Mengenang Sang Bapak Tionghoa

Written by
HiomerahPada masa Rejim Orde Baru berkuasa, warga Tionghoa di Indonesia mengalami banyak kekangan. Kebebasan baru didapat setelah Soeharto tumbang dan Gus Dur menjadi presiden.

Selama 32 tahun Rejim Orde Baru berkuasa, warga Tionghoa dilarang melakukan perayaan keagamaan, kepercayaan, dan adat-istiadatnya secara terbuka. Orang harus sembunyi-sembunyi untuk bersembahyang di kelenteng.

Barongsay, wayang potehi, dan kesenian tradisional Tionghoa lain, dilarang dipertunjukkan di depan umum. Bahasa dan cetakan dalam bahasa Tionghoa pun dilarang, sementara nama yang berbau Tionghoa diperintahkan diganti. Warga Tionghoa juga dilarang terjun di dunia politik, hanya boleh bisnis semata.

Kebebasan baru mereka dapatkan kembali setelah Soeharto dijatuhkan oleh gerakan reformasi. Momentum itu terjadi saat Presiden KH. Abdurrahman Wahid, menerbitkan Kepres No.6/2000. Lewat kepres ini, ia mencabut Instruksi Presiden No. 14/1967 yang melarang segala kegiatan keagamaan, kepercayaan, dan adat istiadat Tionghoa.

Kebijakan presiden yang akrab disapa Gus Dur itu, disusul keluarnya Keputusan Menteri Agama No.13/2001 tentang penetapan Imlek sebagai libur fakultatif. Diteruskan dengan pencabutan larangan penggunaan bahasa Tionghoa baik lisan maupun tulisan.

Musik tradisional Tionghoa dimainkan oleh Perkumpulan Fu He Han saat memperingati haul Gus Dur di Kelenteng Hong San Kiong Gudo.

Tak lama setelah terbitnya kebijakan-kebijakan itu, ratusan perkumpulan barongsay, dan kesenian tradisioanl lainnya, bermunculan di berbagai kota. Muncul pula puluhan surat kabar dan media massa lain dengan bahasa Tionghoa, sementara kursus-kursus bahasa Tionghoa merebak di mana-mana.

Berbagai organisasi Tionghoa, mulai yang berdasarkan suku, asal daerah, marga, sampai alumni sekolah, tak ketinggalan bermunculan. Perayaan-perayaan tradisi dan keagamaan yang selama tiga puluh tahun lebih tidak terlihat, bisa digelar secara bebas.

Dengan jasa-jasanya yang sangat besar tersebut, tidak berlebihan bila Gus Dur sangat dihormati oleh warga Tionghoa. Berbagai penghargaan pun diterima oleh putra pahlawan nasional KH Wahid Hasyim itu. Misalnya, pada 10 Maret 2004, masyarakat Tionghoa Semarang menobatkannya sebagai “Bapak Tionghoa”.

Penghormatan bahkan terus diterimanya, saat cucu pendiri NU, KH Hasyim Azhari itu meninggal dunia. Doa bersama di kelenteng, acara mengenang Gus Dur, hingga ziarah ke makamnya, dilakukan warga Tionghoa di seluruh penjuru tanah air. Semua demi menghormati reformis yang meninggal pada 30 Desember 2009 itu.

Empat hari setelah meninggalnya, Kelenteng Hok Hien Bio Kudus, menggelar malam kenangan dan penghormatan  untuk Gus Dur. Foto resmi Gus Dur saat menjabat sebagai presiden diletakkan di salah satu meja sembahyang.

“Warga Tionghoa Kudus sangat kehilangan tokoh yang tidak tergantikan ini. Makanya kami berkumpul di sini untuk mendoakan beliau yang telah berjasa membebaskan kami dari kehidupan yang pahit pada era Orba,” kata tokoh masyarakat Tionghoa Kudus, Liong Kuo Tjun, saat itu.

Dua hari sebelumnya, Kelenteng Kwan Sing Bio Tuban, menggelar kebaktian dan doa khusus untuk Gus Dur yang diikuti sekitar 50 ummat Tri Dharma Tuban. Menurut salah satu pengurus, Hanjono Tanzah, doa khusus dipersembahkan atas jasa dan kebaikan Gus Dur dalam pengembangan kemajemukan umat di Indonesia.

Doa bersama untuk memperingati Haul Gus Dur di beranda Kelenteng Hong San Kiong Gudo beberapa waktu lalu.

Kelenteng Hong San Ko Tee Surabaya, juga menggelar upacara sembahyangan bersama mendoakan mantan Ketua PBNU itu. Di Kelenteng Boen Bio, Surabaya, ratusan umat Khonghucu dari berbagai kota di Jawa Timur menggelar acara yang sama. Mereka berasal dari  Surabaya, Mojokerto, Sidoarjo, Tuban, Mojokerto, Malang hingga Tulungagung,

Foto besar Gus Dur dipajang di depan altar. Upacara dipimpin oleh kepala bidang kerohanian kelenteng, WS Kwee Ping Hwie. Sembahyangan terlihat khusyuk. Beberapa umat tampak meneteskan air mata ketika melakukan penghormatan kepada Gus Dur. Penghormatan dilakukan sampai 3 kali, lebih banyak dari penghormatan leluhur biasa yang hanya sekali.

“Gus Dur adalah Bapak kita. Beliau pantas disebut Bapak Khonghucu. Tanpa beliau kehidupan kita di Indonesia pasti tidak sebebas sekarang. Karena itu penghormatan sampai tiga kali,” kata Ketua Majelis Agama Khonghucu Indonesia (Makin) Boen Bio waktu itu, Gatot Seger Santoso.

Menurut Gatot, Gus Dur berperan membawa umat Islam di Indonesia yang jumlahnya terbesar di dunia menjadi umat moderat dan menyayangi serta membela penganut agama lain.

“Apa jadinya kalau tidak ada Gus Dur, kehidupan kita pasti selalu dibayangi ketakutan. Kehadiran Gus Dur mencerahkan kami semua,” ungkapnya.

“Beliau patut dianugerahi gelar pahlawan nasional bangsa Indonesia, tokoh pluralisme, tokoh perdamaian antar umat beragama, bahkan sebenarnya layak untuk mendapat Nobel Perdamaian,” lanjutnya.

Kelenteng Boen Bio sendiri memiliki ikatan emosional dan historis sangat kuat dengan Gus Dur. Misalnya saat terjadi kerusuhan berbau SARA di Kapasan pada 1977, Gus Dur menjadi penengahnya.

Untuk menghormati jasa-jasanya, foto Gus Dur pernah dipajang persis di depan altar Kelenteng Boen Bio Surabaya.

Pada 1995, Gus Dur ikut membela kasus perkawinan secara Agama Khonghucu antara Budi Wijaya dan Lany Guito yang dilangsungkan di kelenteng itu.

Kantor Catatan Sipil (KCS) Surabaya menolak mencatat perkawinan mereka. Alasannya, Khonghucu bukan agama yang diakui dan dibina oleh Departemen Agama.

Gus Dur, yang waktu itu masih menjadi Ketua PB NU, menyempatkan diri menghadiri persidangan di PTUN Surabaya.

“Kalau ada orang yang kebetulan memeluk Khonghucu ingin kawin dengan sesamanya ternyata tak diakui, tentu terkesan diskriminatif,” kata Gus Dur. HK.

1 2 3

Article Tags:
Article Categories:
Jejak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares