Jejak Jago Kungfu Louw Djing Tie (3-Habis); Penghormatan di “Padepokannya” yang Abadi

Written by
Hiomerah – Puluhan tahun makam Louw Djing Tie merana di puncak Gunung Manden. Mereka yang peduli kemudian memugarnya, sebagai bentuk penghormatan terhadap Sang Jago Kungfu.

Sabtu pagi enam tahun lalu, ada suasana berbeda di areal pemakaman Tionghoa yang terletak di Gunung Manden, sebuah bukit kecil di pinggiran Kota Parakan, Temanggung. Bong yang biasanya sepi, pagi itu tampak hidup oleh puluhan orang yang menggelar ritual. Sebuah upacara untuk meresmikan pemugaran makam Louw Djing Tie, seorang jago kungfu yang pernah membuat kota kecil Parakan begitu terkenal.

Dipimpin oleh rohaniwan Dhamma Amaro dari Ambarawa, upacara diisi dengan sembahyang bersama, ritual pradaksina, dan membakar kertas sembahyang. Juga ritual kirim koper yang berisi barang-barang yang ‘dibutuhkan’ Louw Djing Tie di alam keabadian. Para peserta upacara adalah warga Parakan yang peduli terhadap almarhum Louw Djing Tie, makamnya, dan Parakan sendiri.

“Karena nama Parakan itu pernah menjadi sangat terkenal oleh sepak-terjang Louw Djing Tie. Maka sebagai salah satu cara kami berterimakasih kepadanya ya dengan memperbaiki makamnya ini,” kata The Han Tong,  salah satu penggagas pemugaran.

Proses pemugaran telah dilakukan beberapa bulan sebelumnya. Berawal dari rasa keprihatinan yang amat dalam terhadap kondisi makam. Mereka yang peduli pun bergotong-royong mengumpulkan dana, ditambah sumbangan beberapa donatur, untuk memugar makam.

Dipimpin oleh rohaniwan Dhamma Amaro, upacara peresmian pemugaran makam Louw Djing Tie diisi dengan sembahyang bersama.

“Kami memugar makamnya sebagai penghormatan untuk Louw Djing Tie,” imbuh Yudhana Adhiputra, cucu dari Tjhie Yang Ien,  salah satu murid Louw Djieng Tie.

Saat itu makam yang terletak di puncak bukit dalam kondisi rusak parah. Bangunan bongnya hancur dan hampir semua permukaannya tertutup oleh rimbun rerumputan. Pekongan atau altar Dewa Bumi yang lazim ada di depan makam juga hilang. Beruntung, identitas makam masih bisa dikenali lewat bongpay-nya.

Pekongan itu berfungsi untuk memohon ijin kepada Dewa Bumi sebelum bersembahyang kepada leluhur. Sekarang sudah dibangun lagi,” jelas The Han Tong, laki-laki yang akrab dipanggil Bo Dong.

Saat ini, makam Louw Djing Tie terlihat megah, persis menghadap ke arah Gunung Sumbing dan Sindoro di sebelah barat. Dari “padepokan” abadi pendekar kungfu yang berada di ketinggian sekitar 860 m dpl ini, tampak jelas pemandangan Kota Parakan. Seluruh bangunan makam dicat abu-abu, dan warna emas untuk deretan huruf kanji Tiongkok yang terpahat di bongpay-nya.

“Warna abu-abu ditetapkan dengan pwak pwee di depan makam,” lanjut Bo Dong.

Pendekar yang sering tidur dalam posisi berdiri bersandar di papan untuk memperkuat otot dan kewaspadaan itu, meninggal dunia pada 1921 dalam usia 66 tahun. Dia dimakamkan bersama tongkat dan selendang kesayangannya di Gunung Manden.

Louw Djing Tie tak memiliki keturunan meski pernah menikah dengan tiga wanita. Menurut Go Kiem Yong, ilmu Djing Tie yang mampu menyembunyikan kemaluannya saat bertarung, membuatnya mandul.

Makam Louw Djing Tie terlihat megah, menghadap ke arah Gunung Sumbing dan Sindoro di sebelah barat.

Namun Djing Tie sendiri berpikiran, itu adalah hukuman Tuhan atas kesalahan masa lalu dalam pertarungannya di Hok Ciu. Sepanjang hidupnya, Louw Djing Tie memang terus menyesali perbuatan yang dianggapnya tak kesatria itu.

Di bongpaynya, terpahat huruf kanji Tiongkok yang artinya “Dipersembahkan untuk guru Louw Djing Tie. Dibangun oleh semua anak murid. Meninggal pada tahun kesembilan kemerdekaan Tiongkok”.

“Dulu makamnya berada di kaki bukit, kemudian pada 1940-an dipindahkan ke puncak bukit oleh murid-muridnya,” pungkas Bo Dong. HK

1 2

Article Tags:
Article Categories:
Jejak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares