Membajak Sawah dengan Luku dan ‘Kya-Kya’

Written by

Hiomerah – Banyak budaya Nusantara dipengaruhi dan mengadopsi budaya Tionghoa. Termasuk alat-alat yang dipakai mendukung kehidupan sehari-hari. Salah satunya alat yang di Jawa dikenal dengan sebutan luku.

Luku adalah alat untuk mengolah tanah yang lebih dikenal dengan nama bajak. Alat yang penggunaannya ditarik kerbau atau sapi ini pertama dikenalkan oleh Tjo Huan Giok pada abad XVII. Para petani di sekitar Tangerang dan hampir di seluruh wilayah Jawa sampai sekarang masih menggunakannya.

“Ketika membajak sawah, orang akan berteriak giyak-giyak agar sapi atau kerbaunya jalan. Istilah giyak-giyak itu juga terpengaruh dialek Hokkian ‘kya-kya’ yang berarti jalan-jalan,” jelas sastrawan Tionghoa, Gan Kok Hwie (alm), seperti dikutip Majalah Liberty edisi 2442.

Kedatangan bangsa Tionghoa ke Nusantara, jauh dari keinginan untuk menjajah atau menguasai. Justru pada awal kedatangan, mereka bisa hidup damai dan membaur dengan penduduk setempat.

Para pendatang laki-laki tersebut juga menikah dengan wanita-wanita setempat. Pernikahan ini yang kemudian menurunkan golongan Tionghoa baru, Tionghoa peranakan atau babah.

Selain itu, mereka membawa kebudayaan, tradisi, dan teknologi dari tanah leluhurnya, yang dapat diterima oleh penduduk lokal. Bahkan kebudayaan, tradisi, dan tekhnologi tersebut dalam perkembangannya dianggap sebagai produk asli daerah barunya itu. Beberapa jenis makanan menjadi contoh; seperti kecap, tahu, tauco, cincau, asinan, mie, dan bakso.

Bakso salah satu makanan populer di Indonesia yang berasal dari budaya Tionghoa.

Dalam teknologi, sejak 1611 mereka mengembangkan penyulingan arak dari beras yang difermentasi, yaitu tetes tebu dan nira. Mereka juga mengenalkan alat baru untuk meningkatkan produksi gula.

Pramoedya Ananta Toer dalam ‘Hoakiau di Indonesia’, menyebut alat baru tersebut berupa kilang-kilang air seperti di Tiongkok. Bila tenaga air tidak ada, diganti dengan tenaga sapi atau kerbau.

Di bidang pertanian, selain luku, orang-orang Tionghoa mengenalkan teknik baru pengolahan padi. Misalnya alat penyosoh padi dengan tenaga sapi yang dapat mengolah padi sampai 500 ton perhari. Alat ini menggantikan sistem tumbuk tradisional dengan lesung yang hanya bisa mengolah 100 ton padi perhari. HK.

 

Article Tags:
Article Categories:
Warna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares