Jelang Imlek: Hidup Cerah dari Warna Merah

Written by

Hiomerah Perayaan Tahun Baru Imlek selalu sumringah dengan warna-warna merah. Warna ini identik dengan bangsa Tionghoa yang memercayainya sebagai lambang kegembiraan dan keberuntungan. 

Menjelang Hari Raya Imlek, biasanya pusat perbelanjaan, hotel, dan restoran di berbagai kota semarak dengan warna merah. Warna-warna merah itu terwujud pada benda-benda yang juga menjadi ciri khas perayaan Imlek, seperti lampion, lilin, hiasan naga, dan lain-lain.

Bangsa dan budaya Tionghoa memang identik dengan warna merah. Ketika merayakan Imlek atau upacara sembahyang, pernak-perniknya berwarna merah. Mulai lampion, lilin, hioswa, kertas hu, hingga angpao, semua merah.

Bangunan kelenteng juga didominasi warna merah, bahkan tempat peribadatan lain. Lihat saja Masjid Cheng Ho di Surabaya, banyak unsur merahnya.

Warna merah sebenarnya juga ‘dimiliki’ oleh berbagai kebudayaan di dunia. Buktinya, ada sekitar 150 negara yang menyertakan warna merah di bendera kebangsaannya, termasuk Indonesia.

Namun, dalam budaya Tionghoa, warna merah menduduki tempat yang agung. Warna ini memiliki makna yang sangat positif dalam kehidupan sehari-hari.

Saat upacara pernikahan, sepasang cawan tempat mempelai minum anggur berwarna merah. Pada malam pertama, warna merah memiliki arti istimewa. Biasanya di malam itu, pengantin perempuan berpakaian warna merah, dan menghias tempat tidurnya juga dengan kain merah.

Konon, kain merah di malam pertama itu, menunjukkan bahwa si wanita masih perawan. Bila tidak ada kain merah, berarti si perempuan sudah tidak perawan.

Tradisi Tahun Baru Imlek yang biasa dikaitkan dengan pemberian angpao juga tidak lepas dari warna merah. Istilah angpao sendiri berasal dari dialek Hokkian yang arti harafiahnya adalah bungkusan atau amplop merah. Merah pada angpao berarti lambang warna pembawa hoki maupun kegembiraan.

Menurut kepercayaan Tionghoa, angpao bukan sekadar pembawa keberuntungan. Konon, juga dapat melindungi anak-anak dari roh jahat. Sebab uang (qian) secara harafiah berarti ‘menekan kekuatan jahat’ atau ‘ya sui qian’.

Masalahnya ada roh jahat bernama Sui, yang selalu hadir setahun sekali, mengganggu anak-anak kecil. Unsur api yang berkekuatan membakar pada warna merah itu, dapat melindungi anak-anak dari pengaruh jahat.

Selain kegembiraan, warna merah bagi bangsa Tionghoa juga melambangkan kebaikan dan kesejahteraan. Menunjukkan kegembiraan dan semangat yang pada akhirnya akan membawa nasib baik.

Merah pada angpao berarti lambang warna pembawa hoki maupun kegembiraan.

Merah juga lambang sifat yang, sifatnya lelaki, berani dan gagah, serta jujur. Maka Kwan Kong yang dikenal sebagai dewa kejujuran, dilukiskan sebagai ksatria berjenggot, bermuka, berpakaian, dan berkuda merah. Kaisar-kaisar Tionghoa saat melakukan upacara sembahyangan pun selalu memakai baju kebesaran warna merah.

Warna merah menjadi perlambang kebajikan. Kalau orang mengatakan hatinya merah, itu berarti hatinya putih bersih. Namun, bila satu kali melihat langit berwarna merah darah, itu diyakini sebagai pertanda bakal datangnya bencana perang yang hebat.

Di berbagai penjuru dunia, di mana orang Tionghoa merantau, warna merah seakan menjadi simbol kebebasan. Karena sekian lama bangsa perantau ini bergulat mencari bentuknya sebagai sebuah entitas di negeri orang. HK/bs.

 

 

Article Tags:
Article Categories:
Warna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares