Pekong Tua Singkawang, Tempat Dewa Bumi Raya Bersemayam

Written by
Hiomerah – Kelenteng pemujaan Dewa Bumi ini yang paling dituakan dan sangat dikeramatkan oleh warga Singkawang. Tempat umat memuja, mengharap berkah, serta meminta petunjuk tentang berbagai hal.

Tak salah bila Kota Singkawang di Kalimantan Barat sering disebut sebagai Kota Seribu Pekong. Hampir di setiap tempat di kota ini bisa dijumpai pekong atau kelenteng menurut istilah orang-orang Tionghoa di Jawa.

Mulai yang ada di tengah-tengah perempatan jalan, pinggir jalan raya, dekat pertokoan, dekat perkantoran atau pasar, di tengah perkampungan, hingga di halaman rumah penduduk.

Pekong Tua dalam suasana malam hari saat merayakan Cap Go Meh beberapa waktu lalu.

Dari sekian banyak pekong di Singkawang, ada satu yang paling dikenal, dituakan, dan sangat dikeramatkan oleh warga setempat. Yaitu Vihara Tri Dharma Bumi Raya atau yang lebih dikenal dengan sebutan Pekong Tua.

Tempat peribadatan ini terletak di Jalan Sejahtera, sebuah kawasan perniagaan yang terletak di pusat Kota Singkawang. Oleh masyarakat Tionghoa setempat, Pekong Tua dipercaya sebagai tempat berdiamnya Dewa Bumi Raya yang menjaga Kota Singkawang.

Karena kepercayaan inilah, setiap perayaan Tionghoa di Singkawang, Vihara Bumi Raya menjadi pusatnya. Saat perayaan Cap Go Meh misalnya, semua tatung yang akan kirab membersihkan kota dari roh jahat, wajib meminta restu Dewa Bumi Raya di pekong ini.

Di saat Cap Go Meh itu, Pekong Tua menjadi jujugan ribuan orang yang ingin bersembanyang pada Dewa Bumi Raya. Mereka bukan hanya penganut Tri Dharma dari Singkawang, juga umat dari kota-kota lain di Kalimantan Barat, bahkan dari Jawa dan luar negeri seperti Malaysia, Brunei, dan Singapura.

Di malam menjelang Cap Go Meh tiba, Vihara Bumi Raya juga mempertontonkan keramaian yang luar biasa. Bukan saja oleh umat atau pengunjung, tapi juga dipenuhi para wartawan dan fotografer dari berbagai media massa yang ingin mengabadikan suasana. Banyak pula wisatawan, kebanyakan anak-anak muda dari luar daerah, yang ingin berfoto di depan pekong.

Seorang umat sedang bersembahyang di depan altar Dewa Bumi Raya.

Tempat Petunjuk

Pusat persembahyangan Pekong Tua terdapat pada ruang tengah bangunan, tempat arca suci Dewa Bumi Raya bersemayam. Di depan altar sang dewa inilah, biasanya umat bersembahyang, memuja, atau berharap mendapat berkahnya.

“Banyak pula yang meminta petunjuk tentang berbagai hal dengan jiamzi atau melempar buah kayu seperti yang di Jawa disebut pwak pwee,” jelas Sumberanto Tjitra, salah satu pengurus Pekong Tua.

Satu yang membedakan dengan tempat ibadah lain, arca suci Dewa Bumi Raya di vihara ini memegang Ru Yi atau simbol kekuasaan dan keberuntungan di tangan kanannya. Sedangkan di pekong lain, patung Toa Pe Kong membawa tongkat dan botol arak.

Keunikan lain, arca suci dewa utama tersebut didampingi oleh sang istri. Sementara di sebelah kiri dan kanannya berdiri arca suci Dewa Kok Sin Bong dan Dewa On Chi Siu Bong. Ada pula arca suci Buddha Gautama yang terletak di bagian tengah atas.

Konon arca suci Toa Pe Kong di atas dibawa langsung dari Tiongkok oleh Lie Shie, seorang pemimpin keagamaan di negeri tersebut. Pada 1878, di daerah yang masih dikelilingi hutan belantara tersebut, dia mendirikan sebuah tempat pemujaan.

Awalnya hanya sebuah pondok sederhana, yang juga berfungsi sebagai tempat transit orang-orang Tionghoa dari luar Singkawang. Waktu itu, Singkawang memang masih merupakan bagian dari Kerajaan Sambas.

Hadir di Mimpi

Ribuan imigran Tionghoa banyak berdatangan dan bekerja di tambang-tambang emas yang dimiliki kerajaan. Karena tuntutan keadaan, juga oleh pecahnya peperangan, kemudian banyak di antara mereka memilih menetap di daerah Singkawang.

Sebagai tempat transit, beberapa puluh tahun lalu Vihara Bumi Raya masih meninggalkan bekas-bekasnya, berupa gubug untuk menambatkan kuda.

Pada 1920, pondok pemujaan dibangun menjadi bangunan permanen. Namun 10 tahun kemudian, vihara ini rusak berantakan, menyusul kebakaran besar yang melanda Singkawang.

Beruntung arca suci Dewa Bumi Raya dan arca-arca yang lain dapat diselamatkan. Tiga tahun kemudian, warga berusaha membangun kembali vihara ini setelah dana terkumpul.

Dewa Bumi Raya yang bersemayam di pekong ini konon pernah hadir di mimpi asisten residen Singkawang.

Namun pembangunan tersebut tidak mendapat ijin pemerintah kolonial Belanda, karena letaknya dianggap menyalahi tata kota. Konon, setelah penolakan itu, istri asisten residen, penguasa kolonial tertinggi di Singkawang, didatangi oleh roh Dewa Bumi Raya dalam mimpinya.

Lewat mimpi tiga malam berturut-turut itu Sang Dewa memohon untuk dapat kembali ke tempatnya menjaga kota. Akhirnya, permohonan warga untuk membangun kembali vihara pun disetujui oleh asisten residen.  HK.

1 2 3 4

Article Tags:
Article Categories:
Pecinan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares