Pelabuhan Tuban Masa Lalu (2-Habis); Mundur Bersama Surutnya Majapahit

Written by
HiomerahPelabuhan Tuban mencapai puncak kejayaannya pada abad XIV. Setelah itu mengalami kemunduran bersama surutnya Majapahit.

Ketika berada di bawah kekuasaan Raja Airlangga, Pelabuhan Tuban dikenal dengan nama Kambang Putih. Pada masa Kerajaan Kahuripan itu Kambang Putih difungsikan sebagai pelabuhan antar negara.

Pelabuhan Kambang Putih menjadi tempat berlabuhnya kapal-kapal niaga dari wilayah Nusantara, Asia Selatan, dan Asia Timur. Sedangkan Hujung Galuh merupakan pelabuhan antar pulau.

Selain peran tersebut, sejarah Tuban juga menunjukkan bahwa daerah ini mempunyai fungsi penting dalam pertahanan militer. Prasasti Kambang Putih misalnya menyebutkan bahwa Sri Maharaja Sira Mapanji Garasakan memberi perintah kepada penduduk untuk memperbaiki Pelabuhan Kambang Putih.

Fungsi sebagai ujung tombak pertahanan masih dipertahankan sampai masa akhir Singasari. Dalam kitab Pararaton, disebutkan bahwa Pelabuhan Tuban adalah tempat tentara Singasari berangkat menuju Melayu pada 1275.

Fungsi itu, ditambah dengan fungsi perniagaan, berlanjut ketika Tuban berada di bawah kekuasaan Majapahit. Kapal-kapal berukuran besar pernah singgah di pelabuhan ini. Salah satu jangkar bermata dua yang sekarang berada ‘in situ’, menjadi buktinya.

Panjang jangkar tersebut sekitar empat meter, lebar dua meter, atau dua kali lebih besar dari jangkar yang ada di Museum Kambang Putih. Dengan jangkar sebesar itu, bisa diperkirakan bagaimana besar kapal yang membawanya.

Di antara kapal-kapal dari India Utara, India Selatan, Siam, Burma, Kamboja, dan Campa, kapal-kapal dari Tiongkok mulai mendominasi perdagangan di Tuban pada abad ke-13. Kitab-kitab sejarah Tiongkok menyatakan itu.

Juga beberapa bukti selain jangkar bermata empat di atas. Seperti beberapa keramik Tiongkok yang juga menjadi koleksi Museum Kambang Putih.

Keramik-keramik koleksi Museum Kambang Putih berbentuk guci bertelinga empat dan aneka ragam alat keperluan rumah-tangga. Pada beberapa guci besar atau tempayan terdapat cap kerajaan dan hiasan bermotif tumbuh-tumbuhan. Keramik-keramik yang ukurannya bervariasi ini, ditemukan di seputar Pantai Boom, Tuban, pada 1980-an.

Menurut Heri Kustomo, salah seorang peserta penulisan deskripsi koleksi unggulan Museum Kambang Putih, penelitian yang dilakukan selama ini menyimpulkan bahwa keramik-keramik tersebut berasal dari abad XII sampai XVII.

Berdasarkan analisis pertanggalan keramik-keramik Tiongkok, keramik yang ditemukan di Tuban, antara lain berasal dari Dinasti Sung (1127-1279 M), Dinasti Yuan (1278-1367 M), dan Dinasti Ming (1368-1644 M).

Guci telinga empat yang diperkirakan berasal dari Tiongkok Selatan sekitar abad XIII ini ditemukan di Pantai Boom, Tuban.

Sebuah penelitian yang dilakukan Balai Arkeologi Jogjakarta pada 1980, juga mengemukakan, saat dilakukan survei bawah air di sekitar Pantai Bulu, Gadon, Tuban, dan Palang, banyak ditemukan keramik yang berasal dari Dinasti Yuan.

Lalu, di manakah letak pusat pelabuhan tersebut, apakah persis di pinggir laut Kota Tuban sekarang? Menurut Supriadi, besar kemungkinannya pelabuhan masa lalu itu terletak di kawasan Glondong, Kecamatan Tambak Boyo. Lima jangkar yang ditemukan di tempat itu, bukti kuatnya.  

Di Desa Bancar, Kecamatan Bancar, juga bisa ditemui sebuah tempat yang bisa diduga sebagai tempat pelabuhan itu dulu berada. Menurut penduduk setempat, di lokasi yang sekarang menjadi Tempat Pelelangan Ikan (TPI) itu, sekitar akhir 1970-an masih bisa ditemui benda-benda yang menguatkan pendapat bahwa tempat itu dulu sebuah pelabuhan. Seperti reruntuhan rumah-rumah kuno, sumur, dan rantai-rantai kapal yang dibuat tanpa sambungan.

“Sayang bekas-bekas itu sudah hilang ketika tempat itu dibuat tambak oleh penduduk,” kata Rasman, warga Bancar.

Setelah mencapai puncak kejayaannya pada abad XIV, Pelabuhan Tuban mengalami kemunduran bersama surutnya Majapahit. Beberapa sumber Tiongkok menyebutkan, Pelabuhan Tuban sebagai tempat yang tidak aman, sehingga kapal-kapal Tiongkok menjauhinya.

Sebuah jangkar raksasa yang masih in situ di Desa Bancar memperkuat dugaan di mana letak Pelabuhan Kambang Putih berada.

Mereka lebih suka ke pelabuhan Gresik dan Surabya. Bahkan disebut, pelabuhan ini sebagai sarang bajak laut, karena penguasa pelabuhan memaksa kapal-kapal Tiongkok untuk singgah.

Pertikaian politik pada masa kekuasaan Girindrawardhana diduga menjadi penyebabnya. Selanjutnya Pelabuhan Tuban mengalami pasang surut, bersaing dan kalah oleh pelabuhan-pelabuhan lain.

“Dan mungkin pada akhirnya hilang oleh proses pendangkalan,” kata Supriadi. HK.

 

 

1 2 3

Article Tags:
Article Categories:
Jejak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares