Jejak ‘Patih Cina’ di Masjid dan Makam Ratu Kalinyamat

Written by
HiomerahSalah satu raja perempuan yang paling terkenal di Nusantara, Ratu Kalinyamat, pernah didampingi seorang Tionghoa dalam menjalankan pemerintahannya. Ia adalah seorang ahli ukir yang dikenal dengan nama Sungging Badar Duwung.

Tokoh yang makamnya berada satu cungkup dengan makam Ratu Kalinyamat dan suaminya, Sultan Hadiri, tersebut, konon memiliki nama asli Cie Wie Gwan.  Ia bekerja di bidang pemerintahan hingga diangkat menjadi patih kerajaan oleh Ratu Kalinyamat.

Namun sebenarnya, tidak ada yang tahu pasti siapa nama patih tersebut, karena setelah masuk Islam dia tidak lagi menggunakan nama aslinya. Orang lebih mengenalnya dengan sebutan ‘Patih Cina’ dan julukannya kemudian, Sungging Badar Duwung.

“Ornamen-ornamen batu kapur yang ada di makam dan masjid ini semuanya dibuat oleh ‘Patih Cina’,” kata Ali Syafii, juru kunci Komplek Makam dan Masjid Mantingan,

Seperti kata Syafii, selain cakap dalam pemerintahan, ‘Patih Cina’ tersebut juga pintar mengukir, sebuah keahlian yang dibawanya dari Tiongkok. Di tengah-tengah kesibukannya sebagai pejabat kerajaan, ia masih sering membuat karya ukir.

salah satu ornamen ukiran berbentuk daun dan kelelawar Tiongkok di dinding Masjid Mantingan.

Salah satu karyanya adalah ornamen-ornamen dengan pengaruh budaya Tionghoa yang sekarang bisa dilihat di Makam Ratu Kalinyamat di Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, Jepara, Jawa Tengah. Pengaruh budaya Tionghoa yang berpadu dengan pengaruh budaya Hindu dan lokal Jawa dalam ukiran-ukiran batu kapur itu, juga terdapat di masjid peninggalan sang ratu.

Ukiran Batu

Masjid Kuno Mantingan, demikian masjid peninggalan Ratu Kalinyamat itu biasa disebut, didirikan pada 1559 Masehi atau tahun Saka 1481. Kepastian waktu ini bisa dilihat pada candrasengkala yang terukir di atas sekeping batu, segaya dengan ornamen lainnya.

Terletak di atas mihrab, berbahasa dan huruf Jawa, candrasengkala itu berbunyi ‘rupa brahmana warna sari’. Mengutip Hartojo dan Amen Budiman dalam ‘Komplek Makam Ratu Kalinyamat Mantingan Jepara, Segi-Segi Sejarah dan Arsitektur’, tanda waktu yang tersurat lewat candrasengkala itu bertepatan dengan masa pemerintahan Ratu Kalinyamat.

Di Masjid Mantingan, batu-batu kapur berukir menempel pada dinding yang membatasi serambi dengan ruang utama. Sebagian kecil batu berukir juga terdapat di ruang utama, di atas dan di dalam mihrab atau pengimaman.

Sedangkan yang di komplek makam terdapat di dinding cungkup Makam Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadiri. Di dinding cungkup tersebut, keseluruhan ornamen berjumlah duabelas, enam di antaranya berbentuk medalion.

Menurut Hartojo dan Amen, beberapa ornamen menampilkan hiasan labu air yang memiliki peran penting dalam khasanah seni Tionghoa. Di antaranya menunjukkan tanda kehormatan bagi salah satu dari delapan orang jeni Taois, yaitu Li T’ieh Guai. Tokoh ini selalu digambarkan membawa pegangan dan botol untuk bekal ziarahnya.

Nisan makam Sultan Hadiri dan Ratu Kalinyamat juga diukir oleh Sungging Badar Duwung.

Motif selanjutnya adalah hiasan bunga teratai yang di Tiongkok biasa digunakan sebagai motif hiasan keramik. Dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa, bunga teratai melambangkan lima buah tanda pengenal perwujudan yang esensial. Yaitu pikiran, perasaan, penglihatan, kebijaksanaan, dan kesadaran. Bermakna lima hal itu, teratai menjadi lambang Buddhis yang terkenal.

Pengaruh Tionghoa lainnya dapat dijumpai pada ornamen yang menampilkan hiasan gunung-gunungan. Pada ornamen di dinding dalam serambi Masjid Mantingan, pengaruh Tionghoa juga berwujud potongan-potongan hiasan berbentuk segitiga dengan motif kelelawar Tiongkok.

Ganti Kayu

Batu bahan ukirnya didatangkan langsung dari Tiongkok, karena batu yang ada di Jepara kurang cocok untuk diukir. Saat ‘Patih Cina’ mengajarkan keahlian mengukirnya pada penduduk sekitar, mereka mempraktekkannya pada kayu.

“Mereka mengukir kayu karena batu-batu yang didatangkan dari Tiongkok tidak mencukupi kebutuhan,” jelas Syafi’i.

Dari situ lah seni ukir tumbuh di kalangan masyarakat Jepara. Karena kelihaiannya mengukir, Sang Patih Tionghoa kemudian mendapat julukan Sungging Badar Duwung.

“Sungging berarti memahat, badar berarti batu atau akik, dan duwung artinya tajam,” jelas Syaikhul Aminin, juru kunci lain Makam Mantingan.

Bekas-bekas bakaran hioswa di dalam keramik Tiongkok dapat dilihat di nisan makam Sungging Badar Duwung.

Bila digabung, ‘Sungging Badar Duwung’ kurang lebih berarti ‘seorang ahli memahat batu secara halus’. Diduga setelah Sultan Hadiri dan Ratu Kalinyamat meninggal dunia, Sungging Badar Duwung sendiri yang mengukir nisan-nisannya, karena dia meninggal belakangan. Makam Sultan Hadiri dan istrinya memang dipenuhi hiasan ukir bernilai tinggi.

Seperti makam Sultan Hadiri dan Ratu Kalinyamat, makam Sungging Badar Duwung juga banyak diziarahi. Menurut Syaikhul, dari para peziarah itu, tak sedikit di antaranya adalah orang-orang Tionghoa. Bekas-bekas bakaran hioswa ada di atas makamnya, ditancapkan pada sebuah mangkuk keramik yang dilihat dari motifnya adalah keramik Tiongkok. HK

1 2 3

Article Tags:
Article Categories:
Jejak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares