Pelabuhan Tuban Masa Lalu (1); Pintu Tartar Menyerbu Singasari

Written by
Hiomerah – Selain untuk pelabuhan perniagaan rempah-rempah di Asia, Pelabuhan Tuban di masa lalu juga  berfungsi sebagai tempat pertahanan militer. Di sinilah pasukan Tartar merencanakan penyerangan terhadap Singasari. 

Suatu hari di 1293, ribuan bala tentara Kekaisaran Mongol, mendarat di Tuban, sebuah daerah di pesisir utara Jawa bagian timur. Dipimpin dua orang jenderal: Shihpi dan Kau Hsing, mereka berencana menyerbu Kerajaan Singasari.

Perlakuan kasar Kertanegara kepada salah satu utusan Mongol, Meng Chi, beberapa tahun sebelumnya, memaksa Kaisar Kubilai Khan mengirimkan pasukannya untuk memberi ‘pelajaran’ raja Singasari tersebut.

Di daerah pantai yang mereka sebut Tu-ping-tsu itu, Shihpi dan Kau Hsing bertemu dengan panglima Tartar lainnya, Iheh-mi-shih. Di sini, mereka mengatur siasat. Shihpi memimpin setengah pasukan pergi ke Sidayu dengan beberapa kapal.

Dari Sidayu, mereka melanjutkan perjalanan ke muara Pa-tsieh. Setengah pasukan lainnya, dipimpin Iheh-mi-shih dan Kau Hsing, berkuda melalui jalan darat langsung masuk ke pedalaman. Ratusan kapal mereka tinggalkan di Tu-ping-tsu.

Saat itu, Kerajaan Singasari tengah menghadapi pemberontakan salah satu penguasa bawahannya, Jayakatwang, Raja Kediri. Ketika Jayakatwang menyerbu, sebagian besar tentara Singasari tengah dikirim ke Palembang.

Singasari pun dengan mudah ditaklukkan dan Kertanegara tewas. Karena kondisi inilah, Tsu-ping-tsu sebagai pelabuhan utama Kerajaan Singasari dengan mudah dijadikan basis pertahanan Jenderal Shihpi dan pasukannya.

Setelah Jayakatwang berkuasa, salah satu menantu Kertanegara yang selamat, Wijaya, menyusun sebuah strategi taktik untuk mengalahkan penguasa dari Kediri itu. Sebagai menantu Kertanegara dan bekas panglima perang, Wijaya tahu benar sikap apa yang akan dilakukan Khubilai Khan setelah ‘peristiwa Meng Chi berdarah’.

Maka dimanfaatkanlah kedatangan balatentara Mongolia itu untuk memukul Jayakatwang. Gempuran dahsyat aliansi pasukan Tartar dan sisa-sisa pasukan Wijaya, akhirnya mampu menumbangkan Jayakatwang.

Namun bagi Wijaya, ini bukan kemenangan yang sesungguhnya. Tentara Tartar yang sebenarnya datang ke Pulau Jawa untuk menghukum mertuanya, masih menjadi ganjalan. Shihpi dan pasukannya harus ditumpas!

Setelah menumpas 200 pasukan yang mengawalnya saat kembali ke Tarik, pasukan Wijaya kemudian bergerak ke Daha dan Canggu menggempur pasukan Mongolia. Lebih dari 3000 tentara Tartar berhasil dia binasakan.

Pasukan Wijaya masih mengejar sisa-sisa tentara Tartar yang berusaha meninggalkan Jawa lewat Tu-ping-tsu. Di sini,  pasukan Wijaya berhasil menghancurkan ratusan kapal yang sedianya digunakan lari tentara Mongol.

Jangkar bermata empat yang tersimpan di Museum Kambang Putih.

Sisa-sisa pertempuran itu sekarang masih bisa dilihat di Museum Kambang Putih, Tuban. Salah satunya jangkar kapal, yang saat pertempuran ikut tenggelam bersama kapalnya. Namun, ekspedisi pelayaran Cheng Ho antara 1371 hingga 1435 juga bisa diduga yang meninggalkannya.

Jangkar tersebut adalah jangkar bermata empat yang ditemukan di Desa Bulu, Kecamatan Bancar, Kabupaten Tuban, pada 1979. Di lokasi ini juga ditemukan empat jangkar lainnya. Namun hanya yang bermata empat disimpan di Museum Kambang Putih. Dua dari empat jangkar tersebut masih in situ, tetap di lokasi penemuan. Sedang dua lainnya berada di Museum Mpu Tantular Surabaya.

Menurut Supriadi, mantan Kepala UPTD Museum Kambang Putih, berdasar studi kepustakaan yang dilakukannya, jangkar bermata empat merupakan ciri khas jangkar kapal Tiongkok. Ini berbeda dengan jangkar kapal-kapal dari Eropa dan Timur Tengah yang umumnya bermata dua.

“Jangkar ini dibuat secara tradisional,” kata Supriadi, beberapa waktu lalu.

Di seluruh badan jangkar terdapat tempaan tidak rata hasil pukulan benda sejenis palu. Tingginya 183 cm, tebal 14 cm, dan panjang masing-masing mata jangkar 123 cm. Uniknya, menurut Supriadi, bahan dasar jangkar ini adalah satu besi utuh. Empat matanya dibuat dengan cara membelah salah satu ujung besi tersebut.

Analisa yang mengatakan bahwa jangkar tersebut berasal dari kapal-kapal Tiongkok semakin kuat oleh beberapa sumber Tiongkok dari abad ke XV. Dalam sebuah kitab sejarah Tiongkok disebutkan nama-nama pelabuhan yang dilalui oleh pengembara Tiongkok yang hendak menuju kotaraja Majapahit.

Museum Kambang Putih juga menyimpan benda-benda lain yang diperkirakan sebagai senjata tentara Tar Tar.

 “Kapal yang datang dari negara lain datang pertama kali di kota yang bernama Tu-pan. Dari Tu-pan menuju ke timur sekitar setengah hari, kamu akan menemukan desa baru, dengan nama asingng Koer-sik (Gersik)…Kemudian pada kota yang bernama Su-lu-ma-I, dengan nama asingnya Su-erh-pa-ya (Surabaya). Dari Su-erh-pa-ya menggunakan perahu kecil sekitar tujuh atau delapan li menuju pelabuhan Cang-ku, setelah perjalanan setengah hari, kamu akan mengunjungi Man-chepo-I (Majapahit), tempat Raja tinggal”. Demikian bunyi terjemahan kitab tersebut.

Entah dari mana jangkar itu berasal, yang pasti berdasar sumber-sumber tersebut, Tuban pernah menjadi pelabuhan internasional yang sangat dikenal di mancanegara. Selain sebagai persinggahan kapal-kapal niaga dari mancanegara, menurut Ma Huan (1416), Tuban yang disebut sebagai Tu-ping-tsu, pada waktu itu merupakan pusat perdagangan rempah-rempah. HK (Bersambung)

 

1 2 3

Article Tags:
Article Categories:
Jejak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares