Jejak Jago Kungfu Louw Djing Tie (1); Perangai Keras dan Berani

Written by
Hiomerah – Menguasai kungfu dari pendekar-pendekar Shaolin, Louw Djing Tie mengembara ke beberapa kota di Pulau Jawa. Masa kecilnya diwarnai dengan perangai keras dan berani. 

Rumah besar berumur puluhan tahun di Jalan Demangan Nomer 16 Kota Parakan itu terlihat sepi. Pintu kayu berwarna biru di gerbangnya baru terbuka setelah beberapa kali diketuk. Sekitar delapan tahun lalu ketika mengunjungi rumah ini, Go Kiem Yong, sang pemilik rumah dengan ramah mempersilahkan saya masuk.

Melewati gerbang, hamparan luas halaman terpampang, sebelum sampai ke teras rumah. Di sudut kanan depan halaman tampak palang besi setinggi kurang lebih dua meter. Sebuah sansak yang terlihat ‘memar’ di sana-sini tergantung di palang tersebut. Di depan teras, berjejer enam tampah bambu, dengan benda-benda kecil persegi empat berwarna coklat ditata rapi di dalamnya.

Memasuki rumah yang tampak kuno dengan dua pilar besar di terasnya itu, pandangan mata langsung tertuju pada deretan bermacam senjata. Toya, golok, tombak, dan trisula, tersandar dan tergantung di dinding ruang depan. Ditempel di dinding tak jauh dari senjata-senjata itu, sebuah lukisan wajah seorang laki-laki tua dengan baju dan topi baret hitam.

Bermacam senjata peninggalan Louw Djing Tie masih tersimpan utuh di Parakan.

“Ya inilah Louw Djing Tie. Semua senjata-senjata itu peninggalannya,” kata Go Kiem Yong yang menurut kabar telah meninggal dunia beberapa tahun lalu.

Nama yang disebut Kiem Yong (alm) adalah pendekar kungfu pilih tanding yang pernah tinggal dan  malang melintang di dunia kunthauw Pulau Jawa. Rumah yang didiami Go Kiem Yong, pernah ditempati Louw Djing Tie kala sang pendekar menetap di kota kecil di wilayah Temanggung tersebut. Di rumah itu pula Djing Tie membuka perguruan Garuda Mas yang sangat kesohor pada masanya.

Bocah Nakal

Kisah tentang Louw Djing Tie lebih banyak bersumber pada cerita tutur. Menurut Sutrisno Murtiyoso, seorang pemerhati Pecinan Parakan, cerita tentang Djing Tie sudah berkembang ke berbagai arah.

Cerita mengenai pendekar ini pertama kali ditulis oleh Tjioe Khing Soei dengan judul “Garuda Mas dari Cabang Siauw Liem”. Berdasar buku Tjioe Khing Soei tersebut, Majalah Liberty pernah menurunkan tulisan panjang tentang sang pendekar pada 1970-an.

Djing Tie adalah seorang singkeh yang lahir pada 1855 di Kota Haiting, Propinsi Hokkian, Tiongkok. Merupakan anak nomor dua dari tiga bersaudara, sejak kecil Djing Tie sudah dikenal sebagai bocah yang nakal.

Djing Tie memiliki perangai yang keras dan berani, hampir setiap hari ia terlibat perkelahian dengan anak-anak sebayanya. Suatu hari dia bertemu dengan Thi Cing, seorang biksu yang dikenal memiliki kekuatan hebat namun suka mengemis secara paksa dan mengancam.

Lukisan foto figur Louw Djing Tie di rumah bekas perguruannya.

Mengetahui kejahatan biksu bejat itu, Djing Tie mengambil batu dan menimpuk kepala Thi Cing berulang-ulang. Marah dengan tindakan Djing Tie kecil, si biksu mengejarnya. Melarikan diri, Djing Tie masuk ke sebuah warung dan disembunyikan oleh laki-laki tua tukang masak.

Saat Thi Cing tiba, orang tua tukang masak itu mengaku sebagai kakeknya. Tidak menerima permintaan maaf si kakek tua, Thi Cing justru menyerang penolong Djing Tie ini. Namun, si kakek mendahuluinya dengan sebuah pukulan yang membuat Thi Cing terhuyung-huyung dan melarikan diri.

Berguru di Shaolin

Sejak mengalami peristiwa itu Djing Tie menjadi lebih dewasa dan mulai berlatih kungfu di salah satu perguruan di desanya. Setelah kedua orang-tuanya meninggal dunia, Djing Lian, kakaknya, mengirim Djing Tie belajar kungfu di Biara Shaolin di Songshan.

Di perguruan inilah Louw Djing Tie memperoleh banyak kepandaian bertarung dan meramu obat-obatan.                 Kemampuan kungfu Djing Tie menjadi luar-biasa, bahkan ia sanggup mengalahkan dan membunuh seekor macan.

Namun merasa masih kurang ilmunya, Djing Tie melanjutkan berguru pada Biauw Tjin, seorang bhikku di Bukit Kouwshan yang juga lulusan Shaolin. Pada guru ini, Louw Djing Tie mempelajari ilmu tenaga dalam dan tenaga luar.

Ia berlatih menggunakan benda-benda yang ada di sekitarnya menjadi senjata rahasia yang mematikan. Melempar uang dan jangka, meniup jarum dan kacang hijau hingga menancap di sasaran, sampai tipu muslihat dengan selendang.

Selama enam tahun Djing Tie berlatih kungfu di Bukit Kouwshan tersebut, hingga sang guru pergi mengembara kembali. Namun sebelum berpisah sang guru memberi saran kepada Djing Tie agar melanjutkan pelajarannya pada temannya yang bernama Kang Too Soe.

Pintu gerbang rumah yang dulu menjadi perguruan Louw Djing Tie sebelum direnovasi.

Pada guru ketiganya ini Djing Tie mempelajari ilmu menyumpit dan totok jalan darah. Selain itu Djing tie juga memperdalam teknik mengalirkan chi (tenaga murni) ke seluruh bagian tubuh, serta ilmu pengobatan yang berhubungan dengan tulang.

Tujuh tahun belajar di bawah bimbingan Suhu Kang Too Soe, Djing Tie kemudian pergi ke Kota Hok Ciu dan mendirikan perguruan di sana. Murid Djing Tie cukup banyak, salah satu yang terpandai adalah Djing Hiang yang tak lain adalah adik perempuannya. HK/Bersambung

 

1 2 3

Article Tags:
Article Categories:
Jejak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares