Kisah Bubungan ‘Berkeringat’ Kelenteng Jamblang

Written by
Hiomerah – Meski berkali-kali renovasi, kayu bubungan kelenteng tak pernah diganti. Konong bubungan yang tetap ada hingga sekarang ini bisa ‘berkeringat’ dan meneteskan air

Keberadaan kelenteng yang berlokasi di Gang Niaga ini menjadi semacam landmark kawasan Pecinan Jamblang yang dipenuhi bangunan-bangunan tua berarsitektur Tiongkok. Sebuah gapura yang merupakan bagian dari kelenteng seolah menjadi pintu masuk ke perkampungan masyarakat Tionghoa.

Seperti kebanyakan kelenteng-kelenteng yang tersebar di Kabupaten Cirebon, Kelenteng Jamblang juga menempatkan Kongco Hok Tek Cing Sin sebagai dewa utama.

Selain kimsin Dewa Bumi dan pengawalnya, tidak ada arca suci lagi di dalam bangunan utama. Kimsin-kimsin lain terdapat di bangunan sisi kiri yang berfungsi sebagai vihara, yaitu kimsin Makco Kwan Im, Kongco Kwan Kong, dan Buddha.

Ruang utama Kelenteng Jamblang hanya ditempati satu altar untuk Kimsin Kongco Hok Tek Cing Sin.

Catatan berhuruf Tionghoa yang menempel di dua dinding utama menjelaskan riwayat tempat ibadah yang di papan namaya tertulis Vihara Dharma Rhakita itu. Beruntung, penjaga kelenteng, Thio Kwat Nio, berbaik hati memberi lembaran terjemahannya.

Sebuah catatan yang disebut babad dibuat pada 1900, dikutip oleh Sim Peng Wan, 17 Agustus 2005, dan diketahui oleh Tan Pek Gan, pengurus kelenteng.

Pada pembuka babad tersebut tertulis sebuah peribahasa yang berarti “lebih berharga kalau orang yang pandai membangun pandai juga melaksanakan, sedangkan lebih berharga pula bila orang yang pandai melaksanakan pandai pula memelihara”.

Tidak ada catatan kapan dan siapa yang membangun Kelenteng Jamblang, meski warga sekitar meyakini bahwa bangunan tersebut telah berusia ratusan tahun. Hanya satu catatan menjelaskan ketika rumah ibadah tersebut dirasa perlu untuk diperbaiki.

Saat itu penduduk Jamblang bahu membahu mengumpulkan uang hingga terkumpul jumlah yang cukup. Urunan dilakukan kurang lebih 115 tahun terus-menerus, sejak 1785 (Khian Liong tahun ke-50 It Tjie Shio Tjoa) hingga 1900 (Kong Sie tahun ke-26 Khe Tjoe Shio Tjhie).

Pada awalnya, uang urunan hanya dapat digunakan untuk membangun dua ‘blandongan’ yang ada di sebelah kiri dan kanan kelenteng.

Beberapa peristiwa penting sempat mewarnai kehidupan kelenteng dan sekitarnya dalam rentang waktu yang cukup panjang tersebut. Pada 1806 (Kee Kheng tahun ke-11 Phia In Shio Houw) di sekitar Jamblang timbul pergolakan dan kekacauan.

Sebuah gapura yang merupakan bagian dari kelenteng seolah menjadi pintu masuk ke perkampungan masyarakat Tionghoa.

Berkat persatuan yang kuat, penduduk Jamblang yang pada waktu itu hanya beberapa ratus orang, dapat melawan serangan perusuh. Mereka yang percaya mengatakan bahwa tentara malaikat membantu melindungi penduduk sehingga mendapat keselamatan.

Kerusuhan kembali terjadi pada 1817 (Kee Kheng ke-22 Teng Thioe Shio Goe), akibat ditolaknya tuntutan penduduk kampung untuk bebas pajak. Seorang pegawai negeri bernama Raden Patih telah menjadi korban pembunuhan dalam kerusuhan tersebut.

Syukur penduduk Jamblang tidak mendapat gangguan apapun. Kerusuhan tersebut dikenal sebagai Peristiwa Kedongdong karena berawal dari Desa Kedongdong.

Menumpas Wabah

Pada 1828 (Too Kong tahun ke-8 Bouw Tjoe Shio Tjhie) Toapekong Jamblang dibawa ke salah satu kelenteng di Cirebon. Di sana, berkumpul dengan Toapekong berbagai kelenteng untuk merayakan pesta Co Keng Seng.

Pada 1859 (Ham Hong tahun ke-9 Kie Bie Shio Yo) di Jamblang berjangkit penyakit kolera yang membahayakan. Toapekong Kelenteng Jamblang pun diarak berkeliling, hingga berhasil menumpas wabah tersebut.

Tujuh tahun kemudian (Tong Tie tahun ke-5 Phia In Shio Houw), Tuan Oeij Tiam Seng dilantik sebagai wijkmeester (kepala kampung) Jamblang. Pada 1872 (Tong Tie tahun ke-11 Djim Sin Shio Liong) kelenteng dipugar dan dibuat selokan besar dari depan kelenteng ke kali.

Kimsin Hok Tek Cing Sin ini beberapa kali diarak untuk mengusir wabah penyakit.

Dua tahun setelah itu, wabah kolera kembali berjangkit, dan Toapekong pun diarak lagi untuk membasmi penyakit.

Pada 1875 (Kong Sie tahun ke-1 It Hay Shio Tie) Wijkmeester Oeij Tiam Seng naik pangkat jadi luitenant. Tujuh tahun kemudian (Kong Sie tahun ke-8 Djim Ngo Shio Bee) berjangkit lagi wabah kolera, dan seperti sebelum-sebelumnya musnah setelah Toapekong dikirab.

Pada 1889 (Kong Sie tahun ke-15 It Thioe Shio Goe) Kali Jamblang yang terletak persis di belakang kelenteng, meluap. Hujan yang turun seharian penuh pada Tjia Gwee Tjee Kauw itu membuat air sungai memenuhi selokan-selokan bahkan merendam jalanan.

Dilanda Banjir

Akibatnya banjir melanda rumah-rumah penduduk setinggi enam sampai sepuluh kaki, jalanan setinggi lima sampai enam kaki, dan di klenteng hanya setinggi satu setengah kaki. Air merendam jembatan hinga hampir tidak kelihatan.

Tembok-tembok rumah penduduk, juga blandongan gerbang kelenteng, runtuh. Gubuk-gubuk di kampung, gerobak kuda yang ada di jalanan, hanyut dibawa banjir.

Meski tidak ada korban jiwa, harta kelenteng berupa uang dan surat-surat berharga yang saat itu tersimpan di rumah Loo Tjoe semua basah kuyup. Karena kejadian ini, beberapa waktu kemudian pengurus kelenteng membuat sebuah kamar khusus untuk menyimpan benda-benda tersebut.

Kimsin lain berada di bangunan sisi kiri yaitu kimsin Makco Kwan Im, Kongco Kwan Kong, dan Buddha Gautama.

Enam tahun setelah banjir bandang, pada bulan 7 imlek 1895 M (Kong Sie tahoen 21 ITBI-Shio Njo) berdirilah perhimpunan Hiang Gie Hwee. Pengurusnya ialah Toashia Oeij Yap Bie dan Kehtio Yo Sek Tioe.

Pada 1899 (Kong Sie tahun ke-25 Kie Hay Shio Tie) didirikan Thiong Teng di pekuburan, dua blandongan di sebelah kiri-kanan kelenteng diperbaiki, dan WC umum di pinggir kali dibongkar diubah menjadi pejagalan hewan.

Kas kelenteng yang waktu itu berjumlah f.14.700, dipegang oleh Luitenant Oeij Tiam Seng dan Liantiang Tan Kong Lim.

Kayu Masjid Agung

Pada 1900 (Kong Sie tahun ke-26 Khe Tjoe Shio Tjhie) bentuk kelenteng diperbaiki. Ukuran luas kelenteng tetap seperti asalnya, tetapi pondasinya dipertinggi tujuh dim, dan temboknya dipertebal dua kaki.

Walaupun mengalami banyak perbaikan, kayu bubungan kelenteng tidak pernah diganti. Konon, bubungan ini bisa ‘berkeringat’ dan meneteskan air. Ada cerita menarik berkaitan dengan kayu ini sehingga pengurus kelenteng terus mempertahankannya.

Cerita bermula saat Sultan Cirebon membangun Mesjid Agung dan mengalami kekurangan kayu-kayu balok untuk tiang. Kemudian ada yang mengabarkan bahwa di Jatiwangi terdapat sebuah pohon besar yang dapat memenuhi kekurangan itu.

Kayu bubungan yang berasal dari sisa kayu Masjid Agung konon bisa ‘berkeringat’ dan meneteskan air.

Ketika utusan Sultan hendak menebangnya, peristiwa aneh terjadi. Golok dan kapak tak ada yang mampu menumbangkan, bahkan sebelas penebang tewas mengenaskan.

Pohon baru bisa ditebang setelah seorang sakti bernama Nyoo Kit Tjit turun tangan. Kepada Sultan, kemudian dia meminta sepotong kayu pohon tersebut untuk dijadikan bubungan kelenteng. Nyoo Kit Tjit kemudian hari dikenal dengan nama Ki Buyut Cigoler,

Kala itu (diduga sebelum tahun Khian Liong), kelenteng memang sedang dibangun. Dalam rentang 115 tahun, semenjak Tahun Khian Liong sampai Tahun Kong Sie, bubungan tidak pernah rusak. Padahal konstruksi kayu yang lain seperti reng dan rusuk sering diganti dengan kayu baru. HK

 

 

1 2 3 4 5

Article Tags:
Article Categories:
Pecinan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares