Kampung Toku, Dari Sini Peranakan Tionghoa di Madura Berawal

Written by
Hiomerah – Di dusun ini pernah tinggal Engkong Bian Seng, cikal-bakal warga peranakan Tionghoa di Madura. Keturunannya banyak yang menikah dengan bangsawan setempat.  

Sekilas, tidak ada yang istimewa dengan dusun di wilayah Desa Tamidung, Kecamatan Batang Batang, Kabupaten Sumenep ini. Rumah-rumah gedong maupun yang masih terbuat dari gedek bambu tak beda dengan dusun-dusun tetangganya.

Tanahnya juga kering, tipikal  umum alam Pulau Madura, meski penduduknya sebagian besar mengandalkan hasil bercocok tanam sebagai mata pencahariannya. Warganya pun memiliki penampilan fisik dan keramahan seperti umumnya masyarakat Sumenep.

Keistimewaan dusun bernama Kampung Toku itu terletak pada sejarah yang disimpannya. Dari dusun inilah, leluhur orang-orang Tionghoa peranakan yang menyebar ke daerah-daerah Sumenep lainnya, berasal.

Warga Tionghoa peranakan yang sekarang tinggal di daerah Ambunten, Pasongsongan, Paseyan, Gapura, dan Batang Batang, meyakini leluhurnya pernah menetap di dusun ini. Mereka meyebut leluhurnya itu dengan nama Engkong Bian Seng, yang makamnya bisa ditemui di pinggir dusun.

“Menurut cerita orang-orang tua dulu, kami semua ini keturunan dari Engkong Bian Seng,” ungkap Muhammad Zaini, seorang Tionghoa peranakan yang tinggal di Kecamatan Pasongsongan, seperti dikutip Majalah Liberty beberapa waktu lalu.

Di Kampung Toku sendiri, orang-orang yang satu garis darah dengan Zaini bisa dihitung dengan jari. Segelintir orang tersebut berkumpul dalam satu lokasi di tengah dusun.

Masyarakat setempat menyebut sekumpulan rumah yang dihuni tidak lebih dari 10 KK itu sebagai Kampung Raden. Di komplek inilah, dulu Engkong Bian Seng tinggal.

Namun jangan membayangkan bahwa warga yang disebut sebagai keturunan Engkong Bian Seng itu masih memiliki ciri-ciri fisik turunan dari leluhurnya. Mereka tidak jauh berbeda dengan warga Kampung Toku, bahkan warga Sumenep lainnya.

Berkulit sawo matang, mata lebar, serta menggunakan bahasa Madura untuk komunikasi dan panggilan sehari-hari. Tidak ada lagi istilah Koko, Tacik, atau A’i, kecuali Engkong dan Emak untuk menyebut kakek dan nenek.

Abdul Rasyid, salah satu keturunan Engkong Bian Seng, meski tidak tampak dari ciri-ciri fisiknya.

Dalam mengupayakan hidup, mereka juga tidak berbeda dengan warga lainnya yang kebanyakan menjadi petani. Tanah yang sangat minim pengairannya, mereka tanami palawija seperti ketela, kedelai, dan lain-lain, serta tembakau bila telah tiba musimnya. Sebagian lainnya pergi ke luar daerah sebagai pedagang, karyawan, maupun pengajar.

Seperti mayoritas masyarakat Madura, warga Tionghoa peranakan di Kampung Raden juga pemeluk Agama Islam. Menariknya, meski beragama Islam, dalam memilih organisasi kemasyarakatan, sebagian dari mereka berbeda dengan mayoritas warga Madura lainnya.

“Sebagian dari kami ikut Muhammadiyah,” ungkap Abdul Rasyid, tetua Kampung Raden.

Lazimnya warga Muhammadiyah, mereka tidak lagi melakukan tradisi-tradisi yang berbasis budaya lokal. Mereka tidak menyelenggarakan tahlilan, tidak lagi ziarah ke makam pada hari-hari tertentu. Mereka tidak tertarik pada kepercayaan takhayul seperti kekuataan magis dan klenik lainnya. Bila datang bulan Ramadhan mereka menjalankan sholat tarawih sebelas rakaat.

Mereka juga memakai nama-nama muslim. Tidak ada lagi yang menggunakan nama Tionghoa, bahkan untuk sekedar mengingat atau mencatatnya. Termasuk nama-nama leluhur mereka, yang diingat hanya nama muslim atau Indonesia-nya saja, kecuali Engkong Bian Seng.

Abdul Rasyid misalnya, meski mengaku sebagai keturunan Tionghoa, tidak lagi memiliki nama Tionghoa. Demikian pula ayah ibu, serta kakek dan neneknya, hanya memiliki nama muslim.

“Ayah saya bernama Abdul Karim, ibu Siti Syaidah. Sedang kakek dari garis ayah bernama Raden Abdullah,” ungkapnya.

Jejak Bian Seng

Abdul Rasyid bercerita bahwa dirinya adalah keturunan kelima dari Engkong Bian Seng. Menurut dia, dari cerita-cerita pendahulunya, Engkong Bian Seng memiliki tiga putra, salah satunya bernama Sa Bun alias Daguta. Sa Bun memiliki lima anak, tiga di antaranya menetap di Pasongsongan.

Sebuah foto tua koleksi Ahmad Zaini yang merekam keluarga keturunan Tionghoa leluhurnya.

“Salah satu dari tiga orang inilah yang kemudian menurunkan Zaini dan kerabat lainnya,” kata Rasyid yang mengenal Muhammad Zaini sebagai kerabatnya.

Sementara dua orang lainnya yang berjenis kelamin perempuan, tetap tinggal di Kampung Toku, yaitu Kuning dan Nati. Baik Kuning maupun Nati, menurut Rasyid, diambil istri oleh dua priyayi keturunan Kraton Sumenep.

“Kuning menikah dengan Raden Abdullah, ningrat keturunan Kraton Sumenep. Nati juga, tapi saya lupa namanya,” jelas Rasyid.

Kuning dan Abdullah memiliki beberapa anak yang salah satunya bernama Siti Syaidah. Gadis ini kemudian dinikahkan dengan Abdul Karim, saudara sepupu putra Nati.

Dari pernikahan Abdul Karim dan Siti Syaidah inilah Abdul Rasyid dan delapan saudaranya lahir. Mereka sekarang menjadi generasi tertua keturunan Engkong Bian Seng yang tersebar di beberapa kecamatan di atas.

Jejak silsilah leluhur Abdul Rasyid dan Muhammad Zaini di Kampung Toku bisa dijumpai pada sebuah pekuburan tua di selatan dusun. Bukan bong, makam tradisional Tionghoa, tetapi makam-makam muslim yang nisan-nisannya berciri khas Madura.

Di pekuburan yang cukup terawat ini, Engkong Bian Seng, isteri, dan anak-cucunya dimakamkan, termasuk Kuning dan suaminya, Raden Abdullah. Di batu nisan makam Bian Seng, tertulis sebuah prasasti yang menerangkan kapan dia meninggal dunia.

Prasasti berhuruf dan berbahasa Arab tersebut berbunyi; “wafat Kyai Bianseng fissanatid dali fis syahris shafari fi hilali ‘isruna fi yaumi Jum’ah sanah 1602 M”. (Kiai Bian Seng wafat pada tahun Dal, bulah Shafar, tanggal 10 hari Jum’ah tahun 1602 M). Sebuah keterangan yang menyuratkan bahwa Agama Islam sudah dipeluk oleh Bian Seng.

Nisan makam yang diyakini sebagai makam Engkong Bian Seng.

Selain makam tersebut, hampir tidak ada peninggalan yang menandakan bahwa Kampung Raden pernah didiami oleh pendatang Tionghoa. Rumah-rumah yang sudah gedong semua, tidak sedikitpun terdapat arsitektur Tionghoa.

Sebuah rumah, yang dulu menjadi tempat tinggal Bian Seng, bahkan tidak lagi meninggalkan kekunoannya. Sementara benda-benda seperti ranjang kuno, guci atau keramik, sudah dibawa ke tempat lain oleh anak cucunya.

Dari Sriwijaya

Siapa sebenarnya Engkong Bian Seng, tidak ada sejarah atau catatan tertulis yang menjelaskannya. Kecuali cerita tutur, yang sekarang masih diyakini kebenarannya oleh anak cucunya.

Cerita tutur itu menyebut bahwa Bian Seng bukan asli pendatang dari Tiongkok. Dia adalah putra Raja Sriwijaya hasil pernikahannya dengan seorang putri dari Cempa (Kamboja sekarang). Tidak jelas siapa yang dimaksud dengan Raja Sriwijaya itu.

Karena suatu sebab, Bian Seng dan keempat saudaranya harus diungsikan ke luar pulau dengan menggunakan perahu. Sayang, saat berada di perairan Pulau Jawa, perahu tersebut diterjang badai yang mengakibatkan penumpangnya tercerai-berai.

Bian Seng terdampar di pantai Sumenep dan ditemukan oleh syahbandar setempat. Oleh syahbandar, Bian Seng diserahkan kepada Adipati Sumenep dan diterima dengan baik. Bahkan setelah sekian lama menetap di kadipaten, dia sempat ditawari oleh Adipati Sumenep sebuah kedudukan tinggi.

Dari Kampung Toku ini, keturunan Bian Seng menyebar ke beberapa daerah di Madura.

Namun Bian Seng lebih memilih menjadi rakyat biasa dan kemudian menetap di Kampung Toku. Dia konon menikah dengan salah satu putri sang adipati.

Cerita lain menyebut kedatangan Bian Seng di Madura adalah atas permintaan istri Adipati Pamekasan. Tujuannya untuk membantu prajurit Madura melawan gempuran pasukan Bali.

Entah cerita mana yang benar. Hanya yang pasti, menurut Rasyid, keturunan Bian Seng, terutama wanitanya, banyak menikah dengan bangsawan Madura.

Dari pernikahan dengan keluarga kraton itulah gelar kebangsawanan lahir di dusun ini. Gelar kebangsaan berhak dipakai oleh keturunan-keturunannya. Sehingga waktu itu banyak warganya dipanggil ‘raden’.

“Karena itulah dusun ini juga sering disebut Kampung Raden,” pungkas Rasyid. HK.

1 2 3 4 5

Article Tags:
Article Categories:
Jejak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares