Kambing Hitam Pembantaian Tionghoa 1740 itu Bernama Ni Hoe Kong

Written by
HiomerahSembahyang king hoo ping (rebutan atau pudu) yang dirayakan bulan ini pernah mewarnai catatan kelam sejarah orang-orang Tionghoa di Nusantara. Catatan itu berkaitan dengan peristiwa pembantaian oleh Belanda terhadap orang-orang Tionghoa di Batavia pada 1740. Lembar sejarah yang mencatat nama Kapiten Ni Hoe Kong sebagai ‘kambing hitam’nya.

Menyusul kerusuhan dan pembantaian, Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) menetapkan Kapiten Ni Hoe Kong sebagai dalang peristiwa tersebut. Dia dituduh menjadi penggerak kerusuhan dan mengadakan persekongkokolan dengan para pemberontak untuk menyerang Batavia.

B. Hoetink dalam ‘Ni Hoe Kong – Kapitein Tionghoa di Betawie Dalem Tahon 1740’ menulis Ni Hoe Kong lahir di Batavia pada 1710. Ia adalah putra sulung Letnan Ni Loeko, pengusaha penyulingan arak dan pemilik beberapa bidang tanah di sekitar Batavia.

Ni Hoe Kong sendiri adalah seorang pengusaha besar yang berdagang teh dengan Tiongkok, juga berjualan candu dan kain sebagai usaha sampingan. Dia mempunyai banyak perkebunan di ommelanden, Tangerang, dan Bekasi, di mana sekitar 13 atau 14 pabrik gula miliknya disewakan kepada para photia. Juga satu perkebunan tebu di Ammanusgracht dekat pintu pelabuhan Batavia.

Sebelum tertangkap pada 10 Oktober 1740, rumahnya di Roemallaca dikepung dan dihujani meriam semalam penuh oleh pasukan VOC di bawah komando Letnan Van Suchtelen. Bersama sekitar 50 orang pembantu setianya, ia sempat melakukan perlawanan.

“Namun pasukan kecilnya bukan tandingan pasukan terlatih VOC dalam mempertahankan nyawa, rumah, dan harta-bendanya,” tulis Hoetink.

Rumah dan isinya, berupa uang dan harta yang sangat banyak, dijarah habis-habisan. Ni Hoe Kong sendiri bisa bersembunyi di dekat rumahnya itu. Ketika tersiar kabar bahwa perempuan dan anak-anak tidak diganggu, ia menyamar sebagai perempuan. Bersama istri dan anak-anaknya mencoba mencari tempat yang aman. Tetapi di tengah jalan pada keesokan harinya, ia dikenali, ditangkap, dan ditahan di dalam benteng.

Menolak Tuduhan

Liankong, adik lelakinya yang bersembunyi di tanahnya di Angke, juga tertangkap oleh serdadu Bali. Adik laki-lakinya yang lain, Goankong dan Hocko dibunuh. Sementara Tsiatkong, adik lainnya, berhasil melarikan diri ke Banten dan memimpin perlawanan di sana.

Meski mendapat tuduhan sangat berat, Ni Hoe Kong tidak pernah mau mengakui apa yang dituduhkan. Pun ketika saksi-saksi memberatkan didatangkan. Melalui besluit 18 Oktober 1740, akhirnya perkara ini dilimpahkan kepada Raad van Justitie setelah beberapa waktu diperiksa oleh Raad der Schepenen.

Pelimpahan ini memperlihatkan bahwa perkara yang menimpa Ni Hoe Kong bukan perkara biasa, tetapi menyangkut perkara perlawanan terhadap pemerintah. Ni Hoe Kong pun dimasukkan ke dalam penjara bawah tanah dengan dua kaki dirantai.

“Betapa penting peran kapiten di satu sisi dan merosotnya kewibawaan kapiten di sisi lain, dapat dilihat dalam perkara Ni Hoe Kong ini,” lanjut Hoetink.

Perkara ini juga menjadi penting karena berhasil memperlihatkan bahwa tuduhan dan pendapat yang mengatakan penduduk Tionghoa di Batavia telah melakukan persekongkolan melawan Belanda, tidak terbukti sama-sekali.

Ni Hoe Kong diadili dalam sebuah ”penuntutan luar biasa”, yaitu pemeriksaan dan pengadilan terhadap suatu kasus yang bukan berdasar pengaduan seseorang. Hakim memproses perkara ini berdasarkan keterangan saksi-saksi dan bukti-bukti.

‘Ni Hoe KongI – Kapitein Tionghoa di Betawie Dalem Tahon 1740’ karya B. Hoetink.

Pemeriksaan atau pengadilan akan selesai jika terdakwa mau mengakui perbuatan yang dituduhkan. Karena itulah hakim berusaha sekeras mungkin agar terdakwa mengakui apa yang dituduhkan, dengan penyiksaan sekalipun.

Dalam persidangan ini ditunjuk Advocaat Fiscaal (jaksa agung atau pengacara keuangan) Mr. George Philips sebagai penuntut. Dakwaan-dakwaannya antara lain; pada tengah malam 25 September 1740, 80 orang Tionghoa bersenjata terlihat di perkebunan tebu milik Ni Hoe Kong di Ammanusgracht. Mereka diduga akan bermusyawarah dengan dirinya.

Ni Hoe Kong juga didakwa telah menjalin hubungan dengan Ni Wayko, seorang kepala pemberontak. Dakwaan lain, pada waktu diadakan sembahyang rebutan (pudu), telah ditempel selebaran-selebaran di Ammanusgracht yang berisi ajakan untuk memberontak.

Meski dakwaan-dakwaan itu berdasar keterangan saksi-saksi, Ni Hoe Kong tetap dengan sikapnya semula, menolak! Atas penolakan itu, pada 12 Januari 1741, Mr. Philips mengajukan permohonan  untuk menyiksa terdakwa. Maka ketika dia tetap tidak mau mengakui tuduhan sewaktu diperiksa kembali pada 21 Januari, seketika itu juga dia disiksa.

Kedua tangan digantung, kedua jempol kaki digantungi batu dan kedua tulang kering kakinya disekrup. Selama kurang lebih 35 menit dengan terus dipaksa mengakui perbuatannya. Meski disiksa begitu berat, Ni Hoe Kong bergeming, bahkan sampai pada pemeriksaan-pemeriksaan selanjutnya.

Atas sikapnya itu, lewat surat tertanggal 7 Oktober 1741, Raad van Justitie memerintahkan Advocaat Fiscaal, untuk memeriksa Ni Hoe Kong dan Lian Kong dalam perkara biasa. Artinya, tidak boleh memaksa pengakuan dari tertuduh dan menunjuk Advocaat Fiscaal sebagai pihak pengadu.

Sampai Mr. George Philips diganti Nicolaas Jongsma, tidak pernah didapat keterangan baru dalam perkara ini. Hingga pada 22 Agustus 1742 officer baru ini mengajukan surat permintaan agar dua orang itu dinyatakan bersalah. Bersama surat itu, Mr. Jongsma mengajukan tuntutan hukuman yang sangat berat terhadap Ni Hoe Kong.

Pembantaian orang-orang Tionghoa di Batavia tahun 1740 digambarkan dalam lukisan tangan. (Foto: istimewa).

Tuntutannya, dia harus disalib dan dalam keadaan hidup diremukkan tulang-tulangnya, diambil jantungnya, kepalanya dipotong kemudian ditancapkan di satu tiang, dan menjadi tontonan khalayak. Selain itu, semua barangnya dirampas dan dibagi-bagikan. Untuk terdakwa Ni Lian Kong dituntut hukuman buang seumur hidup.

Atas permohonan terdakwa, kemudian ditunjuk procureur Mr. Willem Cras dan Mr. Johan Joachim Olij untuk menjadi pembela mereka. Pada 22 Mei 1744, Ni Hoe Kong divonis hukuman buang ke Srilangka selama 25 tahun.

Dibuang ke Ambon

Namun Ni Hoe Kong mengajukan keberatan, hingga akhirnya hukuman buang dirubah ke Ambon. Dibanding tuntutan awal, vonis yang diterimanya sangat ringan. Bagi Ni Hoe Kong, Ambon bukanlah tempat yang terlalu jelek. Di sana ada ratusan orang Tionghoa dengan pemimpinnya sendiri.

Harta-bendanya yang dirampas saat kerusuhan juga dikembalikan. Harta ini masih cukup banyak, meski sudah dipotong ongkos-ongkos perkara yang tidak kecil. Jumlahnya masih sekitar 16 ribu ringgit, belum termasuk hasil penjualan barang-barangnya.

Di samping itu, anak-istrinya diijinkan turut ke Ambon. Maka, 12 Februari 1745, dengan kapal “de Pallas”, bekas kapiten ini diberangkatkan ke Ambon bersama keluarganya dan beberapa orang Tionghoa yang minta ikut dibuang bersamanya.

Tidak lama Ni Hoe Kong tinggal di Ambon. Pada 25 Desember 1746, ia meninggal dunia. Berdasarkan surat wasiatnya, tertanggal 12 Februari 1746, dia menunjuk Lim Oatnio, istrinya, menjadi pewaris tunggal. Mei 1749, setelah mengajukan ijin berulang-ulang, Lim Oatnio bersama anak-anaknya diijinkan pulang ke Batavia.

Tidak begitu lama, dua anak perempuannya, Tjoknio dan Tiongnio, menikah. Disusul Hamboen, anak lelakinya, yang menikahi Que Tjoknio, puteri Que Iko, Kapiten Tionghoa di Ambon. Hamboen memiliki sebuah kapal layar yang dipergunakannya untuk berdagang dengan Jawa.

Penampilan seorang kapiten Tionghoa pada masa kolonial Belanda. (Foto: istimewa).

Anak laki-lakinya yang lain, Hanleeng, entah karena apa selalu mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari VOC di Batavia. Pada 1762, atas permohonannya, ia dijinkan pergi ke Ambon untuk mengambil tulang-belulang ayahnya.

Bersama itu, pemerintah Batavia mengirimkan surat rahasia kepada pembesar di Ambon yang isinya memerintahkan agar seumur hidup Hanleeng ditahan di sana. Dengan tindakan Belanda ini, menjadi tidak jelas apakah tulang-belulang Ni Hoe Kong berhasil dibawa ke Batavia atau tidak. HK

 

 

 

 

 

 

1 2 3 4

Article Tags:
Article Categories:
Jejak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares