Jejak Marga Han di Makam Keramat Cekong Mas

Written by
Hiomerah – Makam Cekong Mas banyak dikunjungi peziarah, termasuk warga keturunan Tionghoa. Benarkah makam salah satu keturunan marga Han yang pernah berjaya ratusan tahun silam?

Perpaduan budaya Jawa dan Tionghoa terjadi dalam sebuah makam Islam yang terletak di Prajekan, Bondowoso, Jawa-Timur. Di depan makam yang berada dalam sebuah komplek sekolah Islam tersebut, terdapat dua benda yang lazimnya hanya ada di kelenteng atau tempat peribadatan Tri Dharma.

Sebuah hiolo atau tempat abu hioswa berada persis di depan pintu makam. Hiolo tersebut diapit oleh dua buah tempat lilin berwarna merah yang tertata rapi.

Sementara batang-batang hioswa yang belum dibakar tergeletak di dalam makam. Pengguna hiolo dan tempat-tempat lilin adalah para peziarah Tionghoa.

Perpaduan budaya juga nampak pada ornamen-ornamen bangunan makam tersebut. Seperti hiasan pakwa (delapan penjuru mata angin) yang berada di dinding bawah makam.

Makam tersebut adalah Makam Kyai Mas, yang oleh banyak orang dikenal sebagai Cekong Mas. Nama ‘cekong’ sendiri melambangkan sebuah pembauran budaya.

Menurut salah seorang pengurus Yayasan Kyai Mas, kata ‘cekong’  berasal dari kata engkong atau kakek dalam bahasa Tionghoa. Orang Tionghoa yang banyak datang ke makam tersebut, menjadi muasal terjadinya istilah itu.

Kemudian kata ‘engkong’ bergeser menjadi ‘cekong’ karena lidah lokal yang biasanya kesulitan menyebut kata-kata asing. Kata ‘engkong’ pun berubah menjadi ‘Cekong’.

Di luar asal-usul istilah tersebut, makam ini dikenal kekeramatannya. Setiap bulan Suro, kerabat Kraton Jogja bahkan nyekar ke makam ini.  Setiap masuk masa giling, para pimpinan Pabrik Gula (PG) Prajekan juga berziarah dan memohon berkah di sini.

Tempat pembakaran hioswa juga terdapat di dalam cungkup makam Kyai Mas.

“Agar produksinya lancar,” kata Wandi, warga sekitar makam.

Konon, hubungan itu sudah terjalin sejak Kyai Mas masih hidup. Tokoh tersebut sering dimintai pendapatnya untuk kemajuan pabrik gula.

Lalu siapa sebenarnya Kyai Mas atau Cekong Mas, yang makamnya demikian dikeramatkan itu? Beberapa sumber tertulis menyebut Kyai Mas adalah salah satu keturunan marga Han. Sebuah marga Tionghoa yang pada masa kolonial Belanda dikenal dengan kesuksesannya di dunia ekonomi dan politik.

“Toedjoeh Toeroenan Han Jang Penghidupannja Tersoelam Dalam Kebangsaan Indonesia”, sebuah artikel yang dimuat Majalah Bok Tok, menyebut Makam Cekong Mas di Prajekan adalah makamnya Kyai Mas Asemgiri.

Kyai Mas Asemgiri adalah putra dari Wirjoadikoesoemo. Sedangkan Wirjoadikoesoemo adalah putra Han Swie Kong, anak ke-14 dari Han Bwee Kong. Han Bwee Kong atau Han Bwee Sing adalah anak ke-5 dari Han Siong, keluarga Han pertama yang mengembara di Pulau Jawa.

Wirjoeadikoesoemo yang telah masuk Islam, bahkan sempat mendapat gelar Kyai. Dalam “The Han Family of East Java Entrepreneurship and Politics (18th – 19th Centuries)”, Claudine Salmon menulis bahwa salah satu putra Han Bwee Kong, Han Swie Kong, telah masuk Islam dan menikahi gadis Jawa. Han Swie Kong tinggal di Prajekan, dekat Situbondo.

Beberapa sumber menyebut jazad yang dikebumikan di sini adalah salah satu tokoh keturunan Marga Han.

Namun informasi berbeda diungkapkan oleh keluarga keturunan Kyai Mas. Menurut salah satu kerabat, M. Shodik Latief,  Kyai Mas bernama lengkap Kyai Mas Admari. Dia adalah putra Kyai Syarief dan Nyai Sumber Penang yang berdiam di Randu Pangger, Probolinggo.

Nyai Sumber Penang adalah putri dari Kyai Mas Tawangsari. Kyai Syarief dengan isterinya yang lain juga memiliki seorang putra bernama Kyai Suhud, yang makamnya bersebelahan dengan makam Kyai Mas.

Saat Mas Admari masih kecil, orang-tuanya meninggal dunia. Dia kemudian diasuh oleh pamannya, Kyai Mas Marsodo.

Setelah cukup dewasa, Mas Admari mengembara ke Tiongkok, mencari ilmu dan menyebarkan agama Islam yang dipelajarinya dari sang paman. Awal di negeri panda tersebut, dia menumpang pada sebuah keluarga miskin.

“Anehnya, setelah beberapa waktu Mas Admari ikut, keluarga itu berubah menjadi pedagang yang kaya,” ujar Shodik.

Merasa bahwa perubahan tersebut berkah dari Mas Admari, keluarga itu kemudian mengangkatnya sebagai anak. Beberapa waktu kemudian, Mas Admari kembali ke Randu Pangger, dan mengembara lagi ke wilayah Bondowoso, tepatnya di daerah Prajekan.

Hioswa selalu tersedia di dekat cungkup makam Cekong Mas.

Di sini dia mendirikan sebuah pesantren yang menarik banyak santri untuk berguru kepadanya. Pesantren inilah yang sekarang berkembang menjadi Madrasah Tsanawiyah (MTs) Kyai Mas. Sampai akhir hayatnya, dia berdiam dan dimakamkan di tempat ini. Menurut catatan kerabat Kyai Mas di Prajekan, Kyai Mas meninggal sekitar 1890-an.

“Bila ada yang menganggap bahwa Cekong Mas ini adalah makam orang Tionghoa, mungkin karena kisah perjalanan Kyai Mas ke Tiongkok dan pernah diangkat anak oleh penduduk sana,” kata staf pengajar di STIE Malang Kucecswara itu. HK.

1 2 3 4

Article Tags:
Article Categories:
Jejak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares