Kartini, “Bocah Budha” Kelenteng Welahan

Written by
Hiomerah – “Bilamana ada berdjangkit wabah penjakit heibat, patoeng ketjil ini digotong-gotong kesana-sini dengan pake oepatjara boeat oesir pengaroeh djahat dari iblis-iblis.”

Itulah petikan surat Raden Ajeng Kartini yang dikirimkan kepada Nyonya R.M Abendanon Mandri pada 27 Oktober 1902. Kepada sahabatnya yang berada di negeri Belanda itu, Kartini bercerita tentang kesaktian Kelenteng Hian Thian Sang Tee, Welahan, Jepara.

Kartini menulis bahwa arca suci Kongco Hian Thian Sang Tee, dewa utama kelenteng tersebut, akan diarak keliling desa, bila sedang berjangkit wabah penyakit.

RA Kartini ternyata pernah mendapat kesembuhan di kelenteng tersebut. Sampai-sampai pahlawan nasional yang ulang tahunnya selalu kita peringati setiap 21 April itu mengaku bahwa dirinya seorang “Botjah Boedha”.

Upacara khe khia di Kelenteng Welahan, untuk anak yang telah di-kweepangkan kepada Kongco Welahan.

Pengakuan itu tertuang dalam surat yang sama. Sebuah surat yang bisa dibaca dalam “Door Duisternis tot Licht” (Habis Gelap Terbitlah Terang).

Dalam suratnya, puteri bupati Jepara tersebut, mengaku ketika masih kecil pernah mengalami sakit yang sangat parah. Dokter-dokter yang dimintai bantuan untuk mengobatinya sampai angkat tangan.

Sampai seseorang yang dikenal baik oleh keluarga Kartini, memberi saran agar diupayakan berobat ke Kelenteng Hian Thian Siang Tee Welahan. Orang ini adalah seorang Tionghoa hukuman yang pada waktu itu sering dipekerjakan untuk membersihkan halaman kabupaten dan gedung-gedung pemerintah lainnya. 

Mengikuti saran si narapidana, Kartini benar-benar sembuh setelah minum abu hioswa, air hu atau fushui dari klenteng tersebut.

“Saja ada satoe Botjah-Boedha, maka itoe ada mendjadi satoe alesan mengapa saja kini tiada memakan barang berdjiwa.

Ketika saja masih anak-anak, saja telah dapat sakit keras, dokter-dokter tidak bisa menolong, mereka poetoes asah. Waktoe itoe, seorang Tionghoa (seorang hoekoeman dengan siapa kita masih anak-anak soeka bersahabatan) tawarkan dirinja boeat menolong saja.

Saja poenja orang toea menoeroet dan saja betoel djadi semboeh. Apa jang obat-obat dari orang-orang terpeladjar tidak mampoe, djoestroe obat-tachajoel jang menolongnja.

Kimsin Dewa Utama Kelenteng Welahan, Kongco Hian Thian Siang Tee, dipercaya pernah memberi kesembuhan pada RA Kartini.

Ia menolong saja dengan tjoema-tjoema, saja disoeroe minoem aboe dari hioswa jang dibakar sebagi sembah-bakti pada Topekong Tionghoa. Lantaran minoem obat itoe, saja djadi anaknja Orang Soetji itoe, Santikkong Welahan.

Pada kira-kira satoe tahoen jang laloe saja mengoendjoengi Orang Soetji itoe. Ia ada hanja satoe Patoeng Emas jang ketjil dan siang-malam dilipoeti asep hio. Bilamana ada berdjangkit wabah penjakit heibat, patoeng ketjil ini digotong-gotong kesana-sini dengan pake oepatjara boeat oesir pengaroeh djahat dari iblis-iblis.”

Demikian bunyi surat gadis kelahiran Mayong, Jepara, 21 April 1879 tersebut. Majalah Bok Tok pernah menulis, yang dimaksud Kartini dengan San Tik Kong sebenarnya adalah Hian Thian Siang Tee atau Siang Tee Kong.

Orang-orang biasa menyebutnya dengan Kongco Welahan saja. Sedangkan sebutan ‘Boedha” pada Kongco Welahan, bukan berarti Budha Gautama semata-mata. Sebutan ini muncul karena umumnya segala toapekong berasal dari orang-orang Tionghoa yang pada masa hidupnya menganut Agama Buddha atau Agama Tao.

Kartini menyebut dirinya sebagai “Botjah Boedha” karena setelah sembuh, oleh orang tuanya diakukan sebagai anak Kongco Hian Thian Siang Tee. Diakukan sebagai anak atau kwee pang dimaksudkan agar Kartini terus mendapat perlindungan dari Dewa Obat tersebut sampai dewasa.

Dalam budaya Tionghoa, kwee pang adalah ritual mengangkat anak. Jika seorang anak sakit-sakitan, biasanya diberikan kepada paman atau bibinya sebagai anak angkat. Tujuannya, agar anak tersebut kembali sehat, dijauhkan dari penyakit, dan selamat dalam kehidupannya nanti.

Museum Ari-Ari Mayong. Di tempat yang hanya berjarak beberapa kilometer dari Kelenteng Welahan ini RA. Kartini dilahirkan.

Seorang anak juga bisa di-kwee pang-kan kepada dewa yang duduk di altar utama sebuah klenteng. Tujuannya sama; agar si anak mendapat perlindungan dari gangguan gaib, penyakit, dan halangan lain. Intinya untuk keselamatan, selamat dalam perjalanan hidupnya.

Yang jelas, sejak di-kwee pang itu, Kartini sering berziarah ke Kelenteng Welahan. Menurut beberapa sumber, pahlawan perempuan yang meninggal pada waktu melahirkan putra pertamanya, 17 September 1904, tersebut, juga sempat belajar Buddha Dharma.

Konon, ajaran itu menjadi salah satu sumber pengetahuan dan pikirannya tentang kesetaraan jender. Sebuah tuntutan atau pemikiran-pemikiran yang dia tuangkan dalam “Habis Gelap Terbitlah Terang”. HK

 

1 2 3

Article Tags:
Article Categories:
Jejak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares