Keturunan Tionghoa di Dungkek: “Di Mana Bumi Dipijak Di Situ Langit Dijunjung”

Written by
Hiomerah – Sejak ratusan tahun silam, warga keturunan Tionghoa di pesisir utara Sumenep ini telah membaur dengan adat budaya setempat. “Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung” menjadi pegangannya.

Sekilas tak ada yang istimewa dengan rumah bercat putih di dekat pasar Desa Bijabi itu. Bangunannya tua, selaras dengan kedamaian suasana pedesaan pesisir utara pantai Sumenep. Toko kelontong kecil, yang lebih pas disebut warung, menjadi daya tarik rumah itu. Bermacam kebutuhan sehari-hari, mulai kecap, mie instan, sabun mandi, sabun cuci, hingga obat nyamuk tersedia di sini.

Hal istimewa ada pada penjualnya. Seorang perempuan setengah baya yang dari ciri fisiknya berbeda dengan kebanyakan orang di sekitarnya. Namun sikapnya ramah, seperti tipikal masyarakat di desa itu, terutama kepada tamu-tamu yang baru dikenalnya. Senyumnya selalu mengembang selama berbincang.

“Iya Mas, benar di sini rumahnya Pak Hong Twan,” jawab perempan itu dengan bahasa Indonesia sambil tersenyum.

Candrawati tampak di pintu toko kelontong miliknya di dekat pasar Desa Bijabi.

Dia adalah Candrawati, istri Hernadi. Dua orang ini adalah bagian dari warga keturunan Tionghoa yang tinggal di Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep, Madura. Gambaran kehidupan kebanyakan masyarakat keturunan Tionghoa di Dungkek bisa dilihat pada pasangan suami istri tersebut.

Candrawati yang  memiliki nama Tionghoa Tan Tjie Lan dan Hernadi yang memiliki nama Tionghoa Oei Hong Twan, sudah lama memeluk Islam. Agama yang dianut mayoritas penduduk Dungkek dan Pulau Madura.

Untuk berkomunikasi sehari-hari, mereka menggunakan bahasa Madura, kasar maupun halus, sesekali bahasa Indonesia. Meski disebut keturunan Tionghoa, jangan berharap mendengar mereka bercakap dengan bahasa leluhurnya. 

Di daerah pantai yang berjarak sekitar dua puluh kilometer dari Kota Sumenep itu, warga keturunan Tionghoa sebagai kaum minoritas begitu membaur dengan penduduk lokal. Mereka berhasil menyesuaikan diri dengan adat istiadat atau kebiasaan masyarakat setempat. Mulai nama, pakaian, makanan, bahasa, hingga keyakinan yang mereka anut.

“Di sini tidak ada lagi perbedaan antara warga Tionghoa dan warga lainnya,” kata Anwar Syahroni Yusuf, salah seorang tokoh masyarakat Dungkek.

Bahkan, menurut mantan sekretaris kecamatan Dungkek tersebut, karena sudah sangat membaur, dalam data kependudukan di kecamatan, tidak ada lagi klasifikasi WNA dan WNI. Dalam segala urusan, pembedaan itu tidak berlaku.

“Statusnya sama, pribumi semua, tidak ada perbedaan,” tegas pria berdarah Bugis yang lahir di Kaimana, Papua  ini.

Hernadi dan Candrawati, membaur alami dan tidak pernah terjadi persoalan.

“Di sini membaur dengan sangat alami. Kalau ada persoalan, tentu kami sudah habis, karena warga keturunan Tionghoa di sini sangat sedikit,” imbuh Hernadi.

Tentang pembauran, sebuah ungkapan menarik pernah disampaikan almarhum Haji Abdul Kahar, sesepuh Tionghoa sekaligus tokoh Islam di daerah tersebut.

“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Meski kami ini keturunan Tionghoa, kami harus mengikuti adat daerah yang kami tempati,” ungkap pemilik nama Tionghoa Kwee Kek Wan itu suatu ketika.

Ungkapan itulah yang dipegang warga keturunan Tionghoa di Dungkek saat secara sukarela membaur dengan adat-istiadat, termasuk dalam menentukan pilihan agamanya. Salah satu contohnya Tjhoa Ek Kwan, pemilik toko beras ‘Cinta Damai’ yang sejak kelas 6 SD sudah masuk Islam.

Ketertarikannya pada Islam bermula dari seringnya ikut berziarah ke makam-makam tokoh Islam.

Keputusannya menjadi muslim mendapat dukungan dari lingkungannya. Bapak-ibunya, Tjhoa Sien Hiang dan Soo Tien Nio, yang beragama Khonghucu juga tidak melarang.

Mohammad Ichwan menjadi nama baru laki-laki kelahiran Desa Pancor, Pulau Sapudi, 2-3 jam tranportasi perahu dari Dungkek itu. Nama ini mendapat tambahan ‘Haji’, ketika 1999 dia menunaikan rukun Islam yang ke-5.

Meski lahir dalam keluarga Khonghucu, dukungan lingkungan membuat Haji Ichwan (duduk) memilih Islam sejak kecil.

“Mungkin itu sudah hidayah,” ungkap Haji Ichwan.

Hidup Akur

Selain pengaruh lingkungan seperti dialami Ichwan, situasi sosial politik juga mempengaruhi pilihan mereka terhadap Islam. Adanya pelarangan segala hal yang berbau Tionghoa selama 32 tahun Orde Baru berkuasa, membuat mereka memilih Islam sebagai agamanya. Hernadi misalnya, karena dituntut oleh situasi, akhirnya masuk Islam pada 1980.

“Sebelumnya, saya menganut agama leluhur, Khonghucu,” jelas laki-laki yang asli kelahiran Dungkek itu.

Ayahnya, Oei Kei Hoo dan kakeknya, Oei Tek Wan, sendiri tetap memeluk Khonghucu sampai meninggal dunia. Bahkan upacara kematiannya pun dilakukan dengan tatacara agama leluhurnya itu.

Seperti mayoritas penduduk Dungkek, warga Tionghoa di wilayah ini sebagian besar memang memeluk Agama Islam. Dari sekitar 100 jiwa warga keturunan Tionghoa, kurang lebih 90 persennya beragama Islam. 100 jiwa tersebut tersebar di tiga desa; Lapa Laok, Bicabi, dan Dungkek . Di Desa Dungkek, mereka tersebar di tiga dusun; Panjurangan, So’ongan,  dan Dungkek Daja.

Dalam keseharian, warga Tionghoa Muslim di Dungkek, memiliki kebiasaan yang tidak berbeda dengan kebanyakan umat muslim lainnya. Mereka ikut sholat berjamaah di masjid, saat bertemu pun saling mengucap “assalammualaikum”. Ketika bulan Ramadhan, mereka juga menjalankan puasa. Sholat tarawih pun ada yang sebelas dan dua puluh tiga rakaat.

Ketika Islam dipilih menjadi pegangan hidup, warga Tionghoa Muslim di Dungkek, pun meninggalkan sebagian besar kebudayaan nenek moyangnya. Mereka tidak lagi merayakan Hari Raya Imlek dan hari raya lainnya.

Sembahyang kepada arwah leluhur juga sudah tidak lagi mereka jalankan. Ritual yang sebelumnya dijalankan turun-temurun itu sudah mereka putus dengan memendam abu leluhur.

Warga peranakan Tionghoa beragama Kristen beribadah di rumah yang difungsikan sebagai gereja ini.

Sikap seperti itu, juga dilakukan oleh warga Tionghoa di Dungkek yang menganut agama lain, Kristen misalnya. Sebagian warga keturunan Tionghoa di Dungkek memang memeluk Agarma Kristen. Mereka terbagi dalam dua jamaah gereja, Bethany dan Bethel. Masing-masing gereja ini melakukan misa setiap malam Senin dan Rabu, bersama jamaah yang datang dari Sumenep.

“Gereja-gereja ini juga sebagai bukti bahwa ada tingkat toleransi tinggi di sini. Tidak ada masalah selama ini,” kata Anwar.

Tentang toleransi, keluarga Hernadi juga bisa menjadi contoh. Anak pertamanya, Sri Wahyuni, dibiarkan mengikuti agama suaminya, Kristen. Sementara anak kedua, Siswanto, mengikuti agama yang dianut orang-tuanya.

“Tidak masalah. Yang penting baik, hidup akur, tidak saling mengganggu,” ungkap Hernadi. 

Selain Islam dan Kristen, beberapa warga Tionghoa di Dungkek ada yang masih memeluk agama Khonghucu. Orang-orang inilah yang sampai sekarang tetap memegang adat budaya leluhur mereka.

Saat Imlek atau hari besar Tionghoa lainnya, seperti ceng beng, mereka masih melakukan sembahyangan, di bong dekat desa atau di Kelenteng Pao Sian Lian Kong, Sumenep.

Menariknya, meski sebagian besar warga Tionghoa di Dungkek sudah banyak menanggalkan kebudayaan nenek moyang, hal itu tidak serta-merta membuatnya luntur sama sekali. Panggilan semacam ‘engkong’, ‘mak’, ‘koko’ dan ‘meme’, masih mereka pakai.

“Saya panggil kakek saya, ya engkong,” kata Muhammad Sadik, seorang pegawai kecamatan yang masih ada darah Tionghoa dari kakeknya.

Budaya Tionghoa masih bertahan di Dungkek, salah satunya lewat rumah kuno beratap ekor walet ini.

“Anak-anak saya memanggil ko atau me pada kakak atau adiknya. Cucu-cucu saya juga memanggil saya engkong,” imbuh Ichwan.

Di Dungkek juga masih bisa ditemui beberapa bangunan berasitektur Tionghoa, dengan ciri atap pelana kuda atau ekor walet. Seperti rumah milik almarhum Tan Kian Bing, mertua Ichwan.

Seperti umumnya orang-orang keturunan Tionghoa di Indonesia, sebagian besar warga Tionghoa di Dungkek menggantungkan hidupnya sebagai pedagang. Ada yang jual-beli hasil laut, ada yang berdagang sembako seperti Ichwan. Beberapa juga membuka bengkel atau toko alat bangunan. Di kantor kecamatan Dungkek sendiri, ada beberapa pegawai yang dalam tubuhnya masih mengalir darah Tionghoa.

Rombongan Baru

Kapan pertama kali para pendatang Tionghoa datang ke Dungkek, tidak ada catatan yang pasti. Bisa jadi komunitas ini sudah menetap di Dungkek sekitar abad ke-14. Perkiraan ini berdasar argumen bahwa sebelum kedatangan Laksamana Cheng Ho ke Nusantara telah ada komunitas-komunitas Tionghoa di beberapa tempat yang mempunyai pelabuhan ramai seperti Gresik, Tuban, Surabaya, dan Lasem.

Di Dungkek, bukti-bukti masa awal kedatangan orang Tionghoa dapat dilihat pada bong-bong kuno. Di belakang kantor kecamatan misalnya, terdapat satu komplek pemakaman Tionghoa kuno, yang sebagian sudah runtuh bangunannya.

Kemungkinan lain adalah kedatangan mereka secara besar-besaran pasca peristiwa pembantaian Tionghoa di Batavia 1740. Peristiwa itu, yang disusul meletusnya gerakan perlawanan orang-orang Tionghoa terhadap VOC, menyebabkan banyak warga Tionghoa di Batavia mengungsi ke timur.

“Sasaran pengungsian antara lain ke daratan Madura, termasuk Sumenep. Karena keamanan Sumenep, yang meski dibawah kekuasaan VOC, cukup terjamin,” jelas budayawan dan salah seorang penyusun “Sejarah Sumenep”, Edhi Setiawan (alm), suatu ketika.

Sebuah bong kuno di Dungkek, menjadi saksi sejak kapan leluhur keturunan Tionghoa menempati desa ini.

Dungkek berasal dari bahasa Mandarin “thung” dan “kek” yang berarti “rombongan baru”, sama seperti “singkek” yang berarti “tamu baru”.

Para pendatang baru ini kebanyakan laki-laki karena adat istiadat Tiongkok dan perjalanan jauh yang berat tidak mengijinkan kaum perempuan ikut serta. Ketika memutuskan menetap atau singgah dalam waktu yang lama, mereka menikahi perempuan-perempuan lokal.

Penduduk lokal tidak pernah mengganggu keberadaan mereka. Maka pembauran pun berjalan. Bahkan, menurut Edhi, sebagian di antara mereka mulai meninggalkan kebudayaan leluhurnya. Beradaptasi dengan adat-istiadat setempat, termasuk keyakinan agamanya.

“Sebagian pendatang itu ada pula yang tetap teguh mempertahankan kebudayaan leluhurnya. Namun kelompok pertamalah yang kuat bertahan sampai sekarang,” kata Edhie. HK.

 

 

1 2 3 4 5 6

Article Tags:
Article Categories:
Pecinan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares