Kelenteng Talang, Awalnya Dibangun Sebagai Masjid

Written by
HiomerahKelenteng Talang dibangun oleh Menteri Keuangan Kesultanan Cirebon beragama Islam. Kelenteng ini diyakini pernah berfungsi sebagai masjid.

Mengunjungi kelenteng yang berlokasi di Jalan Talang 2, Kota Cirebon, ini,  kita akan disambut sebuah gerbang megah. Setelah melewati halamannya yang luas, pintu ‘memasuki kebajikan’ menyambut di bangunan depan.

Di ruang dalam bangunan ini tergantung foto kuno Kho Sin Swan, pendiri Khong Kaun Hwee Cirebon. Juga sebuah pigora berisi bagan silsilah pendiri kelenteng ini yang berhubungan dengan raja-raja Majapahit.

Melangkah terus ke belakang, terdapat sebuah tempat terbuka yang memisahkan bangunan depan tadi dengan bangunan utama kelenteng. Menariknya di kanan kiri ruang terbuka yang menjadi penghubung dua bangunan tersebut terdapat dua altar dewata yang bersifat Taois.

Yaitu altar Kongco Kwan Sing Tee Kun dan Kongco Hok Tek Cing Sin. Uniknya lagi, di depan altar dua kongco yang berhadap-hadapan di ruang terbuka ini terdapat kolam kecil tempat hidup beberapa ekor kura-kura.

“Ini kura-kura dari umat. Biasanya dari mereka yang ciswak atau membuang sial dengan melepas kura-kura,” jelas biokong kelenteng, Tan Eng Hway, seperti dikutip Majalah Liberty beberapa waktu lalu.

Altar Tan Sam Cay Kong yang terletak di sebelah altar utama. Tan Sam Cay diyakini sebagai pendiri kelenteng ini.

Sebuah genta atau lonceng berwarna kuning tampak menyolok di depan Thian Tan, altar untuk memuja Tuhan. Pusat dari bangunan utama terletak pada altar Nabi Khongcu, di mana dia disembah sebagai pujaan utama kelenteng ini.

Sebagai kelenteng Khonghucu, Kelenteng Talang memiliki riwayat yang unik. Konon, sebelum menjadi kelenteng, bangunan yang ditempati dulunya berfungsi sebagai tempat peribadatan umat Islam.

Menghormati Cheng Ho

Beberapa kelenteng, terutama yang berada di daerah pantai utara Jawa, memang dipercaya dulunya berfungsi sebagai masjid. Tradisi-tradisi lokal menyebut kelenteng-kelenteng itu awalnya dibangun oleh komunitas Tionghoa Muslim.

Di antara kelenteng-kelenteng itu, Kelenteng Talang yang paling menarik untuk dikaji. Mengutip buku ‘Arus Cina Islam Jawa’ karya Sumanto Al Qurtuby, Kelenteng Talang dibangun oleh komunitas Muslim Tionghoa pada sekitar abad ke-15.

Nama Talang sendiri berasal dari kata ‘Toa-Lang’yang berarti ‘orang besar’ atau ‘paduka tuan yang terhormat’. Berasal dari sebutan Sam Poo Toa Lang atau Sam Poo Tay Jin atau Sam Poo Thay Kam (tiga orang pendekar besar). Yaitu gelar kehormatan untuk Laksamana Cheng Ho, Kung Wu Ping, dan Fa Wan atau Fa Hien.

Sebagai masjid, Kelenteng Talang diperkirakan dibangun oleh Tan Sam Cay, seorang Tionghoa Muslim yang pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan Kesultanan Cirebon, pada 1428 M. Pendiriannya  berkaitan dengan penghormatan terhadap ketiga tokoh Muslim Tionghoa di atas.

Menurut Sumanto, indikasi bahwa Kelenteng Talang semula adalah ‘masjid’ antara lain arah kelenteng yang menghadap kiblat, tulisan kaligrafi bergaya Tiongkok, serta mimbar khotbah dan pengimaman yang menjorok ke dalam.

Sumur yang dipercaya dulu merupakan padasan atau tempat berwudlu.

Juga adanya sumur dan padasan atau tempat berwudlu yang biasa dipakai umat Islam di pedesaan. Sayang padasan tersebut telah hancur sementara sumur tidak digunakan lagi, dan sekarang ditutup dengan pagar.

“Orang-orang mengeramatkan sumur ini. Ada yang percaya airnya bisa untuk penyembuhan,” ungkap Tan Eng Hway.

Dari sisi konstruksinya, Kelenteng Talang juga memiliki beberapa hal yang menarik. Antara lain: tegel-bata kuno ukuran 40 x 40 cm, paku kuno segi empat, dan bata merah kuno ukuran 28 x 14 cm. Menurut Sumanto, barang-barang kuno tersebut yang serupa bentuknya hanya ditemukan di Masjid Demak.

Keistimewaan lain adalah bangunan arsitekturnya yang tertua, tiang penyangga kayu ada yang berbentuk ukiran ‘kuping-kuping’. Ukiran seperti ini tidak terdapat di kelenteng atau vihara lain di seluruh Indonesia.

Rumah Abu Leluhur

Sumber lain, Moerthiko dalam “Riwayat Klenteng, Vihara, Lithang, Tempat Ibadat Tridharma Se-Jawa”, menyebut Kelenteng Talang didirikan pada 1577 M. Lebih tua 18 tahun dari Tiao Kak Sie atau Kelenteng Dewi Welas Asih yang terletak di dekatnya.

Sebelum dikenal dengan sebutannya yang sekarang, Kelenteng Talang awalnya bernama Boen Pang Gie Su (rumah abu leluhur). Dua buah altar tempat sinci (papan nama) leluhur yang masih terjaga sampai saat ini menandakannya. Kedua altar sinci tersebut terletak di kanan dan kiri, mengapit altar Nabi Khongcu.

Kelenteng Talang berubah menjadi peribadatan Khonghucu setelah Mayor Tan Tjin Kie (1853-1920) menjabat sebagai ketua Perhimpunan Keng Ju Kwan.

Altar sinci di sebelah kiri justru yang menjadi daya tarik kelenteng ini. Di altar ini tertulis nama ‘Tan Sam Cay Kong’, untuk menghormati Tan Sam Cay yang diyakini sebagai pendiri kelenteng ini. Di atas altarnya terdapat tulisan berbunyi “Mengurus Keuangan dengan Jujur”.

Kelenteng Talang resmi berubah fungsi menjadi peribadatan umat Khonghucu ketika Mayor Tan Tjin Kie (1853-1920) menjabat sebagai ketua Perhimpunan Keng Ju Kwan. Oleh tokoh Tionghoa kaya di Cirebon ini, ‘masjid’ dialihfungsikan berdasarkan surat Gouvernur Hindia Belanda Besluit tanggal 22-7-1898 No.3.

Pada 1960-an dibuatkan meja altar Khonghucu oleh Kho Sin Swan, pendiri Khong Kaun Hwee Cirebon, yang kini fotonya tertempel di dinding bangunan depan kelenteng. HK

 

 

 

 

1 2 3

Article Tags:
Article Categories:
Pecinan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares