Gereja ‘Bakmi’, Saksi Awal Perintisan Kristen Tionghoa di Surabaya

Written by
Hiomerah – Karena dulu terletak di Jalan Bakmi, gereja tertua di Surabaya ini populer dengan nama Gereja Bakmi. Saksi awal perintisan Agama Kristen oleh orang-orang Tionghoa.

Pekabaran Injil dan pengembangan gereja Tionghoa di Indonesia tidak lepas dari peranan para pendatang dari Tiongkok. Mereka berkerjasama dengan Zending Methodist America dan Zending Belanda (NZV).

Di awal abad ke-19 itu, untuk memudahkan upaya penginjilan, mereka mendirikan gereja-gereja di tempat yang menjadi ‘garapannya’. Dari sekian banyak gereja yang menjadi saksi awal perintisan Agama Kristen oleh orang-orang Tionghoa adalah Gereja Kristus Tuhan (GKT), Surabaya.

Sejarah gereja yang sekarang beralamat di Jalan Samudra 49-51, Kota Surabaya, itu, bermula pada 1900-an. Saat itu, beberapa orang Kristen Tionghoa dari Tiongkok mengadakan persekutuan, yang awalnya hanya untuk memenuhi kebutuhan rohani mereka sendiri.

Lambat laun, persekutuan kecil dari rumah ke rumah itu berkembang lebih besar hingga menjadi gereja. Para perintis gereja pertama itu antara lain; Liem Kiem Hai, Hwang Ho Kie, Ching Yuk Pek, Tsang Chian Tse, dan Go Bun Tju. Pada awalnya gereja ini masih berpindah-pindah.

Bersamaan dengan itu, pada 1909, Zending Methodist America memulai penginjilan untuk orang-orang Tionghoa di Surabaya. Kerjasama pun dilakukan. Tiga tahun kemudian, ketika kegiatan ibadah banyak mengalami kemajuan, mereka menempati gedung San Chiang Kong Sie di Jalan Tjantikan.

Melihat perkembangan yang semakin besar, kemudian Rev. Harry Belson Mansell memrakarsai pengadaan gedung gereja yang tetap. Akhirnya mereka berhasil membangun sebuah gereja di Jalan Caipo atau Jalan Kopi sekarang, sebuah jalan yang berada di kawasan Pecinan Lama Surabaya.

Pada 1921, orang-orang Tionghoa Kristen di Surabaya membentuk Tiong Hoa Khie Tok Kauw Hwee (THKTKH). Gereja ini mewadahi dua jemaat; orang-orang Tionghoa totok dan Tionghoa peranakan.

Saat Zending Methodist America mengalihkan pelayanannya ke Sumatera pada 1928, THKTKH membeli gedung gereja yang ada di Jalan Caipo. Pada tahun itu juga, tepatnya 8 Februari 1928, THKTKH mendapatkan akte kelahiran.

Enam tahun kemudian, THKTKH berubah nama menjadi Tiong Hoa Khie Tok Kauw Khoe Hwee (THKTKKH) klassis Jawa-Timur. Wadah yang dalam bahasa Belanda dinamai Chineesche Christelejke Kerk Classic Oostt Java ini menjadi badan hukum yang sah pada 7 Desember 1939. Saat itu telah terbentuk 30 tim penginjilan rumah ke rumah.

Menempati gereja di Jalan Caipo, jemaat THKTKKH dibagi dalam empat kebaktian berdasar bahasa yang dipakai. Kebaktian I berbahasa Amoi (jam 09.00), Kebaktian II berbahasa Kanton (jam 12.00), Kebaktian III berbahasa Hing Hwa (jam 15.00), dan Kebaktian IV berbahasa Hok Ciu (jam 16.30).

Dikenal dengan nama Gereja Bakmi karena Jalan Samudra, lokasinya, dulu bernama Jalan Bakmi.

Pada 1952, gedung gereja direnovasi dan pintu masuknya dipindah ke Jl. Bakmi, yang sekarang menjadi Jalan Samudra.

“Inilah kenapa gereja GKT dikenal dengan nama Gereja Bakmi,” jelas Go Kee Hong, mantan jemaah Gereja Bakmi seperti dikutip Majalah LIBERTY beberapa waktu lalu.

Pada dekade tersebut, peristiwa penting dalam sejarah THKTKKH terjadi. Jemaat berbahasa Melayu memisahkan diri dan mendirikan Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jawa-Timur. Nama THKTKKH pun sepenuhnya menjadi nama gereja Tionghoa yang berbahasa Mandarin.

Peristiwa penting kembali terjadi pada 1966, paska peristiwa berdarah G-30-S. Keadaan politik yang menyudutkan segala yang berbau Tionghoa, membuat nama THKTKKH dinilai tidak sesuai lagi. Maka dalam sebuah sidang gereja-gereja di Murnajati, Lawang, Malang, nama tersebut diganti dengan Sinode Gereja Kristus Tuhan (GKT).

Pertengahan 1970an, perjalanan GKT kembali menemui ganjalan. Pada 1974, karena sebuah perbedaan pendapat, jemaat Amoi, Hin Hwa dan Hok Ciu memisahkan diri dari GKT. Mereka yang memisahkan diri kemudian bergabung dengan sinode Gereja Kristen Abdiel, karena dirasa lebih sesuai.

Pada 1976, mereka yang tergabung di Kebaktian IV, kebaktian berbahasa Hok Ciu, mengganti nama dari GKA Hok Ciu menjadi GKA Gloria. Waktu itu kebaktian masih tetap memakai gedung gereja di Jalan. Samudra, sedangkan segala kegiatan diadakan di Jl. Kapasari 38. Baru di akhir tahun, GKA Gloria berhasil membeli sebuah bangunan gereja bekas milik orang Armenia yang terletak di Jalan Pacar 11-17.

Gereja itu dijual karena semua jemaatnya telah kembali ke negara asalnya dan hanya tinggal satu keluarga yang menjalankan ibadah. Kemudian dari pusatnya yang terletak di Australia, diberi ketentuan gereja tersebut boleh dijual asal digunakan lagi sebagai gereja.

Jalan Samudra, lokasi GKT, yang terletak di kawasan Pecinan Kembang Jepun Surabaya.

Gereja di Jalan Samudra sendiri tetap berjalan seperti sediakala, meskipun Kebaktian I sudah membeli gedung baru di Jalan Kayoon 22 yang bernama GKA Trinitas. Demikian pula Kebaktian III yang sudah membeli gedung baru di Jalan Pregolan Bunder 46-48 yang diberinama GKA Elyon.

GKT Jalan Samudra sendiri sekarang menggunakan hanya bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia. Kebaktian berbahasa Mandarin itu, diselenggarakan tiap hari Minggu, jam 16.45.

“Sudah sangat sedikit yang bisa bahasa daerah, hanya bahasa Mandarin dan Indonesia yang mereka kuasai,” jelas Go Kee Hong. HK.

 

1 2 3

Article Tags:
Article Categories:
Jejak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares