Kisah Cinta Tionghoa – Jawa dalam Kelezatan Lumpia

Written by
Hiomerah – Kelezatannya menggoda berbagai kalangan untuk menikmatinya. Lumpia Semarang memiliki riwayat semenarik cita rasanya

Bila ke Semarang, jangan lupa menyicipi kuliner khas kota ini, lumpia. Tidak harus ke Semarang memang bila sekadar ingin merasakan kelezatannya. Di berbagai kota pun, makanan ini mudah didapat, termasuk yang ditambahi embel-embel ‘asli Semarang’.

Namun lumpia yang benar-benar asli Semarang, tentu mempunyai kelezatan berbeda. Terutama yang namanya sudah melegenda, seperti lumpia gang lombok.

“Di sini rasanya sepesial. Lebih enak dan gurih,” kata Leni, salah seorang penggemar lumpia gang lombok.

Pembeli lain mengatakan, lumpia Gang Lombok memiliki keistimewaan pada racikan rebungnya yang tidak berbau, serta campuran telur dan udangnya tidak amis.

Keistimewaan lumpia gang lombok sejatinya berasal dari aroma ikan pihi di minyak gorengnya. Selain rebung, udang, dan telur, ikan pihi juga menjadi isian lumpia ini. Ikan pihi menjadi resep dan ciri khasnya sejak mula makanan ini diciptakan.

Karena kelezatannya, lumpia Semarang disukai dan dikenal banyak orang. Sebuah buku panduan wisata terbitan Prancis bahkan memuat lumpia gang lombok beserta alamat kiosnya. Kalangan pejabat dan orang penting negeri ini juga pernah menikmatinya.

“Gus Dur dan keluarga Cendana juga pernah ke sini,” kata Siem Swie Kiem kepada wartawan media ini beberapa waktu lalu.

Nama Gang Lombok sendiri diambil dari tempat menjajakannnya, Gang Lombok 11, yang terletak di kawasan Pecinan Semarang. Kiosnya sangat kecil, hanya berukuran sekitar 5 X 5 meter, tepat di sebelah kiri Kelenteng Tay Kak Sie.

Setiap hari lumpia Gang Lombok tak pernah sepi pembeli. Kios buka mulai pukul 09.00 sampai 17.00. Saking larisnya, seringkali kios tutup lebih awal. Padahal dibanding lumpia lain, harganya jauh lebih mahal.

Lumpia Semarang tercipta dari kisah cinta dua insan berbeda bangsa.

Lumpia Semarang memiliki riwayat semenarik cita rasanya. Makanan yang sudah menyebar hampir di semua kota di Indonesia ini, berlatar kisah cinta sepasang anak manusia dari etnik Tionghoa dan Jawa.

Sekitar pertengahan abad ke-19, seorang Tionghoa bernama Tjoa Thay Joe datang dari Fujian, Tiongkok, dan menetap di Semarang. Di kota ini, Thay Joe menyambung hidup dengan membuat dan menjual sejenis makanan khas kota kelahirannya.

Di Semarang, telah ada Mbok Wasih yang berjualan makanan menyerupai makanan buatan Thay Joe, hanya beda isi. Makanan yang dibuat Mbok Wasih berisi udang dan kentang, sedangkan jualan Thay Joe berisi daging babi dan rebung.

Awalnya mereka bersaing, namun kemudian saling jatuh cinta dan menikah. Pernikahan Tjoa Thay Joe dan Wasih juga memadukan dua macam makanan buatan mereka.

Makanan perpaduan itu yang kemudian dikenal sebagai lumpia Semarang. Isinya tidak lagi daging babi atau kentang, melainkan ikan pihi dicampur udang dan rebung.

Nama lumpia sendiri berasal dari kata Olympia Park, sebuah pasar malam yang diadakan Belanda. Tempat Thay Joe dan Wasih biasa berjualan. Nama lumpia tercipta karena lidah setempat yang kesulitan melafalkan kata olympia.

Usaha lumpia kemudian diteruskan Siem Gwan Sing dan Tjoa Po Nio, menantu dan putri tunggal Thay Joe – Wasih. Mereka membuka kios di Gang Lombok. Ketika keduanya meninggal, usaha diteruskan anak-anak mereka; Siem Swie Hie, Siem Hwa Nio, dan Siem Swie Kiem.

Citarasa lumpia gang lombok membuatnya disukai berbagai kalangan.

Siem Swie Kiem tetap menempati kios di Gang Lombok. Karena sudah sangat lama berdiri di sana, gang ini identik dengan lumpia Semarang. Hak paten nama lumpia Gang Lombok pun digenggam Siem Swie Kiem.

Sedangkan usaha lumpia Siem Swie Hie dilanjutkan oleh putrinya, Siem Siok Lien alias Mbak Lien. Generasi keempat lumpia Semarang ini membuka kios di Jalan Pemuda dan Jalan Pandanaran. Sementara keturunan Siem Hwa Nio membuka kios di Jalan Mataram.

Selain tiga aliran yang berasal dari keturunan Tjoa Thay Yoe–Wasih, ada 2 lagi aliran lumpia di Semarang. Lumpia yang dibuat oleh sejumlah bekas pegawai lumpia Jalan Pemuda dan yang dikelola oleh orang-orang dengan latar belakang hobi kuliner. HK

1 2 3

Article Tags:
Article Categories:
Warna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares