Kisah The Ling Sing, Tionghoa Muslim Guru Sunan Kudus

Written by
HiomerahKampung Sunggingan di Kota Kudus, Jawa Tengah, menyimpan kisah hubungan damai Islam dan Tionghoa. Di sini terdapat peristirahatan terakhir seorang Tionghoa yang sangat berjasa dalam penyebaran Islam di Kudus.

Konon, sepak terjangnya menyebarkan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad itu bahkan lebih dulu dari Sunan Kudus. Kyai Telingsing, nama tokoh tersebut, bersama Sunan Kudus, juga diyakini sebagai pendiri Kota Kudus.

Sebuah ajaran Kyai Telingsing, sampai sekarang masih hidup di kalangan masyarakat Muslim setempat. Ajaran tersebut berupa ujaran ‘sholat sacolo saloho dongo sampurno’ yang artinya sholat sebagai doa yang sempurna. Dan ‘lenggahing panggenan tersetihing ngaji’, yang maksudnya kurang lebih, jika hendak ngaji atau menuntut ilmu, maka harus dengan sikap duduk yang benar, jiwa serta tubuh suci.

Sumanto Al Qurtuby dalam “Arus China Islam Jawa”, mengidentifikasi Kyai Telingsing, Mbah Telingsing, atau yang populer disebut Mbah Sing, sebagai orang Tionghoa bernama The Ling Sing.

Ada pula yang menyebutnya Tan Ling Sing yang ahli di bidang perdagangan, perekonomian, dan ilmu kanuragan. Bahkan Sunan Kudus pernah berguru ilmu kanuragan kepadanya. Sebaliknya, Kyai Telingsing berguru ilmu makrifat, tarekat, dan pengetahuan Islam lain kepada Sunan Kudus.

Kedua tokoh itu kemudian bekerja sama mengembangkan dakwah di Kudus. Kebersamaan dalam berdakwah ini menjadi simbol keharmonisan hubungan Muslim dan Tionghoa. Strategi mereka dalam berdakwah yang sangat menghormati budaya setempat, juga melambangkan perpaduan dua budaya tersebut.

Selain berdakwah Agama Islam, The Ling Sing juga mengajarkan seni ukir kepada penduduk setempat. Gaya ukirannya disebut ‘sungging’, ukiran  kayu yang terkenal dengan kehalusan dan keindahannya.

Namun, perihal istilah ‘sungging’, Sumanto menyajikan hal berbeda. Menurut Sumanto, ‘sungging’ berkaitan dengan tokoh Tionghoa Muslim lain, Sun Ging An, yang kemudian namanya diabadikan menjadi Desa Sunggingan.

Makam The Ling Sing atau yang lebih dikenal dengan Kyai Telingsing di Kampung Sunggingan, Kota Kudus.

Menurut versi ini, Sun Ging An-lah yang ahli dalam seni ukir. Sunggingan sendiri secara bahasa berarti ‘tempat nyungging atau mengukir’, yang berasal dari Sun Ging An melakukan aktivitasnya mengukir. Daerah Sunggingan dulu dikenal sebagai pusatnya seni ukir di Kudus.

Gaya seni ukir sunggingan ini berkembang pesat yang selanjutnya menjadi salah satu unsur pokok bagi perkembangan arsitektur rumah tradisional Kudus. Ini dapat dilihat pada bentuk dan motif krabongan rumah adat Kudus, bentuk regol, kongsel, dan ornament ukiran yang bercirikan ular naga.

Nama Sun Ging An kemungkinan juga sama dengan Kanjeng Sunan Sungging. Makamnya, bisa jadi berada dalam satu komplek dengan makam Kyai Telingsing. Karena dalam komplek makam yang dipagari batu-batu bata bergaya candi Jawa-Timuran tersebut terdapat lima batu nisan.

Menurut juru kunci Makam Kyai Telingsing, Munawir, selain makam Kyai Telingsing, tiga nisan lainnya adalah makam murid-muridnya.uu  Sedangkan satu nisan lagi adalah ‘khadam’-nya atau pelayan gaib yang hanya dimiliki para wali.

“Bukan mustahil pemilik batu nisan ini sebetulnya adalah Sun Ging An, bukan khadam Telingsing,” tulis Sumanto.

Di bawah nisan ini lah, diyakini Kyai Telingsing dimakamkan.

Sebuah catatan tentang riwayat Klenteng Cu An Kiong, Lasem, menyajikan hal berbeda mengenai kedua tokoh di atas. Menurut catatan itu, tukang-tukang ukir didatangkan dari Guangdong saat klenteng dipugar ratusan tahun silam. Diantara mereka adalah Tee Ling Sing dan Tian Sun Khing.

Banyak dari tukang ukir itu kemudian bermukim di Kudus dan menerima murid penduduk setempat. Nama Tee Ling Sing selanjutnya dikenal sebagai Kyai Telingsing dan Tian Sun Khing diabadikan menjadi nama kampung, Sunggingan. HK

1 2 3

Article Tags:
Article Categories:
Jejak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares