Merayakan Imlek, Buang Uang Pancing Rejeki

Written by
Hiomerah – Bagi orang Tionghoa, membuang uang saat tahun baru Imlek adalah ‘pancingan’ untuk mengundang rejeki yang lebih besar. Tempo dulu, pesta pora, bahkan judi sekalipun, dianjurkan.

Sudah menjadi adat kebiasaan bangsa Tionghoa di manapun untuk berpesta dan bersenang-senang saat menyambut Tahun Baru Imlek. Warga Tionghoa biasanya akan berpakaian bagus dan menikmati hidangan mewah, yang untuk sebagian warga tidak pernah dinikmatinya pada hari-hari biasa.

Rumah-rumah mereka dibersihkan dan dihias sebagus mungkin. Lampion, phao atau petasan dipasang di mana-mana. Pokoknya, tahun baru menurut perhitungan lunar (bulan) ini dirayakan dengan sangat meriah. Segala sesuatunya dibikin istimewa.

Tradisi bergembira-ria ini sebenarnya tidak jauh beda dengan tradisi perayaan hari-hari besar lain, seperti Idul Fitri atau Natal.  Namun bagi warga Tionghoa, bersenang-senang dan berpesta dalam menyambut Tahun Baru Imlek adalah suatu keharusan. Wajib hukumnya!

Mereka berkeyakinan bahwa perayaan tahun baru Imlek adalah sebuah ‘ritual’ untuk membuang uang. Maka, pesta pora, bersenang-senang, bahkan judi sekalipun menjadi sah mereka lakukan pada perayaan ini.

Meski kehidupan sehari-hari sangat sederhana, saat merayakan Imlek makanan mewah dinikmati.

Padahal, banyak di antara mereka yang sehari-harinya hidup dengan sangat sederhana. Untuk makan sehari-hari pun mereka sangat berhemat. Hasil usahanya, tidak mereka makan seluruhnya, tapi disisihkan dan ditabung.

Marcus A.S dalam bukunya “Hari-Hari Raya Tionghoa” menulis bahwa keadaan hidup sehari-hari yang penuh keprihatinan itu akan berubah 180 derajat ketika perayaan Tahun Baru Imlek tiba. Makanan mewah mereka nikmati, pakaian baru mereka kenakan. Pesta meriah dan menyenangkan mereka adakan.

Buang Uang

Mereka yang mempunyai kehidupan lebih baik, tidak hanya mengenakan pakaian baru dan menyantap makanan enak. Tempo dulu, berbagai hiburan, seperti barongsay, liang-liong, tanjidor, tari-tarian, wayang, dan berbagai kesenian yang lain, bisa mereka tanggap. Tinggal membuka pintu lebar-lebar, bermacam hiburan tersebut akan mendatangi rumah mereka.

Aneka manisan, buah-buahan, dan kue-kue, mereka sajikan di meja abu leluhur. Lampu-lampu dan kembang api-pun menyala terang benderang di rumah mereka. Dan petasan dipasang dimana-mana menambah semaraknya perayaan tahun baru.

Bagi bangsa Tionghoa, baik yang serba kecukupan maupun yang masih bersahaja, ‘ritual buang uang’ di atas, menjadi keharusan. Bagi mereka, membuang uang pada saat Tahun Baru Imlek adalah sebuah ‘pancingan’ untuk mengundang rejeki yang lebih besar pada tahun depan.

sebagai pancingan untuk rejeki yang lebih besar, judi pun dibolehkan saat perayaan Imlek.

Maka tak mengherankan, selain dengan pesta pora dan bernewah-mewahan, mereka juga ‘buang uang’ dengan berjudi. Bahkan perbuatan ini sangat dianjurkan dilakukan pada malam Tahun Baru Imlek. Pada masa kolonial, Pemerintah Belanda membolehkan warga Tionghoa untuk berjudi hingga tanggal 15 Cia Goeh, saat perayaan Cap Go Meh.

Selain berpesta pora atau berjudi, warga Tionghoa juga ‘buang uang’ dengan bersedekah. Tjoa Tjoe Koan dalam “Hari Raya Tionghoa Tempo Doeloe di Hindia Belanda 1885” menceritakannya.

Saat Sin-cia (hari pertama tahun baru), orang-orang Tionghoa di Surakarta banyak menyediakan uang tembaga.  Mereka memberikannya kepada para peminta-minta yang banyak datang ke Pecinan. Masing-masing diberi satu duit atau lebih.

Pantangan       

Namun, selain ‘ritual buang uang’ dengan hura-hura dan pesta pora, orang-orang Tionghoa juga percaya bahwa rejeki akan datang bila beberapa pantangan di Tahun Baru Imlek tidak dilanggar.

Mereka dilarang untuk menyapu lantai dan membersihkan segala perabotan rumah pada saat Sin-cia. Bersih-bersih rumah harus sudah dilakukan satu atau beberapa hari sebelum Sin-cia tiba. Bila bersih-bersih dilakukan saat tahun baru, maka semua rejeki akan terusir atau tersapu keluar rumah.

Para pemilik toko juga pantang untuk membuka toko atau rumah bisnisnya, sampai hari ke-5 Imlek atau saat perayaan Tah Ji Goan. Mereka percaya, bahwa rejeki baru akan datang pada hari ke-5 ini, karena hari tersebut adalah hari lahirnya Malaikat Harta atau Cai Sin.

Maka hari ke-5 ini dipercaya sebagai hari yang sangat baik untuk memulai atau membuka usaha. Segala aktivitas lain untuk mencari uang pun dihentikan, bahkan sampai hari ke-15.

Pada malam tahun baru, mereka berpantang makan nasi berkuah. Bila hal ini dilanggar, keesokan harinya mereka akan kehujanan saat pergi ke rumah kerabat atau tetangga.

Pantang menyapu rumah saat Tahun Baru Imlek karena akan mengusir rejeki keluar rumah.

Acara pai-cia, bersoja, saling mengucapkan doa dan selamat jadi terhalang. Jika halangan ini menimpa, maka doa-doa dan ucapan untuk kemudahan rejeki di tahun depan tidak akan mereka terima.

Orang-orang Tionghoa juga dilarang marah, setidaknya menahan rasa amarah mereka saat merayakan tahun baru. Marah-marah, apalagi membuat keributan di ‘hari baik bulan baik’, akan membawa sial bagi seluruh keluarga. Bila sial datang, rejeki melayang.

Demi datangnya rejeki, pantangan-pantangan tersebut benar-benar dipatuhi oleh mereka yang merayakan tahun baru Imlek. Bahkan agar rejeki semakin lancar, pintu-pintu rumah akan dibuka lebar-lebar sepanjang malam tahun baru. Mereka berharap, dengan pintu yang terbuka lebar, rejeki yang datang dari berbagai penjuru akan mudah masuk ke rumah mereka.

Gong Xi Fat Chai. HK.

 

1 2 3

Article Tags:
Article Categories:
Warna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares