In Memoriam Hardjo Lukito, Ketua Kelenteng Gudo yang Pemberani

Written by
HiomerahSaat menjadi Ketua Kelenteng Gudo, dia dikenal dengan keberaniannya. Ia pernah mementaskan barongsay, yang waktu itu sangat dilarang oleh Orde Baru.

Beberapa waktu lalu, saya sempat menyusuri Pantai Utara Jawa untuk meliput jejak-jejak peninggalan budaya Tionghoa. Dari Banyuwangi di ujung timur, hingga Serang di ujung barat. Saat sampai di Jakarta, beruntung saya ditemani oleh Hardjo Lukito, laki-laki asal Jombang, yang menetap di ibukota.

Dengan kendaraan pribadinya, pertama kami mengunjungi Kelenteng Da Bo Gong di Ancol. Kemudian ke tiga kelenteng yang berada di kawasan Glodok; Kelenteng Jin De Yuan, Kelenteng Toa Se Bio, dan Kelenteng Chen Shi Zu Miao.

Pak Lukito, demikian saya memanggilnya, masih bersedia menemani ketika saya mengunjungi dua kelenteng yang terletak di dekat Pasar Baru. Yaitu dua kelenteng yang beralamat di Jalan Lautze, Kelenteng Di Cang Yuan dan Kelenteng Wan Jie Si. Bahkan saya terus diantar sampai ke Vihara Avalokitesvara, yang berlokasi di Serang, Banten.

Hardjo Lukito saat mengantar penulis ke Kelenteng Da Bo Gong, Ancol.

Pemilik nama Tionghoa, Tan Lioe Kie, itu, memang orang baik. Dia mau berteman dengan siapa saja, tanpa melihat latar belakangnya. Bahkan dengan preman sekalipun, atau yang jauh di bawah umurnya, seperti saya. Asal sudah cocok, dia akan menjaga hubungan pertemanan tersebut dan loyal.

“Selama mengenal beliau, banyak nasehat bijak yang saya dapat. Mulai soal kehidupan, dagang, hingga kesuksesan. Terakhir beliau menasehati soal bisnis. Katanya kalau bisnis kopi ini serius saya tekuni, nanti akan sukses,” kata Adrian Purwoseputro, salah satu kawan Hardjo Lukito.

Hardjo Lukito lahir di Gudo, Jombang, 10 Maret 1935. Ia mengisi masa mudanya dengan menjadi pengusaha leveransir berbagai macam barang dagangan. Pada dekade 1980-an, ia dipercaya menjadi Ketua Kelenteng Hong San Kiong, Gudo.

Saat menjadi ketua kelenteng ini, dia dikenal dengan keberaniannya. Ia pernah mementaskan barongsay, padahal tak ada satu pun kelenteng yang berani mementaskannya. Maklum, waktu itu Pemerintah Orde Baru melarang segala bentuk budaya Tionghoa.

“Pak Lukito ini tokoh tangguh, punya keberanian. Saya ingat dan tahu sendiri, dia satu-satunya ketua kelenteng yang waktu itu berani mementaskan barongsay,” kata Ketua Kelenteng Hong San Kiong Gudo saat ini, Toni Harsono.

Bersama Ketua Kelenteng Gudo penerusnya, Tok Hok Lay, yang juga tokoh wayang potehi.

Menurut Toni, keberanian laki-laki yang selalu berdandan perlente itu bukan tanpa perhitungan. Paham dengan resikonya, dia memiliki cara cerdas untuk menyiasatinya. Agar pementasan berjalan lancar, dan kelenteng, termasuk dirinya, tidak mendapatkan resiko.

“Sebelumnya Pak Lukito masuk menjadi anggota AMPI (Angkatan Muda Pembaharu Indonesia, organisasi kepemudaan di bawah payung Golkar). Jadinya ya aman-aman saja,” kenang pemilik nama Tionghoa Tok Hok Lay itu.

Di Kelenteng Hong San Kiong pula, sembilan tahun lalu saya pertama bertemu dengan Pak Lukito. Saat itu, kelenteng sedang menggelar perayaan Shing Thian Yang Mulia Kongco Kong Tik Cun Ong. Salah satu acara perayaannya adalah menggelar lelang kalung. Pak Lukito salah satu umat yang berhasil memenangkan lelang.

“Lima belas juta!,” teriak Pak Lukito kala itu. Seuntai kalung emas dengan liontin bergambar sesosok dewa pun berhak menjadi miliknya.

“Nanti akan saya pakai, untuk perlindungan, agar selalu diberi keselamatan,” katanya kemudian. “Selain itu, tujuan saya ikut lelang juga agar kelenteng ini semakin hidup,” imbuhnya.

Beberapa bulan kemudian, saya bertemu lagi dengannya di Kelenteng Hok Swie Bio, Bojonegoro, yang sedang menggelar perayaan HUT ke-133. Ia tampak di depan gerbang kelenteng, duduk di atas sebuah becak bersama kerumunan ribuan orang. Lukito ingin menjadi saksi kirab kimsin terbesar yang pernah diadakan Kelenteng Hok Swie Bio.

Hardjo Lukito saat menerima kalung lelang dalam perayaan hari kesucian Kongco Kong Tik Cun Ong di Kelenteng Gudo beberapa tahun lalu.

Mengikuti kirab kelenteng, memang menjadi kegiatan yang kerap dilakukan Pak Lukito untuk mengisi hari-hari tuanya. Bukan hanya mengisi waktu, harapan untuk selalu mendapat berkah dari Kongco maupun Makco yang dikirab juga menjadi alasannya.

“Tentu berkah juga saya harapkan. Sampai sekarang saya selalu diberi karunia kesehatan dan kebahagiaan. Saya kemana-mana, masih kuat naik mobil. Dari Jakarta pun hanya diantar sopir,” katanya.

Setiap kelenteng yang pernah dipimpinnya, Kelenteng Gudo, berulangtahun, Pak Lukito selalu hadir. Bahkan di luar itu, ketika kangen dengan desa kelahirannya, ia akan datang ke Gudo. Kondisi fisiknya tak menjadi penghalang untuk menempuh perjalanan darat beratus-ratus kilometer dari Jakarta ke Jombang.

Pernah suatu ketika, kondisi rentanya tak bisa diajak kompromi. Karena terlalu capai, dia harus dirawat di RSUD Jombang. Pernah pula harus menginap beberapa hari di RS Siloam, Surabaya.

Saat menemani penulis berkunjung ke Vihara Avalokitesvara, Serang, Banten.

Bila sedang di Gudo atau sedang mengunjungi saudara-saudaranya di Surabaya, saya selalu dihubunginya untuk bertemu. Sekadar minta ditemani ngobrol atau ditemani jalan-jalan, mengunjungi kawan dan warung-warung langganannya di sekitar Gudo. Soto ayam Pak Misdi di Pare, Kediri, salah satunya.

“Dik, kamu itu jangan pernah lupa sama ibumu. Hormati ibumu. Apapun yang kamu lakukan restu ibu yang paling utama,” pesan ini yang selalu berulang-ulang dia sampaikan bila kami bertemu.

Sudah lama saya tidak bertemu dengannya. Terakhir satu tahun lalu, ketika Pak Lukito dirawat di RS Siloam, Surabaya. Meski tidak bertemu fisik, komunikasi jalan terus lewat pesan Whatshapp. Saling bersapa dan bertanya soal kabar masing-masing.

Di pesannya, beberapa kali Pak Lukito minta saya datang ke Jakarta bila pandemi ini usai. Terakhir 17 Oktober lalu. “Dik, Desember kira2 udah aman? Ke Jkt, nanti aku ajak jalan2,” begitu pesannya lewat WA.

Belum sempat saya jawab, ia sudah berkirim video-video tentang kemajuan-kemajuan di Tiongkok. Pak Lukito memang sering banget berkirim video berita-berita dari negeri leluhurnya itu.

Itulah terakhir kali Pak Lukito menyapa saya, hingga kemarin (Rabu, 4/11) sore ada lagi pesan dari WAnya. Tapi kali ini mengabarkan duka yang benar-benar mengagetkan saya. “Telah pulang ke rumah Bapa di surga papiku/engkong/om/ yang tercinta: Bpk Hardjo Lukito”.

Menurut salah satu putrinya, yang menerima telpon saya di nomor handphone Pak Lukito, ia meninggal Rabu pukul 07.10. Sebelumnya ia telah dirawat selama empat hari di RS. Mitra Keluarga Kelapa Gading. Menurut rencana, jenazahnya akan dimakamkan di Pemakaman Pondok Rangon, Jumat (6/11).

Pak Lukito pergi meninggalkan empat anak dan beberapa cucu, menyusul istrinya yang telah meninggal dunia beberapa tahun lalu. Selamat jalan, Pak. Semoga mendapat tempat terbaik dan kebahagiaan abadi di sisi Tuhan YME. Amin.  HK

1 2 3 4 5

Article Tags:
Article Categories:
Sosok

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares