Kelenteng ini Bikin Aman Sungai Kapuas

Written by
HiomerahPewi Samudra menjadi pujaan utama tempat peribadatan Tri Dharma ini. Dipercaya, lalu lintas Sungai Kapuas yang dulu rawan sekarang aman karena keberadaannya.

Beberapa tempat peribadatan Tri Dharma di Kota Pontianak menjadi bukti awal kedatangan bangsa Tionghoa di wilayah Kalimantan Barat. Salah satunya adalah Vihara Bodhisatva Karaniya Metta yang beralamat di Jalan Sultan Muhammad nomor 33.

Sejarah Vihara Bodhisatva Karaniya Metta berawal dari sebuah pekong yang terletak di Teng Seng Hie. Yaitu sebuah kelenteng pemujaan Makco Thian Siang Sing Boo yang dibangun pada masa Dinasti Manchu atau sekitar 1673 M. Salah satu sisa kelenteng ini adalah tempat pembakaran dupa yang sekarang bisa dilihat di halaman Vihara Bodhisatva Karaniya Metta.

Seorang umat sedang menyalakan lilin di depan altar Makco Thian Siang Seng Bo yang menjadi dewa utama Vihara Bodhisatva Karuniya Metta. (Foto: hiomerah).

Lokasi kelenteng tak lebih 25 meter dari bibir Sungai Kapuas dan tidak jauh dari Pelabuhan Sheng Hie, sebuah dermaga tua berumur ratusan tahun. Pelabuhan Sheng Hie adalah pelabuhan perniagaan pertama di Pontianak yang diperkirakan dibangun pada abad ke-18.

Pada 1906, pekong tua yang terletak di Teng Seng Hie direnovasi dan digabungkan dengan dua kelenteng lain. Yaitu kelenteng pemujaan Toa Pek Kong yang di Parit Besar dan sebuah kelenteng pemujaan Putra Raja Naca. Kelenteng yang disebut terakhir diperkirakan dibangun pada 1829.

Penggabungan 3 pemujaan itu tidak hanya bermakna menyatukan bangunannya. Penggabungan juga bermakna menggabungkan kimsin Dewi Samudra atau Makco, Toa Pek Kong, dan Putra Raja Naca dalam satu tempat peribadatan.

Sebuah kapal bersandar di pelabuhan yang berada hanya beberapa meter di depan vihara. (Foto: hiomerah).

“Dulu, Sungai Kapuas tidak aman. Kapal-kapal sering hilang. Lalu ada petunjuk untuk dilakukan penggabungan. Begitu digabung ternyata aman,” ujar Ahok Angking, pengurus Yayasan Vihara Karaniya Metta, seperti dikutip Harian Equator beberapa waktu lalu.

Karena penggabungan itu, kemudian disebut Kelenteng Tiga (Tri Dharma Bhakti atau Tian Hou Keng). Ada pula yang menyebutnya Kelenteng Tiga Dewa atau Sa Sin Keng. Baru pada 1985, namanya diubah menjadi Vihara Bodhisatva Karaniya Metta yang berarti Cinta Tuhan. Perubahan ini menyusul berdirinya badan hukum berbentuk yayasan untuk menaunginya, 2 tahun sebelumnya.

Berdiri di atas tanah seluas 1.041 meter persegi, Vihara Bodhisatva Karaniya Metta nampak eksotis dengan arsitektur tradisionalnya. Pemerintah Kota Pontianak menetapkan bangunan ini sebagai benda cagar budaya yang harus dilestarikan.

Merupakan penggabungan 3 kelenteng, vihara ini dulu juga dikenal dengan Kelenteng Tiga Dewa (Foto: hiomerah).

Di dalam vihara tersimpan banyak benda peninggalan kuno dari Tiongkok. Di antaranya hiolo dan lonceng yang berumur lebih dari 200 tahun. Konon, hiolo atau pot pembakaran dupa dibuat pada 1673 atau di jaman Kaisar Khangxi (1661-1722 M). Sedangkan lonceng berasal dari 1789, pada masa Kaisar Qianlong berkuasa (1736-1796 M).

Bangunan utama Vihara Bodhisatva Karaniya Metta semua terbuat dari kayu, yang disambung dengan pasak dan diikat. Namun akibat pelapukan, hanya tiang-tiang bangunan saja yang sampai sekarang tetap dipertahankan keasliannya. Sementara dinding diganti semen, lantai diganti keramik, serta atap dari genteng metal.

Meski disebut ‘vihara’, bentuk maupun dewa-dewa yang dipuja di tempat peribadatan ini tidak jauh beda dengan kelenteng-kelenteng di Jawa. Masyarakat Pontianak juga mengenalnya dengan sebutan Kelenteng Kapuas Besar karena lokasinya berada di kawasan Kapuas Besar.

Dibuat pada masa Kaisar Qianlong berkuasa, lonceng ini menjadi salah satu peninggalan tertua yang ada di Kelenteng Kapuas Besar. (Foto: hiomerah).

Sebagai tuan rumah atau dewa utama adalah Makco Thian Siang Sing Boo yang ultahnya diperingati setiap tanggal 23 bulan 3 Imlek. Arca suci atau kimsin Makco konon dibawa langsung dari Tiongkok oleh seorang pendatang Tionghoa bermarga Lim pada 1670-an. Altar utama yang ditempati dewi pelindung perjalanan laut tersebut diapit oleh altar Chai Liya dan Buddha di sebelah kanan, serta Buan Li Ya dan Makco Kwan Im di sebelah kiri.

Di samping kanan ruangan altar dewa-dewa di atas, ada satu altar untuk Putra Raja Naca. Sementara altar kiri ditempati Kam Thian Tai Ti atau Tua Pek Kong, dengan di depannya terdapat hiolo untuk Lim Pek Kong, Tua Pek Kong, dan Chai Sin Ya. Di halaman pekong juga terdapat altar pemujaan untuk Tian Kua Se Hok, Pak Ta Che Kun, dan Nam Tau Che Kun. HK.

1 2 3

Article Tags:
Article Categories:
Pecinan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares