Orang-Orang Tionghoa Pahlawan Perang Kemerdekaan dari Blora

Written by
HiomerahOrang-orang Tionghoa di Blora memiliki andil besar dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Ikut bertempur di medan perang hingga memenuhi kebutuhan logistik para pejuang. Mereka layak disebut pahlawan.

Warga Tionghoa di Indonesia banyak yang terlibat aktif dalam perjuangan kemerdekaan. Hampir di semua daerah, mereka bahu-membahu dengan pejuang lain untuk mewujudkan Indonesia merdeka.

Di Blora, Jawa-Tengah, puluhan warga Tionghoa juga berjuang melawan penjajah. Salah satunya Oei Tiang Sing alias Rekso Atmojo, yang tercatat sebagai anggota Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI).

Semasa perjuangan kemerdekaan, Oei Tiang Sing banyak membantu Batalyon Ronggolawe di bawah pimpinan Mayor Sudono.  Bahkan rumahnya di Banjarrejo, pernah mejadi markas batalyon ini.

Oei Tiang Sing tidak hanya ikut berperang di medan pertempuran. Laki-laki kelahiran Desa Banjarrejo pada 1912 itu, juga mendapat tugas memenuhi kebutuhan logistik.

Oei Tiang Sing alias Rekso Atmojo dan Tjan Djoen Nio, istrinya.

“Papa yang waktu itu punya toko pracangan (kelontong) pernah nyumbang beberapa ekor sapi untuk keperluan perang,” ungkap Oei Bian Hien, anak pertama Oei Tiang Sing, saat ditemui Hiomerah di Blora, beberapa waktu lalu.

Karena aktivitasnya itu, akhirnya Oei Tiang Sing ditangkap Belanda. Ketika rumahnya digeledah, serdadu Belanda menemukan satu peti berisi amunisi.

Oei Tiang Sing, yang tidak ikut lari karena ingin menyelamatkan peluru-peluru itu, pun digelandang ke markas Belanda. Ia ditahan dan menjalani interogasi selama beberapa waktu di kantor IVG (sekarang markas Polisi Milier, Jl. Pemuda, Blora).

Atas jasa-jasanya, Oei Tiang Sing mendapat penghargaan dari pemerintah pada 1950-an. Pada 1960-an, ia sempat aktif sebagai anggota Partai Nasionalis Indonesia (PNI).

Untuk menopang kebutuhan ekonomi keluarga, Tiang Sing berdagang sapi dan mengusahakan pemerahan susu. Usaha pemerahan susu ini sekarang diwarisi oleh anak-anaknya.

Pada 6 Januari 1975, Oei Tiang Sing menutup mata untuk selama-lamanya, meninggalkan Tjan Djoen Nio, istri, dan enam putra-putri. Bagi anak yang ditinggalkan, Oei Tiang Sing dikenang sebagai orang yang berwatak keras dan disiplin.

“Papa selalu mengajarkan agar kami jangan pernah menyusahkan orang lain karena nanti akan susah sendiri. Tapi bila kami mau menolong orang, di waktu kami mendapat kesusahan pasti akan ada orang lain yang menolong,” kenang Bian Hien.

Keluarga Pejuang

Pejuang lain adalah Sie Tik Hok alias Sastro Handoyo yang lebih dikenal dengan nama Bah Bejo. Ia aktif di Badan Keamanan Rakyat (BKR), bertugas mencari obat-obatan untuk logistik perang gerilya.

Untuk tugas itu, ia menyamar sebagai pedagang, sehingga bisa leluasa keluar masuk markas tentara Belanda. Barang dagangannya, daging dan roti, dia barter dengan obat-obatan.

Obat-obatan itu kemudian ia kirim ke para pejuang di Desa Pelem di bawah pimpinan Mayor Yasir Hadibroto (pernah menjabat Pangdam IV/Diponegoro dan Gubernur Lampung).

“Ayah saya juga pernah dikirim dalam sebuah pertempuran di Demak,” jelas Sie Tiong An, putra sulung Sie Tik Hok.

Sie Tik Hok meninggal dunia pada 1987 dalam usia 69 tahun. Berbeda dengan Oei Tiang Sing, suami Lie Swan Nio tersebut, tidak pernah ikut menjadi anggota LVRI.

“Katanya, nggak mau repot, sudah tua malas kalau disuruh baris-berbaris,” jelas pemilik rumah di Jl. Gunung Wilis, Kota Blora, tersebut.

Di Blora juga ada sebuah keluarga Tionghoa pejuang. Tan Tik Hok dan dua orang putranya, Tan Oen Kiong dan Tan Oen Djiang.

Tan Tik Hok pernah ditangkap dan disiksa Belanda, karena rumahnya di Desa Kamolan dijadikan dapur umum para pejuang. Dapur umum ini berfungsi untuk menyuplai kebutuhan makan gerilyawan yang bermarkas di Desa Pelem.

“Mendengar Tan Tik Hok ditangkap, istrinya meninggal dunia mendadak terkena serangan jantung,” jelas Tjeng Tik Soen alias H. Soesanto Rahardjo, tokoh Tionghoa Blora.

Aktivitas dua putranya, Tan Oen Kiong dan Tan Oen Djiang, lebih mengerikan. Mereka pernah menghancurkan konvoi tank Belanda dengan bom yang dipasangnya di Jembatan Ngampel.

Pejuang lain adalah Tan Tjee Thay alias TA. Hartono yang pernah menjadi anggota Tentara Pelajar (TP) Brigade 17 dibawah komando Mayor Slamet Riyadi. Waktu itu, sekitar 1948, Tjee Thay tercatat sebagai pelajar SKP di Solo.

Dibuang ke Digul

Selain keluarga Tan Tik Hok, Blora juga pernah memiliki keluarga pejuang yang lain. Mereka adalah kakak beradik Tjoa Tok Giap dan Tjoa Tok Gwan.

Aktivitas perjuangan mereka dilakukan sebelum masa perang kemerdekaan. Dengan tuduhan memberontak, mereka pernah dibuang ke Boven Digul bersama pejuang lain, Lie Ting Pek.

Rupanya, hukum buang tak membuat mereka jera. Saat kembali pada 1938, mereka aktif kembali dalam perjuangan. Namun, pada masa pendudukan Jepang, Tjoa Tok Giap ditangkap di Surabaya dan disiksa.

“Sampai sekarang tidak diketahui kapan dia meninggal dan di mana dimakamkan,” kata Tjoa Hwat Djiang, keponakan Tok Giap.

Sedangkan Tjoa Tok Gwan meninggal karena usia lanjut dan dimakamkan di Kalisangku. Begitu pula dengan Lie Ting Pek, meninggal karena tua pada 9 Maret 1965 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Cepu.

Selain nama-nama di atas, masih banyak pejuang Tionghoa yang belum tergali sepak terjangnya. Perjuangan mereka membuktikan tak sedikit andil etnis Tionghoa dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Juga menjadi bukti bahwa pembauran dan solidaritas antar etnis di Indonesia terjalin sejak lama.

“Juga untuk memupus anggapan bahwa orang Tionghoa hanya mau enaknya saja, tidak mau berjuang, tidak mau susahnya,” tegas Soesanto. HK.

 

1 2 3 4

Article Tags:
Article Categories:
Jejak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares