Mengunjungi Gudo, Desa Pecinan di Jombang

Written by
Hiomerah – Kecil dalam jumlah, warga Tionghoa di desa ini tetap hidup dalam budaya leluhurnya. Kelenteng Hong San Kiong sebagai simbol kebaradaannya. Namun tak jelas benar sejak kapan leluhur mereka datang di tempat itu.

Gudo, sebuah desa di sebelah selatan Jombang,  mulai terlihat sepi seiring hari yang beranjak malam. Hanya ada satu-dua toko yang masih buka melayani pembeli. Lalu-lalang kendaraan bermotor yang ramai di siang hari berganti lewat sesekali.

Dari dalam komplek Kelenteng Hong San Kiong, canda tawa anak-anak muda yang sedang berlatih tari liong dan barongsai, memecah kesunyian.

“Kami rutin berlatih 3 kali seminggu. Selain Jum’at malam seperti ini, juga setiap hari Senin dan Rabu malam,” kata Lauw Coe Hay salah satu pengurus Kelenteng Hong San Kiong kepada Hiomerah.

Sekitar 40 remaja usia belasan ikut latihan yang digelar di atas lapangan bulutangkis yang juga difungsikan sebagai gedung pertemuan itu.

Mereka dilatih oleh senior-senior mereka sendiri. Berbagai gerak dan komposisi mereka latih berulang-ulang dalam latihan sekitar 2 jam tersebut.

Meski jumlahnya kecil, budaya Tionghoa masih lestari di Gudo. (Foto: hiomerah).

“Dari 40 anak itu, kebanyakan anak-anak warga asli sini. Yang keturunan Tionghoa paling tak lebih dari 10 persen,” imbuh Coe Hay.

Apa yang dikatakan Lauw Coe Hay tentang jumlah anak-anak yang berlatih liong dan barongsai, seperti menjadi gambaran kecil dari kondisi masyarakat Tionghoa di Gudo.

Generasi Tua

Meski memiliki simbol eksistensi berupa kelenteng yang cukup ternama, Kelenteng Hong San Kiong, jumlah warga keturunan Tionghoa di kota kecamatan ini hanya sekitar 30 KK (kepala keluarga).

“Bila sedang berkumpul atau bersembahyang di sini ada sekitar 70 orang lah,” jelas Toni Harsono, tokoh masyarakat Tionghoa setempat yang juga Ketua Kelenteng Hong San Kiong.

Kebanyakan dari mereka adalah generasi tua yang merasa sudah cukup terpenuhi kehidupannya di kota kecil itu. Sementara generasi mudanya banyak yang pergi ke luar daerah untuk alasan studi atau mencari kehidupan yang lebih baik.

Dengan alasan itu, memang tak sedikit orang-orang Tionghoa asal Gudo yang meraih kesuksesan ekonomi di tempat lain. Anak-anak Tan Lioe Kie, mantan Ketua Kelenteng Hong San Kiong era 1970-an misalnya, sukses menjadi pengusaha batu-bara di ibukota.

Namun bukan berarti kehidupan ekonomi mereka yang tetap bertahan di Gudo lebih buruk. Toni Harsono contohnya. Ia cukup sukses dengan mengelola usaha toko emas.

Kelenteng Hong San Kiong menjadi simbol keberadaan dan pusat aktifitas warga keturunan Tionghoa di Gudo. (Foto: Hiomerah).

Seperti umumnya warga Tionghoa di tempat-tempat lain, warga keturunan Tionghoa di Gudo menggantungkan kehidupannya dari perdagangan. Toko-toko penyedia berbagai kebutuhan hidup, serta jasa, yang diusahakan mereka di sepanjang Jalan Raya Gudo, adalah buktinya.

Jalan Raya Gudo juga menjadi bagian dari rangkaian sejarah keberadaan orang-orang Tionghoa di daerah yang berjarak 12 kilometer dari Kota Jombang itu. Jalan raya yang menghubungkan Gudo dengan daerah-daerah di sekitarnya tersebut sekarang seakan menjadi pecinannya.

Kampung Tukangan

Padahal beberapa puluh tahun lalu, Pecinan Gudo bukan di situ tempatnya. Menurut buku ‘Sedjarah Gudo’ yang ditulis oleh Liem Sik Hie, Pecinan Gudo dulu adalah kawasan yang sekarang disebut Kampung Tukangan. Generasi tua masyarakat Tionghoa Gudo seperti Tan Lioe Kie membenarkannya.

“Dulu orang-orang menyebut Tukangan dengan Pecinan. Memang di situ orang-orang Tionghoa tinggal,” jelas laki-laki sepuh yang memiliki nama Indonesia, Lukito, tersebut.

Sayang, sekarang tak ada lagi tanda-tanda yang menguatkan bahwa Kampung Tukangan dulunya adalah pecinannya Gudo. Tinggal satu-dua rumah-rumah kuno. Itu pun bukan berasitektur Tionghoa yang bisa dilihat dari atapnya, gaya ekor walet atau pelana kuda.

Rumah-rumah kuno yang ada di sepanjang Jalan Raya dan sudut-sudut Gudo yang lain pun sekarang tak lagi menyisakan arsitektur seperti itu.

Pecinan Gudo menjadi simbol kemakmuran warga Tionghoa saat itu. ‘Sedjarah Gudo’ menyebut, umumnya golongan Tionghoa hidup sebagai pedagang, buruh, atau pegawai pabrik gula. Juga ada yang menjadi pachter, orang yang diberi hak untuk mengelola, sebuah pegadaian.

Kehidupan Pecinan Gudo, ditandai pula dengan munculnya para jawara, jago kungfu yang sangat disegani.

“Menurut cerita orang-orang tua dulu, para preman atau jawara bukan kriminal, tapi keberanian dan kemampuan mereka berkelahi membuatnya sangat disegani oleh penduduk sekitar sini,” ungkap Go Liang Tjwan, pengurus Kelenteng Gudo yang lain.

Selain Kelenteng Hong San Kiong, hampir tidak ditemukan bangunan yang masih menyisakan arsitektur Tiongho di Gudo. (foto: hiomerah).

Dalam perkembangannya, keberadaan sebuah pabrik gula di daerah itu membuat Pecinan Gudo berubah menjadi Kampung Tukangan.  Saat itu banyak tukang-tukang yang dipekerjakan pabrik gula tinggal di pecinan.

Lambat laun, seiring banyaknya tukang-tukang yang tinggal di tempat itu dan bergesernya warga Tionghoa ke jalan raya, sebutan pecinan berganti menjadi Kampung Tukangan.

Pabrik Gula

Pabrik gula dimaksud adalah cabang dari Pabrik Gula Merican, Kediri, milik sebuah Bank Belanda. Sekarang, pabrik gula ini tinggal riwayatnya saja, bahkan tak menyisakan kemegahan gedungnya sekali pun.

Saat pabrik itu masih berdiri, tak sedikit warga Tionghoa di Gudo yang menjadi pegawai maupun buruhnya. Gudo pernah mengalami jaman makmur selama pabrik itu berdiri.

“Pabrik gula itu letaknya di lapangan dekat kantor Koramil sekarang,” jelas Go Liang Tjwan.

Pabrik gula yang telah tutup pada 1930 itu juga memiliki kaitan erat dengan sejarah Kelenteng Hong San Kiong. Pada suatu hari, mesin-mesin pabrik mendadak mati, tanpa diketahui apa sebabnya.

Para teknisi pabrik yang mempunyai banyak pengalaman tak mampu memperbaikinya. Hingga administratur pabrik mendapat saran dari pegawai-pegawai Tionghoanya agar bersembahyang di Kelenteng Hong San Kiong.

Lewat ritual pwak pwee, ternyata Kongco Kong Tik Cun Ong yang menjadi sesembahan utama kelenteng tersebut, minta diarak di sekitar lapangan pabrik dengan upacara sederhana.

Mantan Ketua Kelenteng Gudo, Hardjo Lukito (alm), bersama Ketua Kelenteng Gudo penerusnya, Tok Hok Lay, yang juga tokoh wayang potehi.

Permintaan Kongco dituruti. Kongco diusung dengan sebuah kio atau tandu ke pabrik yang berjarak sekitar 600 meter dari kelenteng.

Di sana, bukan hanya diarak di sekitar lapangan, tapi juga masuk ke ruangan pabrik yang mesin-mesinnya mogok. Anehnya, setelah kio yang mengangkut kimsin atau arca suci Kongco tersebut beberapa kali berputar, mesin-mesin yang tadinya mogok mendadak bisa berjalan lagi.

Sebatas Perkiraan

Tak ada yang tahu secara pasti sejak kapan orang-orang Tionghoa mulai menempati daerah Gudo. Semua hanya sebatas perkiraan-perkiraan.

Ada yang berpendapat, keberadaan orang Tionghoa di Gudo berbarengan dengan kedatangan balatentara Tartar di awal pendirian Kerajaan Majapahit.

“Masuk akal juga, karena tempat ini kan tidak begitu jauh dari pusat Kerajaan Majapahit,” kata Tan Lioe Kie.

Pendapat lain mengaitkannya dengan awal berdirinya Kelenteng Hong San Kiong. Karena umumnya, pemukiman awal sebuah komunitas Tionghoa selalu ditandai dengan pendirian tempat ibadah.

Namun, kapan tepatnya Kelenteng Hong San Kiong didirikan juga masih sebatas perkiraan-perkiraan. Di kelenteng tak pernah ditemukan prasasti pendiriannya, hanya diperkirakan dibangun sekitar abad ke-18.

“Kami juga tak menemukan tanda waktu pendiriannya di kayu atau bagian kelenteng yang lain. Jangankan tanggal atau bulan, tahunnya pun tak pernah kami ketahui,” ungkap Go Liang Tjwan.

Pemakaman Tionghoa kuno, salah satu saksi bisu kedatangan awal orang-orang Tionghoa di Gudo. (foto: hiomerah).

Pemakaman Tionghoa atau bong yang berada di sebelah timur desa mungkin bisa menjadi saksi lain yang bisa ‘bercerita’ tentang masa awal kedatangan orang Tionghoa di Gudo. Di sini pernah ditemukan makam-makam yang gurat tulisan di bongpay-nya bertuliskan angka 1700-an.

“Sayang batu bongpay itu sudah nggak ada lagi,” keluh Toni Harsono.HK.

 

 

1 2 3 4 5

Article Tags:
Article Categories:
Pecinan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares