Meraih Kejayaan Usaha di Kelenteng Kim Hin Kiong

Written by
Hiomerah – Pada masa penjajahan Jepang, kelenteng ini pernah menjadi tempat perlindungan para pengungsi. Saat ini, berkahnya selalu ditunggu oleh masyarakat sekitar yang mayoritas hidup dari berdagang.

Makco Thian Siang Sing Bo menjadi sesembahan utama kelenteng yang terletak di kawasan Pecinan Gresik ini. Dewa-dewa lain pun bersemayam di sini; mulai Kongco Kwan Sing Tee Kun, Kongco Hok Tik Cing Sin, Makco Kwan Im, Jay Sen Ya, hingga Tri Nabi. Kepada dewa-dewa inilah, warga Tionghoa di kota pelabuhan tersebut mengharapkan berkahnya.

Karena mayoritas hidup di dunia dagang, kemajuan perdagangan menjadi berkah utama yang diharapkan. Nama Kim Hin Kiong sendiri menyiratkan hal itu, yang bila diterjemahkan kurang lebih berarti ‘perkumpulan Gresik jaya’.

“Agar orang-orang Tionghoa di Gresik mendapatkan kesejahteraan dan kejayaan,” jelas Tan Tjwan Soe, biokong kelenteng.

Dewi Samudra Makco Thian Siang Sing Bo menempati altar utama Kelenteng Kim Hin Kiong.

Tentang berkah, laki-laki yang sudah menjaga Klenteng Kim Hin Kiong sejak 1962 itu, pernah mengalaminya sendiri.

“Sejak umur 19 tahun saya sudah di sini. Selama itu setiap kali mendapat kesulitan selalu pula mendapat pencerahan dari makco dan kongco yang ada di sini,” ungkapnya.

Hampir 400 Tahun

Kelenteng Kim Hin Kiong termasuk salah satu dari kelenteng-kelenteng tertua di Indonesia. Meski tidak ada catatan pasti kapan berdirinya, para pengurus sepakat bahwa bangunan suci tersebut telah berumur 380 tahun.

Riwayat Kelenteng Kim Hin Kiong, sama tuanya dengan sejarah kedatangan bangsa Tionghoa di wilayah Gresik. Mungkin karena umurnya yang sangat tua, Kelenteng Kim Hin Kiong dikeramatkan oleh banyak orang dan dipercaya bisa mengeluarkan kemukjizatan.

Pada masa pendudukan Jepang, kelenteng yang berhias ornamen patung ikan di gerbangnya ini, pernah menjadi tempat berlindung para pengungsi. Juga saat terjadi wabah penyakit di Kota Gresik, konon semua bisa diatasi setelah mengarak salah satu kimsinnya.

Dibangun berbarengan dengan kedatangan orang-orang Tionghoa di Gresik, Kelenteng Kim Hin Kiong diperkirakan berusia hampir 400 tahun.

Lokasi kelenteng hanya beberapa meter dari alun-alun Kota Gresik, juga tidak jauh dari dari makam Maulana Malik Ibrahim. Berada di antara bangunan-bangunan tua berarsitektur Tionghoa kawasan Pecinan Gresik, Kelenteng Kim Hin Kiong tampak paling mencolok. Warna mencolok yang didominasi merah dan kuning akan langsung menarik perhatian siapa saja yang melintas di kawasan ini.

Menurut “Riwayat Klenteng, Vihara, Lithang, Tempat Ibadat Tridharma Se-Jawa”, Kelenteng Kim Hin Kiong pernah diperbaiki pada 1890. Kala itu tukang-tukangnya didatangkan langsung dari Tiongkok.

Demikian pula bahan-bahan cat, yang salah satunya untuk memperbaiki lukisan, juga didatangkan dari sana. Kualitas cat ini bisa dilihat pada lukisan Sam Kok di dinding yang tak luntur hingga sekarang. Keaslian dan kekunoan Kim Hin Kiong juga dapat dilihat pada genteng model ‘kluntung’ atau ‘clumpring’ yang asli Tiongkok.

“Mungkin saat didirikan dulu, di sini belum ada genteng semacam ini, jadi harus dibawa dari sana,” jelas Tan Tjwan Soe.

2 Wayang

Sebagai kelenteng yang menjadikan Makco Thian Siang Sing Bo sebagai dewa utama, pusat semua kegiatan kelenteng pun terjadi saat merayakan hari besar Sang Dewi Samudra. Pada saat itu pula hari ulang tahun kelenteng yang tak diketahui pasti tanggal pendiriannya, dirayakan.

Biasanya perayaan diramaikan dengan mengundang kimsin-kimsin atau arca suci dewa dari kelenteng lain. Sebelum memasuki kelenteng, kimsin-kimsin tamu tersebut diarak sepanjang 300 meter dari alun-alun Gresik. Seorang suhu dari Kim Hin Kiong, barisan barongsai dan liong, akan menyambut kedatangan mereka.

Panggung wayang potehi seperti ini akan selalu terlihat ketika Kim Hin Kiong merayakan shejit dan ultah Makco.

Berkumpulnya kimsin-kimsin dari luar kota itu pula, yang membuat upacara perayaan HUT Makco dan shejit kelenteng terasa sarat dengan berkah. Saat satu-persatu kimsin diarak menuju kelenteng, khalayak yang kebanyakan warga Tionghoa akan memanfaatkannya untuk mendapat berkah.

Peringatan HUT Makco dan she jit Kelenteng Kim Hin Kiong juga menjadi ajang bertemunya dua budaya. Perayaan biasanya juga dimarakkan oleh pentas wayang kulit dan wayang potehi.

Pentas wayang kulit dilangsungkan setiap malam selama seminggu penuh, sementara wayang potehi bisa satu bulan lebih tergantung panjang pendek cerita. Untuk pagelaran ini, sebuah panggung dibangun di samping kanan kelenteng. HK.

 

1 2 3

Article Tags:
Article Categories:
Pecinan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares