Gondo Suwandono, Mengenang Lelaku Menjadi Jawa Seorang Keturunan Tionghoa

Written by
Hiomerah – Lahir dari keluarga Tionghoa, Gondo harus menjalani proses spiritual hingga menemukan jati diri sebagai seorang Jawa. Selain menemukan ‘rasa’, banyak pula pusaka yang datang padanya.

Malam tadi tiba-tiba mendapat berita mengagetkan dari seorang teman wartawan, Sunardi. Jurnalis yang biasa meliput berita komunitas Tionghoa untuk Koran Swara News ini mengabarkan bahwa Gondo Suwandono meninggal dunia. Sudah seminggu lalu, karena serangan jantung.

“Jumat (26/2/2021), masih nelpon aku, pengen ngajak makan lontong capgomeh sama sampeyan juga,” kata Sunardi lewat telpon WhatsApp.

Ingin memastikan, saya hubungi istri almarhum, Bella Falencia, via pesan WA. Benar. Suaminya telah meninggal dunia seminggu lalu, Sabtu, 27 Februari, dua hari setelah perayaan capgomeh.

“Iya, Pak. Semua kaget. Maaf saya lupa kasih kabar. Besok (Hari ini, Senin, 8/3/2021) dimakamkan,” balasnya.

Meskipun saya tahu kesehatan Pak Gondo, demikian saya biasa memanggilnya, menurun dalam beberapa tahun terakhir, kabar tersebut tetap mengagetkan. Rasanya belum lama masih ngobrol-ngobrol dengannya di rumahnya, Perumahan Gading Pantai, Surabaya. Saat Sincia lalu, saya juga masih mengiriminya ucapan Selamat Tahun Baru Imlek.

Saya pertama mengenal Pak Gondo ketika masih menjadi wartawan Majalah Liberty. Saat itu Pak Gondo menjadi narasumber saya untuk liputan rubrik orientalia. Setelahnya kami berhubungan akrab, sering bertukar pikiran tentang banyak hal, mulai spiritual hingga politik.

Suhu Yusuf Bingo Tanuwijaya (alm) yang mengenalkan saya dengannya sekitar delapan tahun lalu. Suhu fengshui ini mengenalkan Pak Gondo sebagai seorang keturunan Tionghoa yang “njawani”. Menyukai lelaku spiritual ala Jawa serta gemar mengoleksi benda pusaka sebagai wujud kecintaannya terhadap budaya Jawa.

Meski menyintai budaya Jawa, Gondo tetap hormat pada leluhurnya dengan menyimpan arca para dewa menurut kepercayaan Tionghoa.

Ketika pertama kali datang ke rumahnya, kesan pertama adalah sesuatu yang berbeda. Rumah bercat hijau, dengan bendera merah putih berkibar di salah satu sudutnya. Hampir semua ruangan berisi benda-benda kuno, berbagai senjata pusaka, hingga arca-arca dewa.

Gondo Suwandono, seorang keturunan Tionghoa yang memiliki kecintaan sangat besar pada budaya Jawa. Bukan hanya pada karya-karya seni semacam pusaka, tetapi juga filsafat dan pemikirannya. Gambar Semar atau Begawan Ismaya dan Sunan Kalijogo di dinding, menjadi lambang kecintaannya itu.

“Karena saya lahir dan besar di tanah ini. Sesungguhnya budaya Jawa adalah budaya yang sangat agung dan luhur. Negara ini, khususnya tanah Jawa, saya yakin akan bisa mencapai kejayaannya lagi bila kita bisa mengangkat kebudayaan asli tanah ini,” ucap Gondo kala itu. 

Gondo dilahirkan dengan nama Go Bing Swan pada 25 Februari 1967 dari orang tua bernama Go Hee Lien dan Tan Sioe Yin. Papanya yang kemudian berganti nama Supilin, asli kelahiran Propinsi Hokkian, Tiongkok.

Go Hee Lien datang ke Indonesia sejak umur tujuh tahun, saat Tiongkok berada dalam cengkeraman kolonial Jepang. Dia datang bersama saudaranya, Go See Lot, yang dibantu Hee Lien kemudian sukses mendirikan pabrik kopi Kapal Api.

Lewat kerja keras, Gondo yang berasal dari keluarga sederhana kemudian mendapatkan kesuksesan usaha di masa dewasanya. Berbagai usaha, termasuk jual beli bermacam plastik, membuatnya berkelimpahan materi.

Saat itu, di tengah kehidupannya yang serba berkecukupan, Gondo merasa prihatin melihat kondisi Indonesia. Dia berpikir harus ada pemimpin baru yang mumpuni untuk bisa memperbaiki carut-marutnya kondisi ekonomi, politik, maupun sosial.

Atas kehendaknya sendiri, Gondo mengkampanyekan tokoh yang didukungnya untuk menjadi pemimpin negara. Ia membuat segala macam alat kampanye, mulai poster sampai cetak kaos. Anak buahnya disebar ke seluruh Jawa, Bali, dan Madura, untuk mendistribusikannya.

Wujud kecintaannya pada budaya Jawa ia tunjukkan lewat benda-benda pusaka yang memenuhi lantai 2 rumahnya.

“Saya sendiri juga keliling Bali. Saya datangi semua, dari pasar-pasar sampai tempat-tempat keramat, membagikan poster dan kaos,” ungkapnya.

Namun usaha yang menghabiskan banyak waktu, tenaga, dan biaya itu tak sesuai yang diharapkan. Di tengah rasa kecewa itu, ia mengalami peristiwa spiritual yang membawanya ke Pantai Parangkusumo, Yogyakarta.

Ke sana ia diantar oleh KH. Ghofur, pimpinan Ponpes Sunan Drajat, Lamongan. Ia mengalami banyak kejadian aneh di sana dan sempat pula masuk Kraton Yogya.

Sejak itulah, dia merasa bahwa dirinya memiliki ‘bakat’ lain dan telah ditunjukkan jalannya. Pulang dari Yogya, ia mulai berkelana mengunjungi berbagai makam dan tempat keramat. Makam walisongo dan hampir semua tempat keramat di Jawa, Madura, Bali, dan sebagian Sumatera, dikunjunginya.

“Dari tempat-tempat itulah saya mendapatkan ‘rasa’, rasanya jadi orang Jawa, dan bagaimana mengolah ‘rasa’ itu,” ungkap ayah dari Aji Wijaya, Darmakusuma, dan Arjuna Wiwaha itu.

Meski begitu, ia tetap menghormati budaya leluhurnya. Di lantai 2 rumahnya, yang ia beri nama ‘kadewatan’, ia ‘memelihara’ beberapa dewa Tionghoa. Ada Hian Thian Siang Tee, Kwan Im Po Sat, Thian Siang Sing Bo, dan Kwan Kong.

Di lantai itu ia juga menyimpan bermacam pusaka. Di antaranya cakra manggilingan, pasopati, keris pulanggeni, keris kecil sarotomo, dan cundrik ardodedali.

Gondo menunjukkan beberapa pusaka yang dimilikinya, cakra manggilingan dan keris pulanggeni.

“Kalau batu bulan ini saya dapatkan saat ritual di sebuah pantai di Tuban,” jelas Gondo.

Sekarang, Gondo Suwandono tak lagi melakukan ritual karena telah mencapai puncaknya seminggu lalu, saat ia dipanggil pulang oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Ia akan bergabung dengan para dewa yang dipujanya setelah tubuh kasarnya kembali ke tanah di Pemakaman Tunggorono, Jombang.

Selamat jalan, Pak Gondo. Semoga mendapat tempat terbaik dan kebahagiaan abadi di sisi-Nya. Amin.  HK

1 2 3

Article Categories:
Sosok

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares