Memandikan Kimsin, Menimba Berkah Saat Dewa-Dewa Ke Langit

Written by
Hiomerah – Saat hari yang dipercaya sebagai waktu dewa-dewa naik ke langit, kimsin ‘tempat tinggal’ mereka dibersihkan. Ada harapan datangnya berkah dengan memandikan mereka.

Belasan rupang dewa berbagai ukuran satu-persatu diturunkan dari altarnya masing-masing di Kelenteng Sam Poo Sing Bio, Surabaya, Minggu (7/2/2021) pagi. Beberapa umat yang mengenakan masker, kemudian menyucikannya dengan air bercampur bunga. Selesai dimandikan, beberapa tangan kemudian mengeringkan dan menjajar kimsin-kimsin itu di atas meja di depan altar.

“Di sini ada sembilan altar dewa. Semua kami sucikan, termasuk dewa utama Kongco Sam Poo Tay Djien dan para pengawalnya,” jelas salah satu pengurus Kelenteng Sam Poo Sing Bio, Susanto, kepada Hiomerah.

Tetap dengan memakai masker, seorang umat tampak khusyuk membersihkan beberapa kimsin.

Selain Kongco Sam Poo Tay Djien atau Sam Poo Kong, kelenteng yang lebih dikenal sebagai Kelenteng Mbah Ratu itu juga menjadi tempat persemayaman beberapa dewa lain. Di antaranya Kongco Hok Tek Cing Sin dan Makco Thian Siang Boo.

Hari Minggu ini bertepatan dengan dua hari setelah tanggal 24 bulan 12 (24 Cap Jie Gwee) kalender Imlek 2571. Tanggal 24 Cap Jie Gwee dipercaya oleh umat kelenteng sebagai waktunya Dewa Dapur Chauw Kun Kong naik ke langit. Tujuannya untuk melaporkan semua perbuatan baik atau buruk manusia kepada Giok Ong Siang Tee (Maha Raja Dewa Dewi di langit).

Chauw Kun Kong,  dewa yang bersemayam di dapur setiap rumah ini, secara berkala memang naik ke kahyangan. Namun momen pentingnya terjadi pada tanggal di atas, saat dirinya memberikan semacam ‘laporan akhir tahun’ kepada Giok Ong Siang Tee. Umat akan mengantarnya dengan upacara sembahyang pada 23 Cap Jie Gwee yang disebut Chauw Kung Kong Sang Sin.

Keberangkatan Dewa Dapur diantar dengan persembahan-persembahan berupa kertas Siu Kim dan Ti Kong Kim yang ditaruh dalam hun be (kotak pengantar). Pada kotak ini terdapat tulisan Sung Sen Jin Fu yang berarti “menghantar roh suci dan memohon berkah”. Selesai upacara sembahyangan, kotak ini dibakar.

Dipercaya pula pada akhir Tahun Imlek itu dewa-dewi lain ikut naik ke langit untuk melaporkan segala hal berkaitan dengan tugasnya di bumi. Sejak tanggal 24 bulan 12 itu, mereka akan berada di langit hingga malam ke-4 Tahun Baru Imlek. Karena dewa-dewi itu pergi ke langit, maka kimsin atau rupang yang menjadi ‘tempat tinggal’ mereka pun kosong.

Ketika kimsin berada dalam keadaan kosong itulah menjadi saat yang tepat bagi umat Tridharma untuk melakukan penghormatan dengan membersihkannya. Membersihkan arca suci para dewa itu juga dimaksud sebagai bagian dari pembersihan jiwa. Bagi umat, dengan ikut membersihkan atau menyucikan kimsin dewa, juga ada harapan untuk datangnya berkah.

Kam, tempat menyemayamkan kimsin dewa, dan altarnya, juga dibersihkan.

“Kami kan mengabdi kepada para para dewa ini. Tentu kami juga berharap agar kami dijauhkan dari segala macam penyakit dan marabahaya. Setelah itu berkah lain, seperti kelancaran rejeki kami harapkan,” imbuh Susanto.

Kimsin bagi umat Tridharma memang sangat disakralkan, bukan hanya karena sebagai  rumah, tapi juga rupa dari dewa dewi penolong manusia. Sehingga memandikan atau membersihkannya sangat dinanti karena di saat itu bisa memegangnya.

“Bahkan bunga dan handuk bekas menyucikan kimsin, serta kimcoa bekas alas kimsin selalu jadi rebutan umat karena dipercaya membawa hoky,” ujar Hendrawan Agus Susanto, pengurus Kelenteng  Hwie Ing Kiong, Madiun.

Karena benda sakral, cara memandikannya pun ada aturannya, tidak boleh sembarangan. Bagi para wanita, tidak boleh sedang datang bulan atau menstruasi. Harus pula bertindak sopan dan khidmat saat memandikan.

“Sebaiknya juga melakukan ciak jay, pantang makan makhluk bernyawa, sejak tiga hari sebelum hari memandikan tiba,” jelas rohaniwan Khonghucu, Wenshi Kwee Ping Hwie, seperti dikutip Majalah Liberty beberapa waktu lalu.

Air yang digunakan pun bukan air sembarangan. Beberapa kelenteng memilih air hujan yang langsung tercurah dari langit, karena diyakini lebih suci. Biasanya dicampur dengan kembang telon atau bunga tiga macam; mawar putih, mawar  merah, dan kenanga. Ada pula yang menggunakan air seduhan teh.

“Di Kelenteng Madiun, menggunakan air rebusan kayu cendana utuh yang direbus sehingga sangat wangi,  dan dicampuri bunga mawar, kantil, melati, kenanga, dan pandan,” imbuh Hendrawan.

Selain kimsin, semua perlengkapan kelenteng juga dibersihkan, termasuk hiolo ini.

Selain memandikan rupangnya, kesempatan itu juga digunakan pengurus kelenteng untuk mengganti baju kimsin-kimsin utama. Baju yang lama biasanya diminta oleh umat untuk disimpan di rumah sebagai benda pengundang berkah.  Ritual pwak pwee untuk meminta persetujuan dewa harus dilakukan saat akan mengganti baju dan boleh tidaknya baju lama diminta oleh umat.

“Setiap tahun berbarengan dengan ritual memandikan kimsin ini, baju kami ganti dengan yang baru. Baju yang lama kami simpan,” ungkap Susanto. HK

 

1 2 3

Article Tags:
Article Categories:
Pecinan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares