Jawa dan Tionghoa dalam Motif Batik Lasem

Written by
HiomerahLasem bukan hanya kelenteng dan bangunan kuno. Lasem terkenal pula dengan batiknya. Batik Lasem bahkan sangat kental dengan pengaruh budaya Tionghoa. Perpaduannya dengan budaya Jawa membentuk kekhasan pada motif serta warna yang multikultural.

Motif khas Tionghoa bisa dilihat pada gambar burung hong (phoenix), kilin, liong, ikan mas, dan ayam hutan. Ada juga motif bermacam bunga, seperti seruni, delima, peoni, magnolia, dan sakura. Ciri khas Tionghoa lainnya tersaji lewat motif-motif geometris seperti swastika, banji, bulan, awan, gunung, mata uang, atau gulungan surat.

Lazimnya budaya Tionghoa, gambar-gambar tersebut memiliki makna filsofisnya masing-masing. Motif liong atau naga misalnya merupakan lambang dari harapan-harapan mulia, serta simbolisasi perjalanan spiritualisme. Dalam tradisi Tionghoa, liong berkaitan erat dengan sumber kekuatan alam. Atau motif burung hong yang melambangkan kebajikan, prestasi, dan keabadian.

Gambar burung hong tersebut menjadi ornamen utama motif batik Lasem lokcan. Yaitu batik berbahan sutera (can) dan didominasi warna biru (lok), dengan warna latar putih atau krem. Pada perkembangannya, batik yang selalu diburu kolektor ini, banyak yang menggunakan bahan katun halus, penuh variasi warna, dan harga terjangkau.

Motif-motif Tionghoa tersebut akan menjadi motif khas batik Lasem ketika berpadu dengan motif Jawa yang umum terdapat pada batik Jogjakarta dan Solo. Sebut saja motif parang, lereng, kawung, udan liris, dan lain-lain.

Merah Khas

Warna batik Lasem yang khas dengan warna-warna cerah seperti merah, biru, soga, hijau, ungu, hitam, krem, dan putih, juga hasil dari persilangan budaya. Warna merah dalam batik Lasem adalah pengaruh dari budaya Tionghoa, warna biru berasal dari budaya Eropa. Warna soga berasal dari budaya Jawa yang diambil dari warna batik Solo. Sedangkan warna hijau berasal dari pengaruh kebudayaan Islam.

Warna merah menjadi warna paling menonjol pada batik Lasem dan menjadi ciri khasnya.  Tentang warna merahnya ini, batik Lasem memiliki cerita unik. Warna ini adalah warna merah mutlak yang hanya bisa dibuat di Lasem.

“Benar-benar merah seperti darah ayam,” kata Njo Tjoen Hian, salah seorang pengusaha batik Lasem.

Tidak diketahui pasti apa penyebabnya hingga warna merah tersebut hanya bisa dibuat di kota kecil ini. Namun sebuah penelitian yang dilakukan seorang ahli kimia dari Jepang, memperkirakan timbulnya warna khas ini disebabkan oleh air yang dipakai. Hanya tidak jelas mengandung unsur kimia apa air yang bersumber di Gunung Kajar ini.

Warna merah batik Lasem hanya bisa dibuat di Lasem.

Karena hanya bisa dibuat di Lasem, beberapa pengusaha batik dari luar daerah yang menginginkan warna ini harus membawanya dari Lasem. Biasanya mereka mengambil dalam bentuk kain blangko putih yang sudah diberi dasar warna merah tersebut. Setelah dibawa, ke Solo misalnya, baru diberi warna-warna lain sesuai corak dan motifnya.

Maka kemudian lahirlah sebuah batik yang diberinama batik ‘tiga negeri’. Sesuai namanya, batik yang dikembangkan pada masa Hindia Belanda itu mempunyai tiga warna khas yang dibuat di tiga wilayah produksi. Merah diproduksi di Lasem, biru diproduksi di Pekalongan, dan soga diproduksi di Solo. Warna biru bisa diganti dengan hijau atau ungu, sesuai selera pemesan. Tapi warna merah dan soga terdapat di semua batik ‘tiga negeri’.

Sejak Masa Cheng Ho

Batik Lasem mulai diusahakan orang-orang Tionghoa bersamaan keberadaan mereka di kota pesisir utara Jawa-Tengah itu ratusan tahun silam. Bahkan dengan keterampilan yang mereka miliki ini, mereka mudah menyatu dengan penduduk setempat. Ciri multikultural dari perpaduan budaya Jawa dan Tionghoa terjadi sejak zaman Kerajaan Majapahit.

Menurut Serat Badra Santi yang ditulis oleh Mpu Santi Badra pada 1401 Saka (1479 Masehi), perpaduan budaya tersebut berawal dari kedatangan Bi Nang Un, salah satu awak kapal armada Laksamana Cheng Ho. Ketika memutuskan menetap di daerah itu, Na Li Ni, istri Bi Nang Un, mulai membatik dengan motif burung hong, liong, seruni, banji, dan mata uang, serta mengenalkan warna merah darah ayam yang khas Tionghoa.

Motif batik Lasem yang unik ternyata segera mendapat tempat penting di dunia perdagangan. Pedagang antarpulau dengan kapal kemudian mengirim Batik Lasem ke seluruh wilayah Nusantara. Di awal abad XIX batik Lasem sudah menembus seluruh Pulau Jawa, Sumatera, Semenanjung Malaka, Bali, Sulawesi, bahkan sampai wilayah Asia Timur, Suriname, hingga Eropa.

Sejarah batik Lasem sama tuanya dengan sejarah awal mula hunian orang-orang Tionghoa di Lasem.

Namun di 1990-an, eksistensi batik Lasem berada di ambang kepunahan. Tak banyak orang di Lasem yang masih mengusahakan batik. Padahal pada masa kejayaannya, sekitar 1970-an, hampir setiap rumah di kota kecamatan yang masuk wilayah Kabupaten Rembang, Jawa-Tengah ini, berkreasi batik. Kebalikan dengan batik Pekalongan atau Solo yang justru berkembang pesat.

Penurunan terjadi terutama setelah krisis ekonomi 1997. Bila semasa jaya seorang pengusaha batik Lasem bisa mempekerjakan ratusan karyawan, belakangan tinggal puluhan saja.

“Semasa ayah saya, Njo Wat Djiang, pada 1980-an, karyawannya mencapai 100 orang lebih.” kata Njo Tjoen Hian yang memiliki nama Indonesia Sigit Witjaksono.

Melestarikan Warisan Leluhur

Proses pembuatan batik Lasem yang lama, menjadi penyebab penurunan itu. Berbeda dengan batik Solo atau Pekalongan yang satu kain dikerjakan satu orang, satu kain batik Lasem dikerjakan oleh beberapa orang. Inilah yang menjadikan lamanya waktu pembuatan.

Semakin surutnya batik Lasem juga disebabkan kurangnya minat generasi muda meneruskan usaha leluhurnya ini. Generasi muda Lasem, baik yang keturunan Tionghoa, maupun bukan, sebagian besar merantau keluar kota untuk mengembangkan usaha di bidang lain yang bagi mereka lebih menguntungkan.

“Mereka menganggap kerja mbatik adalah kerja kasar. Mereka lebih senang menjadi baby sitter atau apalah di luar kota,” jelas jebolan Fakultas Hukum Universitas Airlangga 1967 dan mantan atlet tenis meja yang pernah juara di Pekan Olah Raga Mahasiswa (POM) 1955 di Bandung ini.

Selain itu, semakin maraknya batik cetak atau cap (printing), juga membuat batik Lasem yang notabene adalah batik tulis semakin ditinggalkan. Orang lebih senang membeli batik cap yang harganya murah. Batik tulis, seperti batik Lasem, hanya diminati kalangan tertentu.

Keinginan untuk melestarikan warisan leluhur membuat batik Lasem tetap bertahan.

Untuk mengembangkan batik cap, para pengrajin terkendala masalah modal. Modal yang dibutuhkan sangat besar. Selain itu, di pasaran, batik cap mempunyai persaingan yang lebih ketat, seperti dengan batik Pekalongan yang telah membanjiri pasaran.

“Namun bila para pengrajin batik Lasem yang tersisa masih mempertahankan batik tulis, bukan karena persoalan tersebut. Keinginan untuk tetap melestarikan warisan leluhur lah yang menjadi penyebabnya,” tegas Sigit yang pernah mendapatkan piagam penghargaan dari Paguyuban Pecinta Batik Indonesia pada 29 Maret 2003. HK

 

1 2 3 4

Article Tags:
Article Categories:
Warna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares