Pelestari Potehi Toni Harsono; Sangat Sedih Saat Pertunjukan Usai

Written by
Hiomerah – Komitmennya, agar potehi tetap lestari dan dimainkan sebenar-benarnya. Kecintaannya pada kesenian ini sejak kanak-kanak, pernah membuatnya begitu sedih ketika pertunjukan usai.

Kecintaan Toni Harsono pada kesenian asli Tiongkok ini telah tumbuh sejak kanak-kanak. Lingkungan Kelenteng Hong San Kiong Gudo, Jombang, yang menjadi tempat tinggalnya sejak kecil menumbuhkan kecintaan itu.

“Papa saya menjadi biokong di kelenteng ini,” kata laki-laki yang juga menjabat Ketua Kelenteng Hong San Kiong itu kepada hiomerah beberapa waktu lalu.

Selain leluasa bermain di halaman kelenteng yang luas, Toni yang dilahirkan dengan nama Tok Hok Lay juga bisa melihat pertunjukan potehi. Saat beranjak dewasa, dia bahkan merasa bahwa potehi benar-benar telah menjadi bagian kegembiraan hidupnya.

Meski sepi, pentas potehi rutin dilakukan di Kelenteng Hon San Kiong tempat Toni mengabdi. (Foto : hiomerah)

“Saya merasa sangat sedih bila melihat pertunjukan potehi berakhir. Saya akan menyingkir dari keramaian sebelum pentas benar-benar usai,” kenang Toni.

Rasa gandrungnya terhadap potehi bukan hanya melihat pertunjukannya saja, tapi juga tertarik pada pembuatannya. Kebetulan, di depan Kelenteng Hong San Kiong tinggal Tan Soen Bing, seorang pemain musik pengiring wayang potehi.

Kadang di waktu senggang Tan Soen Bing membuat boneka potehi untuk melengkapi atau mengganti wayang koleksi kelenteng yang rusak. Hok Lay kecil memperhatikan apa yang dilakukan laki-laki pengurus kelenteng itu, kemudian ikut-ikutan membuat pula.

Selain pada Tan Soen Bing, dia terkadang juga melihat cara Sehu (dalang potehi) Liem Sing Tjwan membuat potehi. Pengamatan sekaligus praktek yang kemudian hari membuatnya memiliki kepekaan terhadap bentuk dan pengecatan boneka potehi.

Darah potehi memang mengalir dalam tubuh laki-laki yang dilahirkan oleh perempuan bernama Koo Trien Nio pada 6 Juli 1969 itu. Kakeknya, Tok Su Kwie, yang asli kelahiran Hokkian, Tiongkok, adalah sehu ternama pada masanya. Jejak Su Kwie dilanjutkan oleh putra bungsunya, Tok Hong Kie, yang tak lain adalah ayah Toni Harsono.

Meski Tok Hong Kie seorang sehu, bukan berarti dia ingin anak-anaknya mengikuti jejaknya. Kehidupan susah secara ekonomi sebagai dalang potehi mendasari sikapnya itu. Keluarga Hong Kie bahkan pernah tinggal di sepetak kamar kecil bekas kandang ayam hasil belas kasihan tetangga. Beruntung sekitar 2 tahun tinggal di tempat itu, Hong Kie diminta menjadi penjaga klenteng.

“Papa melarang saya jadi dalang potehi. Katanya, daripada jadi dalang potehi mending jadi pelayan toko,” kenang Toni.

“Papa menjelaskan argumennya itu dengan wayang potehi sendiri. Dilihat orang ketika pentas, tapi sendiri dan merana setelahnya, tanpa ada yang memperhatikan lagi,” lanjut penghobi motor tua ini.

Di antara potehi-potehi kuno peninggalan kakeknya. (Foto: hiomerah).

Dilarang menjadi sehu, bukan berarti kecintaannya terhadap potehi pupus begitu saja. Berbagai keinginan dan angannya terhadap kelestarian potehi menemukan jalannya ketika di kemudian hari dia sukses sebagai pengusaha toko emas.

Sebuah kejadian ganjil yang dialaminya juga membuatnya yakin bahwa almarhum sang ayah mendukung keinginan besarnya. Suatu malam, ketika sedang berkendara menuju Tulungagung untuk mencari informasi tentang boneka potehi, tiba-tiba Toni mencium aroma tubuh sang ayah di dalam mobilnya.

Dia merasakan kehadiran roh sang ayah begitu dekat di sisinya. Seakan hadir untuk memberikan restu terhadap keinginan Toni yang selama itu tak surut menyesaki angan-angannya. Yaitu keinginan untuk menyemarakkan kembali kehidupan wayang potehi.

“Keinginan besar dan komitmen saya adalah ingin melestarikan wayang potehi dan mengembalikan bentuk boneka potehi ke bentuk yang sebenarnya,” kata Toni di beranda belakang Kelenteng Hong San Kiong yang teduh.

Dia memulai misinya dengan mereproduksi boneka-boneka potehi sesuai pakemnya. Ia mengumpulkan boneka-boneka tua milik sang kakek yang telah diserahkan pada Kelenteng Hong San Kiong. Dengan contoh-contoh boneka asal Tiongkok ini, dia meminta bantuan Tan Soen Bing untuk merepronya.

Hasilnya sangat mengagumkan. Boneka buatan lelaki tua yang pernah menjadi panutannya itu, nyaris menyerupai boneka potehi asli Tiongkok.

Dalam upayanya mereproduksi boneka-boneka potehi, buka berarti Toni tak mengalami hambatan. Pada 2001 misalnya, dia pernah ditolak oleh seorang pemilik wayang yang memiliki koleksi asli.

Bersama rombongan Fu He An saat lawatan potehi di Taiwan. (Foto: istimewa).

“Nggak tahu kenapa. Mungkin takut kalau wayangnya saya tiru,” ungkap Toni.

Toni juga menghidupkan lagi perkumpulan Hok Ho An (Fu He an) yang dulu dibentuk oleh kakeknya, Tok Su Kwie. Lewat wadah ini Toni berharap terjalin sebuah kerjasama antara sehu, pemain musik, dan perangkat-perangkat lain dalam kesenian wayang potehi.

Karena selama ini banyak sehu yang tidak memiliki pemain musik sendiri. Dalam Hok Ho An, para sehu bisa memakai perangkat pertunjukan potehi, mulai boneka hingga panggung tanpa dikenai sewa sama sekali.

“Yang penting kesenian wayang potehi tetap ada dan dimainkan sebenar-benarnya, meski perkembangan jaman telah membuatnya sepi penonton,” pungkas Toni yang oleh banyak orang disebut sebagai maecenas potehi dari Gudo ini.

Usaha Toni membuahkan hasil. Potehi dan Fu He An dikenal di mana-mana. Bahkan ia dan anggota Fu He An lainnya sempat diundang melakukan lawatan budaya potehi ke Penang (Malaysia), Jepang, Tiongkok, dan Taiwan.

Beberapa penghargaan juga diterimanya. Salah satunya pada 2017, dari Bentara Budaya, Jakarta, sebagai tokoh pelestari wayang potehi.

Impian Toni yang lain adalah membawa potehi pentas keliling Nusantara. Ia menginginkan sebuah mobil yang bisa dipakai untuk keliling sekaligus sebagai panggungnya. Sehingga kesulitan pementasan potehi dengan bongkar pasang panggung yang menghabiskan waktu bisa teratasi.

Mobil Gopot, panggung potehi keliling yang menjadi impian Toni untuk lebih mengenalkan potehi ke masyarakat secara dekat.

Keinginan itu tak lama lagi akan terwujud. Pada Rabu, 12 Agustus 2020 lalu, PT Marimas Putera Kencana memberi bantuan 1 unit mobil untuk pementasan potehi keliling. Penyerahan mobil dilakukan langsung oleh Direktur PT Marimas Putera Kencana, Harjanto Halim di Semarang.

“Dengan adanya Mobil Wayang Potehi Keliling ini sangat membantu karena tidak perlu bongkar pasang dan bisa berpindah tempat dengan mudah,” kata Toni. HK.

 

 

1 2 3 4

Article Tags:
Article Categories:
Sosok

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares