Kisah Sebatang Kayu Kelenteng Tertua di Kota Tangerang

Written by
Hiomerah – Kelenteng ini memiliki tradisi gotong toapekong setiap 12 tahun sekali. Sepotong kayu pernah berjasa melancarkan jalannya ritual.

Kelenteng Boen Tek Bio merupakan kelenteng tertua di Kota Tangerang. Tempat ibadah yang beralamat di Jl. Bhakti No. 14 Pasar Lama ini, diperkirakan didirikan pada 1684 M.

Dewi Kwan Im menjadi dewa tuan rumah kelenteng yang juga dikenal dengan nama Vihara Padumuttara ini. Duduk di altar utama, Makco Kwan Im diapit oleh Kongco Kwan Sing Tee Kun dan Kongco Hok Tek Cing Sin.

Dibangun pada 1684, Kelenteng Boen Tek Bio merupakan kelenteng tertua di Kota Tangerang.

Di depan altarnya terdapat 2 kimsin Buddhis, Buddha Gautama dan Bi Lek Hud. Sementara di samping altar utama terdapat gambar Sep Pat Lo Han, 18 arahat.

Sayang ada larangan memotret bagian dalam kelenteng sehingga altar dan kimsin yang berada di ruang utama tersebut tak bisa diabadikan. Hanya kimsin-kimsin yang terletak di ruang-ruang altar di kanan-kiri bangunan utama yang boleh dipotret.

Ada dua gerbang masuk untuk menuju ke ruang-ruang altar tersebut, yang keduanya menyiratkan ajaran kebajikan. Berada di sebelah kanan beranda kelenteng yang merupakan tempat untuk memuja Thian Kong, terdapat ruang untuk Kha Lam Ya.

Kemudian setelah melewati gerbang yang di atasnya tertulis “Pintu Kesusilaan”, berturut-turut adalah ruangan untuk altar Kong Ce Cosu, Makco Thian Siang Sing Bo, dan Sam Kwan Thay Tee.

Di sebelah kiri bangunan utama, harus memasuki gerbang “Jalan Kebenaran” terlebih dahulu untuk sampai di altar Kongco Kwan Sing Tee Kun, Kongco Hok Tek Cing Sin, serta Kongco Kong Tek Cun Ong dan Su Beng Cau Kun.

Sebelum gerbang “Jalan Kebenaran” atau persis di sebelah kiri beranda kelenteng, terdapat ruangan untuk memuja Te Cong Ong Po Sat.

Selain kimsin-kimsin di atas dan ruang altarnya yang mengelilingi bangunan utama membentuk letter U, Kelenteng Boen Tek Bio memiliki daya tarik pada artefak-artefak kunonya. Antara lain alat-alat ibadah, atap kayu yang dibuat pada 1805, dan genta tua dari Tiongkok buatan 1835.

Seorang umat sedang bersembahyang di altar yang ada di kiri bangunan utama.

Juga altar Tien Si Lo yang ada sejak 1839, serta patung singa buatan 1827. Satu yang unik adalah dua buah tungku pembakaran atau kimlo dari roda kereta yang dibuat  pada 1910.

Meski diyakini didirikan pada 1684 atau lebih dari 300 tahun lalu, tak ada catatan pasti bagaimana riwayat dibangunnya kelenteng ini.

Mengutip beberapa sumber, pada masa itu para penghuni Perkampungan Petak Sembilan secara gotong-royong mengumpulkan dana untuk mendirikan sebuah kelenteng. Tempat ibadah ini kemudian diberi nama Boen Tek Bio, berasal dari kata Boen yang berarti sastra, Tek = kebajikan, dan Bio = tempat ibadah.

Pada awal didirikan bentuk bangunannya masih sangat sederhana, berupa tiang-tiang bambu beratap rumbia. Awal abad ke-19 setelah perdagangan di Tangerang meningkat, dan umat Boen Tek Bio semakin banyak, kelenteng ini ikut berkembang hingga ke bentuknya sekarang.

Kelenteng Boen Tek Bio memiliki tradisi sakral berupa gotong toapekong, kirab kimsin, atau jut bio yang digelar setiap 12 tahun sekali. Mengelilingi kawasan Pasar Lama, gotong toapekong tersebut diadakan bertepatan dengan Tahun Naga.

Gotong toapekong merupakan tradisi lama yang sejak dahulu kala selalu mengundang ribuan umat untuk mengikutinya. Mengutip “Sinar Padumuttara”, pernah suatu ketika prosesi gotong toapekong sempat terhambat oleh sesaknya jumlah umat yang datang.

Kelenteng Boen Tek Bio memiliki tradisi gotong toapekong setiap 12 tahun sekali yang selalu menyedot kunjungan ribuan umat.

Kio atau tandu Makco Kwan Im terhalang untuk keluar, hingga sebuah petunjuk didapat lewat ciamzi. Petunjuk itu, agar beberapa orang membawa keluar sebatang kayu terlebih dahulu.

Anehnya, umat yang berjubel menganggap kayu tersebut joli atau kio pengusung kimsin Makco Kwan Im. Ketika umat mengikuti kayu yang dilihatnya seperti joli Sang Dewi Welas Asih, kio yang sebenarnya pun bisa lewat dengan lancar. HK

 

1 2 3

Article Tags:
Article Categories:
Pecinan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares