek melihat sendratari yang ada dalam ketoprak atau wayang orang.

Guru tari pertamanya bernama Sumiarsih, teman sekelasnya sendiri. Untuk belajar dalam sebuah sanggar atau guru yang mengharuskannya membayar, Didik kecil memang tidak mampu. Waktu itu, saat Didik duduk di bangku SMP, usaha jual beli kulit milik ayahnya bangkrut.

Untuk menyambung hidup, ayahnya sempat menjadi sopir truk, bahkan mengedarkan lotere. Tempat tinggal mereka pun harus pindah, dari Kampung Banyuurip ke rumah sewaan di Kampung Brojolan Kulon, Temanggung.

Guru tari Didik selanjutnya adalah Sumiyati, yang dibayarnya dengan uang hasil usaha persewaan komik. Kemudian Sugiyanto, tukang cukur langganannya yang pandai menari Bali.

Bersama anak didik. Sejak mula, Didik paling luwes membawakan tarian perempuan.

Setelah peristiwa berdarah G-30-S/1965, muncul aturan yang mewajibkan penduduk keturunan Tionghoa berganti nama. Kwee Yoe Tiang kemudian mengubah namanya menjadi Hadiprayitno. Sedangkan anak sulungnya, Kwee Tjoen An, menjadi Didik.

Sementara itu keadaan ekonomi keluarga semakin buruk. Kios sembako di Pasar Kayu yang dikelola Suminah, terpaksa gulung tikar, berganti warung kecil di samping rumah sewaan.

Di dalam suasana prihatin itu keinginan Didik untuk menjadi penari tidak pernah surut. Bahkan pada 1971, dia berhasil menciptakan koreografi tari sendiri, Tari Persembahan. Gabungan gerak tari Bali dan tari Jawa ini dipentaskan pertama saat peresmian gedung baru sekolahnya, SMA I Temanggung.

Paling Luwes

Dalam acara syukuran lulus SMA (1972), Didik tampil membawakan tari karyanya yang lain, Tari Batik, sebagai penari wanita. Berkebaya dan bersanggul, dengan luwes ia memamerkan gerakan-gerakan tari itu.  Sejak kecil, sifat-sifat kewanitaannya memang terlihat lebih kental pada dirinya.

“Waktu saya belajar menari, setiap kali tarian putri pasti cepat apal, dan menurut guru saya, saya yang paling luwes. Dan ini membuat saya bombong, merasa tersanjung,” ungkapnya.

Pada 1974 Didik berangkat ke Yogyakarta,  mendaftar ke Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI). Uang tabungan menjadi bekalnya, ditambah uang saku Rp. 500,- dari ayahnya, serta lima kilogram beras dari ibunya.

Engkong Iek, akhirnya juga merestui pilihannya untuk menjadi penari, setelah bertahun-tahun enggan menyapa Didik.

Pada suatu kesempatan, senior Didik, Bekti Budi Hastuti atau Tutik memintanya mengisi peran dalam fragmen tari berjudul Nini Thowok. Pentas ini harus ia lakukan sebagai persyaratan ujian sarjana muda.

Tarian Didik selalu segar dan lucu, seperti Tari Kethek Ogleng ini.

Didik didapuk menjadi Mbok Dukun pembawa sesaji. Tutik berperan sebagai boneka nini thowok dan pawangnya Sunaryo.

Didik sukses membawakan Mbok Dukun yang rada genit dan kocak hingga akhir fragmen. Sang dukun lari terbirit-birit dikejar boneka nini thowok yang mengamuk, sampai sanggulnya copot. Dari situlah, kelompok mini itu termasyur sampai ke luar dinding kampus.

“Sejak itu pula namaku dirubah menjadi Didik Nini Thowok,” kenang Didik. HK.

 

1 2 3 4 5

Article Tags:
Article Categories:
Sosok

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares