Keturunan Tionghoa di Dusun Candi – Pamekasan (1); Memeluk Berbagai Agama, Budaya Leluhur Tetap Terjaga

Written by
HiomerahPenuh toleransi, bermacam agama dipeluk oleh komunitas kecil keturunan Tionghoa ini. Meski pembauran terjadi, budaya leluhur tetap mereka lestarikan hingga sekarang.

Dibantu Anis, istrinya, Sudali tampak sibuk dengan barang-barang bekas yang berserakan di teras tempat tinggalnya. Dipilih dan dipilahnya satu persatu barang-barang tersebut menurut macam bahannya.

Plastik dengan plastik, kertas dengan kertas, besi dengan besi, alumunium dengan alumunium, kardus karton dengan barang-barang karton lainnya.

“Ya begini ini, Mas…kerja kasar. Ini hasil beberapa hari keliling Pamekasan,” kata Sudali dengan logat Madura yang kental.

Tak lama, barang-barang tersebut sudah tersusun rapi di halaman rumah, siap diambil oleh pengepul. Teras rumah yang sebelumnya terlihat kotor pun berubah rapi dengan dua meja kayu besar di sisi kanan kirinya. Salah satu meja digunakan Anis mencatat hasil timbang barang-barang bekas di atas saat si pengepul datang.

Mencari dan menjual barang bekas menjadi aktivitas ekonomi sehari-hari yang dilakukan Lie Cuan Yong alias Sudali.

“Alumunium Rp. 12 ribu satu kilonya. Kalau yang tebal bisa sampai Rp. 14 ribu,” imbuh laki-laki 30-an itu.

Sudali adalah salah satu warga dari komunitas kecil keturunan Tionghoa di Dusun Candi Utara, Desa Polagan, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan. Mereka terdiri dari lima belas kepala keluarga, yang mendiami sekitar sembilan rumah, dan tinggal berkelompok di sebelah utara masjid dusun.

Meski tinggal berkelompok, bukan berarti mereka bersikap eksklusif atau tidak membaur dengan masyarakat lain. Justru di tempat inilah, pembauran antara warga keturunan Tionghoa dan penduduk asal, kental terjadi.

Pembauran itu bisa dilihat dalam kehidupan sehari-hari mereka, termasuk dalam berbudaya, agama, maupun pernikahan.

Dalam keseharian, mereka berhubungan dengan keluarga maupun dengan warga sekitar menggunakan bahasa Madura. Bukan hanya bahasa Madura kasar, yang halus pun mereka kuasai.

Logat kental Madura para WNI keturunan itu juga tidak hilang ketika harus berbahasa Indonesia. Tidak ada lagi kebisaan untuk berbahasa maupun menulis dengan bahasa dan huruf-huruf nenek moyang mereka.

Karena sudah tidak lagi menguasai tulisan maupun bahasa leluhurnya, mereka hanya bisa meyakini jika bong-bong tua di timur dusun sebagai makam nenek moyang mereka.

Lie Tjeng Sun alias Susantoso, salah satu tetua komunitas Tionghoa Candi.

Tak satupun warga keturunan Tionghoa di pelosok Pulau Madura ini tahu identitas siapa-siapa yang dimakamkan di tempat itu. Kecuali makam-makam baru, yang bertulis angka dan huruf latin sebagai penandanya.

Tidak lagi menguasai bahasa Tionghoa, bukan berarti mereka lupa sama sekali warisan budaya penurun darah dagingnya. Untuk sapaan atau panggilan kekerabatan misalnya, mereka tetap menggunakan istilah-istilah Tionghoa.

“Kalau manggil kakak perempuan ya tacik, kakak laki-laki ya koko,” ungkap Sudali.

Panggilan-panggilan lain, semacam ai (bibi), engkong (kakek), atau emak (nenek) pun tetap dipakai.

Sebagian dari mereka, juga masih memiliki nama-nama Tionghoa, meski nama Indonesia yang lebih sering dipakai. Misalnya Sudali, oleh kedua orangtuanya, Susantoso dan Siti Hamidah, ia diberi nama Lie Cuan Yong saat lahir.

Susantoso dan Siti Hamidah sendiri masih menyimpan nama Tionghoa, Lie Tjeng Sun dan Phoey Min Nio. Sementara, kakak Sudali memiliki nama Tionghoa Lie Cuan Ing meski lebih dikenal dengan Aliyanto.

Soal nama, juga dimiliki Lie Kim Giok Nio, adik bungsu Susantoso. Perempuan yang menikah dengan Lauw Sing Hwe alias Subagyo ini memiliki nama lain Siti Aminah.

Uniknya, meski memiliki nama yang terkesan Islami, Siti Aminah bukanlah pemeluk Islam seperti Siti Hamidah. Dia mengikuti agama suaminya, Buddha.

Meski memeluk berbagai agama, meja sembahyang yang ada menunjukkan bahwa mereka tetap hormat kepada leluhur.

Keyakinan agama yang dipeluk masing-masing anggota kerabat menunjukkan betapa toleransi dijunjung tinggi di komunitas ini.

Ada tiga agama yang mereka peluk; Katholik, Islam, dan Buddha. Bahkan dalam satu keluarga ada yang menganut tiga agama ini. Masing-masing anggota keluarga dengan agamanya masing-masing.

Keluarga Lie Tjeng Sun dan Phoey Min Nio di atas contohnya. Tjeng Sun beragama Buddha dan Min Nio memeluk Islam. Anak-anak dan menantu mereka pun memiliki keyakinan bermacam, seperti kedua orang tuanya.

Begitu pula dengan Lie Cuan Pik alias Adi Sutrisno. Meski almarhum ayahnya, Lie Tjing Yu beragama Katholik dan ibunya Nio Sing Jing  beragama Buddha, keponakan Lie Tjeng Sun itu memilih Islam untuk mengisi kolom agama di KTP-nya.

Pernikahan bisa jadi adalah alasan mereka memilih agamanya. Adi misalnya menikah dengan Purnami, perempuan Madura asli yang masih keturunan seorang kyai di Pamekasan.

Namun bapak dari Rizki Puradiansyah ini membantah bila dia memilih Islam karena alasan pernikahan. Lingkungannya sejak kanak-kanak di Dusun Candi Utara lah yang membuatnya tertarik dengan Islam.

“Saya sudah suka dengan Islam sejak masih kecil. Awalnya ikut ngaji dengan anak-anak tetangga,” kata Adi yang sekarang tinggal di Pamekasan kota.

Memelihara rumput laut dan menjualnya menjadi salah satu aktivitas mata pencaharian mereka.

Meski satu keluarga menganut agama yang berbeda-beda, tidak pernah ada masalah di antara mereka. Bahkan muncul rasa bangga bila ada yang bisa menunjukkan prestasi dalam kegiatan agama.

Misalnya terjadi pada Adi Sumarsono, muslim anak Lauw Sing Hwe dan Lie Kim Giok Nio, yang pintar bertadarus Al-Qur’an.

“Kalau mau dibandingkan, keindahan tadarusnya tidak kalah dengan warga muslim lainnya,” kata Susianto, kerabat yang lain. HK/Bersambung.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1 2 3 4

Article Tags:
Article Categories:
Pecinan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares