Kisah Lima Pendekar Shaolin di Malang

Written by
Hiomerah – Lima pendekar ini selamat ketika Kuil Shaolin dihancurkan pasukan Tjhing. Di Yayasan Panca Budhi Malang, arca sucinya tetap dihormati sampai sekarang. 

Ada sesuatu yang menarik di gedung Persemayaman Jenazah Panca Budhi, Malang. Bukan tumpukan peti mati atau seperangkat gamelan tua yang menjadi saksi sejarah organisasi itu. Tetapi altar untuk memuja Ngo Tjo yang sangat jarang dijumpai di tempat lain.

Berada di lantai 2, ruangan altar Ngo Tjo bersebelahan dengan ruang altar pemujaan Dewa Kwan Kong dan Hok Tik Chien Sien. Di altar itu, Ngo Tjo berwujud kimsin atau arca suci lima laki-laki berkepala plontos dan berjubah kuning.

Ngo Tjo adalah sebutan untuk lima orang hwee shio atau pendeta dari Kuil Siauw Liem Sie (lebih dikenal dengan sebutan perguruan Shaolin). Sejak Panca Budhi berdiri 103 tahun lalu, kimsin Ngo Tjo sudah berada di sana dan menjadi salah satu yang dipuja anggota organisasi tersebut.

“Sampai saat ini, pemujaan itu tetap kami lakukan,” kata salah seorang pengurus Panca Budhi, Salam Santoso,  kepada wartawan  media ini beberapa waktu lalu.

Sejarah Panca Budhi berkaitan erat dengan riwayat lima hwee shio di atas. “Sarinja Hong Boen Hwee”, sebuah artikel yang ditulis Tan Giok Tjhwan untuk jubileum atau peringatan 25 tahun Ang Hien Hoo, menjelaskan hal tersebut.

Ngo Tjo, lima pendekar shaolin, arca sucinya menempati altar di Panca Budhi, Malang.

Organisasi yang gedungnya terletak di Jl. Laksamana Martadinata, Kota Malang, itu, berdiri pada 3 September 1910. Awalnya bernama Ang Hien Hoo dan nama Panca Budhi baru muncul pada 1965.

Ang Hien Hoo adalah kelanjutan dari organisasi Thian Tee Hwee yang lahir lima tahun sebelumnya. Para pendirinya orang-orang yang sadar akan pentingnya persaudaraan sesama bangsa dan antar golongan. Mereka antara lain Go A Djwee, Hoo A Siang, Tan Wan, Go A Tjoen, Tan A Boe, Tjioe Khin, Tjioe Tjiong, Ong Hok Sing, Ham Ngay, Tan A Yoe, dan Young A Yoe.

Berdirinya Ang Hien Hoo tidak lepas dari gerakan Hong Boen Hwee di Tiongkok yang kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia. Hong Boen Hwee sendiri adalah sebuah perkumpulan rahasia yang didirikan oleh Ngo Tjo.

Riwayatnya begini. Pada 1714, Tiongkok berseteru dengan Kerajaan See Lo di bawah panglima perangnya, Phang Liong Thian. Tak satu pun panglima perang Tiongkok yang sanggup melawan kekuatan pasukan panglima ini. .

Setiap kali perang terjadi, pasukan Tiongkok selalu mengalami kekalahan hingga menjadi bahan hinaan panglima perang musuh. Keadaan ini membuat Kuil Siauw Liem Sie yang mempunyai 128 pendekar sakti, tergerak untuk melawan Phang Liong Thian dan bala tentaranya.

Singkat cerita,  128 pendekar itu berhasil mengalahkan Phang Liong Thian. Atas jasa-jasanya ini, Kaisar Khong Hie (1661-1772) memberi mereka pangkat dan tanda penghargaan. Namun hanya tanda kebesaran saja yang mereka terima untuk disimpan. Keadaan tiba-tiba berubah ketika Kaisar Khong Hie meninggal dan digantikan anaknya, Kaisar Yong Tjhing (1723-1735).

Kuil Shaolin Hancur

Karena sebuah hasutan, tanpa sebab yang jelas, Yong Tjing memerintahkan pasukannya untuk menyerbu Kuil Siauw Liem. Dalam pertempuran tersebut, para Petarung Kuil Shaolin berhasil mengusir puluhan ribu tentara Dinasti Tjhing (Qing) yang bersenjata lengkap.

Kegagalan dalam serangan pertama membuat Kaisar Tjhing marah besar. Sang Kaisar kemudian mengumpulkan tentara-tentara terbaik dari setiap legiun dan merekrut seluruh pendekar kungfu.

Kuil Shaolin yang pernah diserbu dan dibakar oleh tentara Dinasti Tjhing.

Para Lhama Tibet dan praktisi Pak Mei yang loyal kepada Tjhing juga dimobilisasi. Mereka bersama-sama menyerbu Kuil Shaolin serta melakukan penyusupan dan perusakan dari dalam.

Dalam serangan kedua itu, Kuil Shaolin hancur total dan terbakar selama empat puluh hari empat puluh malam. Seluruh catatan kuno berumur ribuan tahun termasuk buku-buku ilmu kungfu serta senjata pusaka, hilang atau habis terbakar.

Kehancuran tersebut terutama disebabkan oleh pengkhianatan oknum Shaolin yang disusupkan oleh Tjhing untuk meracuni sumber air dan makanan para bhiksu. Racun ini yang membuat kemampuan bertarung para bhiksu dan pendekar Shaolin menurun bahkan hilang.

Akibatnya, banyak bhiksu dan pendekar Shaolin tewas. Hanya tersisa lima orang dari 128 pendekar yang lolos. Selebihnya tewas terpanggang api.

Banyak peristiwa gaib terjadi saat kuil ini dibakar. Salah satunya muncul sebilah pedang dari tanah. Di badan pedang tertulis “dua naga berebut mutiara” dan di ujungnya tertulis “robohkan Kerajaan Tjhing dan bangun kembali Kerajaan Bing”.

Lima orang yang selamat tersebut Choi Tak Chung, Fong Tai Hung, Ma Chiu Hing, Wu Tak Tai, dan Lee Sik Hoi. Di kemudian hari, lima Shaolin ini identik dengan lima jago kungfu yang terkenal, yaitu:

Hung Hei-Koon, pencipta Kungfu Hung Gar, murid utama Bhiksu Gee Sin Sim See. Terkenal sebagai ahli Gung Gee Fok Fu Kuen (Siu Lum Fook Fu Kuen) dan Cakar Harimau Sejati. Jurus cakar harimaunya terkenal sangat ganas dan bertenaga. Kebanyakan korban keganasan jurus cakar harimau Hung Hei Koon adalah para tentara Tjhing dan antek-antek Manchu.

Lima orang pendekar yang selamat dari pembakaran kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Lau Sam-Ngan, pencipta kungfu Lau Gar yang dikenal dengan julukan “Lau Si Mata Tiga”. Kemampuan kungfunya sangat tinggi, mampu bertarung menghadapi keroyokan tentara Tjhing dan pendekar kungfu lainnya tanpa harus menoleh, Seolah memiliki “mata lain” di belakang kepalanya.

Choi Kau-Yee, pencipta kungfu Choi Gar. Lee Yau-San, guru dari Chan Heung, pencipta kungfu Lei Gar (Choi Lei Fut). Terakhir, Mok Ching-Kiu, pencipta kungfu Mok Gar.

Serikat Rahasia

Lima orang yang lolos dari serangan tersebut kemudian menyebar ke seluruh Tiongkok sembari mengajarkan shaolin kungfu serta perlawanan terhadap Dinasti Tjhing. Mereka mendirikan Hong Boen Hwee untuk menggalang kekuatan dan menghidupkan kembali Kerajaan Bing.

Organisasi ini memiliki semboyan “robohkan Kerajaan Tjhing dan bangun kembali Kerajaan Bing”. Mengambil kata-kata yang tertera pada pedang yang muncul sewaktu Kuil Siauw Liem terbakar.

Semboyan itu sebenarnya mempunyai maksud lebih dalam, bukan sekadar seperti yang tersurat dalam kata-kata tersebut. ‘Tjhing’ bisa diartikan sebagai ‘nafsu’, yang harus dilawan bila ingin sebuah ‘penerangan’.

Ngo Tjo atau lima pendekar juga dilambangkan sebagai Ngo Tjong atau lima organ dalam (jeroan); hati, limpa, ginjal, jantung, dan paru-paru. Kelima organ ini mempunyai warna merah seperti warna kebesaran bendera Hong Boen.

Banyak perkumpulan yang merupakan perkembangan dari Hong Boen Hwee lebih mengutamakan gerakan sosial, salah satunya Panca Budhi.

Selain tujuan politik di atas, Hong Boen juga mempunyai misi moral. Yaitu membangun persaudaraan antar sesama bangsa Tionghoa. Hong Boen menjadi gerakan rahasia yang berkembang menjadi beberapa organisasi dan menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Organisasi-organisasi Hong Boen yang menjalankan asasnya dengan benar bahkan menjelma menjadi organisasi politik besar, seperi “Kok Bin Tong” (Kuomintang). Sebaliknya, yang meninggalkan tujuannya semula, menjadi organisasi kejahatan, gerombolan perampok dan sebagainya.

Ada juga organisasi-organisasi yang lebih menitikberatkan pada tujuan moralnya saja. Mereka menjadikan persaudaraan kekal sebagai tujuan utamanya.  Hong Boen seperti ini banyak terdapat di Indonesia, khususnya Jawa. Di antaranya Ang Hien Hoo, Sing Khie, Hoo Hap, dan Sam Ban Hien.

Meski sudah berkembang sangat luas, Ngo Tjo atau lima pendekar yang menjadi cikal-bakal berdirinya Hong Boen Hwee, tetap menjadi panutan mereka. Seperti yang ada di Panca Budhi. HK.

1 2 3 4

Article Tags:
Article Categories:
Jejak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares