Keturunan Tionghoa di Dusun Candi – Pamekasan (2-Habis); Menjunjung Toleransi, Menjaga Tradisi

Written by
Hiomerah Toleransi beragama juga mereka tunjukkan saat ada acara sosial semacam upacara kematian. Bila keluarga mereka yang beragama Islam meninggal dunia, semua keluarga, baik muslim maupun non muslim dari luar wilayah akan berdatangan.

Mereka berbaur dengan keluarga, penduduk sekitar yang beragama Islam, dalam upacara pemakaman secara Islam pula.

“Warga sekitar tidak hanya datang bila yang meninggal beragama Islam. Saat yang meninggal non muslim pun, warga tetap datang karena kami diikat dalam satu wadah rukun kematian,” imbuh Susianto.

Menariknya, ungkap Susianto, semua warga keturunan Tionghoa dikubur dengan siupan, peti mati khas Tionghoa, tak terkecuali bila yang meninggal itu beragama Islam.

Beberapa anggota yang bisa dibilang sebagai sesepuh keluarga ini, tinggal bersama di Rumah Besar.

Saling menghormati tidak hanya pada upacara kematian saja, tapi juga saat ada perayaan-perayaan besar, seperti lebaran dan Tahun Baru Imlek. Komunitas yang masih dalam satu kerabat itu saling merayakan.

Ketika lebaran, baik keluarga yang muslim maupun non muslim, semua ikut merayakan. Demikian pula sebaliknya ketika merayakan Imlek.

Merayakan Tahun Baru Imlek, masih memakai nama Tionghoa, dan panggilan kekerabatan, menjadi bagian usaha mereka mempertahankan budaya leluhur.

Menurut Susianto, tradisi-tradisi Tionghoa tetap mereka pertahankan semata-mata untuk menghargai kebaikan leluhur.

“Rasanya nggak adil bila kita sekarang tidak melestarikan tradisi mereka. Padahal engkong-engkong kami dulu saja mengijinkan kami memeluk agama lain koq,” jelas suami Ernayati alias Lie Tung Moi itu.

Masih hidupnya budaya leluhur juga disimbolkan dengan keberadaan meja sembahyang. Di Rumah Besar, meja sembahyang itu berada, lengkap dengan hioswa dan foto-foto leluhur. Sebuah meja kuno yang menjadi pusat saat komunitas ini merayakan Imlek.

Tidak ada catatan pasti mulai kapan komunitas keturunan Tionghoa di Dusun Candi Utara itu ada. Bong-bong tua yang terletak di timur dusun, seharusnya bisa menjadi petunjuk untuk memperkirakannya.

Bong tua di dekat dusun yang seharusnya bisa menjadi petunjuk sejak kapan komunitas Tionghoa tinggal di dusun ini.

Sayang, selain tidak lagi menguasai tulisan maupun bahasa Tionghoa, huruf-huruf dan angka-angka yang lazim ada di bongpay tidak lagi jelas untuk dibaca.

Namun menurut Phoey Min Nio, kemungkinan lebih 200 tahun lalu leluhur mereka datang di tempat itu. Rumah Besar, rumah kuno berasitektur Tionghoa, menjadi buktinya. Konon rumah ini pernah menjadi bangunan paling bagus di daerah tersebut.

“Menurut cerita orang-orang tua dulu, saat rumah-rumah yang lain masih beratap alang-alang, Rumah Besar sudah beratap genteng,” kata Phoey Min Nio.

Bangunan dan genting tersebut masih terjaga keasliannya sampai sekarang, kecuali beberapa benda di dalamnya.

“Ada yang dicuri orang,” kata sang suami.

Rumah Besar hanya terdiri dari tiga ruangan; satu ruang tengah di mana meja sembahyang diletakkan, dan dua ruang di kanan kiri yang difungsikan sebagai kamar.

Di dinding yang menyekat ruang tengah dengan kamar di sebelah kanan tertempel gambar-gambar bernuansa Kristiani. Ada lagi satu ruang di atas, semacam loteng, yang dulu juga dijadikan kamar.

Lie Tjeng Sun, istri, anak, menantu, dan cucunya, serta salah satu ipar, dan Kauw Sik Nio, mertuanya,  tinggal di sini.

Meja sembahyang, tetap dipertahankan keberadaannya di Rumah Besar sebagai tanda warisan leluhur tetap terjaga.

Rumah kuno bercat putih itu tampak bersahaja dibanding rumah-rumah lain di sekelilingnya. Berbeda dengan rumah-rumah sekitar yang berupa tembok permanen, dinding rumah tersebut dibangun dari papan-papan kayu.

Atapnya yang tersusun dari genting tanah liat sudah terlihat kusam warna coklatnya. Sementara langit-langit anyaman bambunya penuh lubang di sana-sini.

Rumah Besar dulu memiliki dapur di luar bangunan utama. Yaitu rumah lebih kecil yang pernah ditempati pasangan Lauw Sing Hwe – Lie Kim Giok Nio dan keluarganya.

Sebuah meja sembahyang juga terdapat di rumah yang letaknya berhadapan dengan Rumah Besar ini. Sayang, rumah ini sekarang sudah dirobohkan, berganti dengan bangunan tembok permanen yang lebih modern.

Satu rumah tersisa yang sekarang menjadi simbol keutuhan keluarga keturunan Tionghoa itu bukannya lepas dari ancaman. Selain ketuaan umurnya yang membuatnya merana di sana-sini, ancaman juga datang dari orang-orang yang menginginkannya.

“Sudah banyak yang menawar rumah ini, Mas. Dengan harga tinggi, tapi tidak kami kasih. Ini warisan orang tua,” ungkap Lie Tjeng Sun.

Pemilik pertama Rumah Besar adalah seorang pedagang tembakau bermarga Phoei, moyang Phoei Min Nio. Tidak jelas benar, apakah orang tersebut datang langsung dari Tiongkok atau pendatang dari daerah lain.

Beberapa anggota keluarga ini, meski bukan penganut Tri Dharma, ikut mengabdikan diri di Kelenteng Avalokitesvara.

Pemilik pertama rumah inilah yang diyakini sebagai cikal bakal orang-orang keturunan Tionghoa di Dusun Candi Utara.

Pasangan Phoey Min Nio dan Lie Tjeng Sun sendiri masih berasal dari satu kerabat. Phoey Toan Nio, ibu Lie Tjeng Sun adalah saudara sepupu Kauw Sik Nio, ibu Phoey Min Nio.

Sedangkan ayah Lie Tjeng Sun yang bernama Lie Ang Siang adalah perantauan dari Tiongkok. Lie Tjeng Sun lahir di Sumenep sebagai anak kedua dari enam bersaudara.

Melihat meja sembahyang yang masih lestari sampai sekarang, kemungkinan leluhur mereka adalah pemeluk Khonghucu. Menurut Susianto, penduduk sekitar yang mayoritas pemeluk Islam, membuat budaya Khonghucu lambat laun surut.

Anak cucunya banyak yang ganti memeluk Islam. Agama Buddha juga memengaruhi mereka, seiring berdirinya Vihara Avalokitesvara, tidak jauh dari tempat tinggal mereka.

Bahkan ada bagian dari komunitas ini yang menggantungkan hidupnya sehari-hari dari tempat ibadah yang juga sering disebut Kelenteng Kwan Im Kiong itu.

Lauw Sing Hwe sudah bertahun-tahun menjadi biokong atau penjaga kelenteng. Demikian pula dengan Lie Cuan Pik alias Adi Sutrisno yang juga menjadi biokong di kelenteng yang sama.

Sama seperti pendatang pertama dan penduduk keturunan Tionghoa lain di Pamekasan, keturunan mereka juga banyak berkecimpung di usaha tembakau.

Sama seperti pendatang pertama dan penduduk keturunan Tionghoa lain di Pamekasan, keturunan mereka juga banyak berkecimpung di pertanian tembakau.

Mereka menyewa tanah untuk bertanam tembakau, atau menjadi pengepul dari petani lain.  Sebagian lain mengusahakan rumput laut seperti yang dilakukan Susianto.

“Bila musim hujan seperti ini, ya tidak menanam tembakau, sawah ya ditanami padi,” pungkas Lie Tjeng Sun yang memiliki beberapa petak sawah tidak jauh dari Vihara Avalokitesvara. HK.

 

 

1 2 3 4 5

Article Tags:
Article Categories:
Pecinan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares