Jejak Jago Kungfu Louw Djing Tie (2); Pendekar Sakti yang Rendah Hati

Written by
HiomerahSebuah kesalahan dalam pertarungan memaksa Louw Djing Tie pergi ke Pulau Jawa. Dikenal rendah hati, tak satu pun jago-jago kungfu pada masanya sanggup mengalahkannya.

Suatu ketika pemerintah setempat mengadakan seleksi guru kungfu untuk dijadikan pelatih tentara. Louw Djing Tie bersama adik seperguruannya, Lie Wan turut serta. Lie Wan mendapat giliran menantang seorang guru kungfu dari Shantung yang telah mengalahkan lima orang lawan.

Pertarungan dua pendekar ini ternyata berjalan seru, hingga suatu saat Lie Wan terdesak dan mendapat serangan berbahaya. Tidak mau saudara seperguruannya celaka, Djing Tie naik ke atas panggung dan menendang bagian vital si guru kungfu hingga mengalami cedera fatal.

Sadar akan kesalahannya yang  melanggar hukum, Djing Tie bersama Lie Wan segera melarikan diri. Lie Wan menetap di Amoy dan menjadi seorang tabib, sementara Djing Tie pergi sampai ke Singapura. Di sini, Djing Tie tinggal di sebuah toko obat dan mengajar kungfu pada para pegawai toko.

Namun hanya beberapa bulan tinggal di negeri singa tersebut, dia memutuskan untuk pergi ke Jawa. Tiba di Batavia, dia mencoba menyambung hidup dengan berdagang. Merasa kurang berhasil, kemudian ia pindah ke Semarang, pindah lagi ke Kendal.

Di kota kecil ini Djing Tie berjualan ikan asin di pasar. Sering pula dia mengobati orang salah urat dan luka terpukul yang membuatnya mulai dikenal orang.

Bah Suthur (duduk tengah) salah satu murid Louw Djing Tie di Parakan bersama para murid-muridnya.

Untuk mencari penghidupan yang lebih baik, dari Kendal dia pindah lagi ke Ambarawa. Di kota kecil yang sekarang menjadi bagian wilayah Kabupaten Semarang ini, Louw Djing Tie membuka perguruan kungfu secara diam-diam. Larangan pemerintah Kolonial Belanda terhadap ilmu bela diri, tak memungkinnya membuka perguruan secara terbuka.

Di Ambarawa, Djing Tie sempat memberikan ‘pelajaran’ kepada dua orang serdadu mabuk yang mengobrak-abrik sebuah toko obat tempat biasanya dia bersantai. Belasan serdadu yang ingin menuntut balas atas kekalahan temannya pun berhasil dia kalahkan dengan tangan kosong.

Dikagumi Lawan

Kehebatan Louw Djing Tie juga terjadi saat dia tinggal di Semarang. Be Khang Pien, seorang pendekar yang bekerja sebagai penjaga keamanan di kediaman Kapiten Be Ing Tjoe, menantangnya. Dengan terpaksa, Djing Tie menerima tantangan itu dengan pertarungan yang disaksikan sejumlah orang.

Beberapa kali, Djing Tie mempunyai kesempatan untuk menjatuhkan lawan, tapi tak dilakukannya. Be Khang Pien sadar bila lawannya bukan orang sembarangan dan sangat rendah hati. Setelah pertarungan ini dua pendekar menjalin persahabatan.

Di Semarang pula, dengan kemampuan ilmu sulapnya, Djing Tie pernah menyelamatkan putri seorang tukang mie dari siasat licik Wan Tjok Djwan, hartawan yang tinggal di Pedamaran.

Dari Ambarawa, Djing Tie pindah ke Wonosobo, dengan tetap menumpang tinggal di rumah kenalan-kenalannya. Saat tinggal di kota berhawa dingin ini, Djing Tie sempat akan mengikuti sayembara bertarung dengan seekor harimau, tapi aparat keamanan keburu melarangnya.

Kota Parakan yang tak begitu jauh dari Wonosobo, kemudian menjadi tempat tinggalnya yang terakhir. Seperti saat di Semarang, seorang guru kungfu di kota ini pernah pula menguji kehebatannya. The Soei, guru kungfu tersebut, dikenal sangat kuat, memiliki tubuh tinggi besar, dan tenaga dalam yang hebat.

Djing Tie bersedia melakukan pertandingan dengannya, dengan menggunakan kuas yang ujungnya diberi tinta. Mereka sepakat tidak menggunakan senjata tajam untuk menghindarkan diri dari cedera.

Kedua jago kungfu tersebut saling menyerang dengan sangat cepat, tusuk menusuk secara bergantian. Kemudian Djing Tie mulai dapat mendesak The Soei, beberapa kali ujung kuasnya berhasil mengenai daerah berbahaya di tubuh The Soei.

Halaman luas rumah yang pernah menjadi padepokan Perguruan Garuda Mas.

Tetapi karena Djing Tie ingin menjaga harga diri The Soei, dia tidak membuat totolan tinta di tubuh musuhnya itu. Justru dengan sengaja Djing Tie mengalah dengan membiarkan The Soei menotolkan tinta ke tubuhnya.

Soei mengetahui kelihaian ilmu kungfu Djing Tie dan menjadi kagum terhadap kerendahan hatinya. Pertandingan dinyatakan imbang, namun The Soei yang mengetahui keadaan sesungguhnya menjadi sangat hormat pada kehebatan Louw Djing Tie.

Garuda Mas

Di Parakan, dia membuka perguruan Garuda Mas, yang segera saja menarik banyak orang untuk menjadi muridnya. Salah satu muridnya adalah Hoo Tik Tjaij alias Hoo Liep Poen, anak dari Hoo Tiang Bie, pedagang tembakau yang memberinya tempat tinggal.

Hoo Tik Tjaij yang juga dikenal dengan sebutan Bah Suthur, memiliki beberapa anak di antaranya Hoo Kiong Nio dan Hoo Han Bien. Go Kiem Yong tak lain adalah putra dari Hoo Kiong Nio hasil pernikahannya dengan Go Ping Koei.

Sepeninggal Louw Djing Tie, perguruan Garuda Mas bubar. Hoo Tik Tjaij sendiri hanya mengajarkan ilmunya kepada anak-anaknya.

Meski tak banyak, Go Kiem Yong menguasai beberapa ilmu warisan Louw Djing Tie yang dipelajarinya dari sang paman, Hoo Han Bien. Saat saya bertandang ke rumahnya, dia sempat memperagakan beberapa jurus dasar, Thai Tjo (kepalan) dan Tat Tjoen (tangan terbuka).

Foto Djing Tie dicetak pada kemasan minyak gosok, parem, dan permen yang diproduksi Jamu Garuda.

“Sedikit ilmu ini sekarang saya ajarkan kepada 3 anak laki-laki saya,” ungkap Kiem Yong.

Kiem Yong juga mewarisi ilmu penyembuhan Djing Tie, berupa usaha jamu yang dia teruskan dari pamannya. Foto Djing Tie dicetak pada  kemasan minyak gosok, parem, dan permen yang diproduksi Jamu Garuda tersebut.

“Obat-obatan ini berkhasiat mengusir pegal linu dan memar akibat benturan,” jelas almarhum saat itu. HK/Bersambung.

1 2 3

Article Categories:
Jejak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares